Alasan Psikologi Orang Tidak Posting Foto di Media Sosial?
SwaraWarta.co.id – Ada beberapa alasan psikologi orang tidak posting foto di media sosial. Di era digital saat ini, mengunggah foto kegiatan sehari-hari seolah telah menjadi norma sosial.
Namun, pernahkah Anda memperhatikan teman yang akunnya aktif tetapi hampir tidak pernah mengunggah foto pribadi? Fenomena ini sering kali menimbulkan rasa penasaran.
Ternyata, ada berbagai alasan psikologi orang tidak posting foto di media sosial yang lebih mendalam dari sekadar “malas”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut adalah beberapa faktor psikologis utama yang mendasarinya:
Bagi sebagian orang, privasi adalah kemewahan yang mahal. Secara psikologis, individu dengan kepribadian introvert atau mereka yang memiliki batasan (boundaries) yang kuat cenderung memisahkan kehidupan nyata dengan dunia maya. Mereka merasa bahwa momen berharga tidak perlu divalidasi oleh publik untuk terasa nyata. Menjaga privasi memberikan mereka rasa kendali atas siapa saja yang boleh “masuk” ke dalam kehidupan pribadi mereka.
Media sosial sering kali menjadi ajang kompetisi estetika. Ada tekanan psikologis untuk selalu tampil sempurna, mulai dari sudut pengambilan gambar hingga filter yang digunakan. Bagi individu yang memiliki kecenderungan perfeksionis, proses kurasi ini bisa sangat melelahkan. Daripada terjebak dalam kecemasan apakah foto tersebut “cukup bagus” atau tidak, mereka memilih untuk tidak mengunggahnya sama sekali demi menjaga kesehatan mental.
Salah satu alasan psikologi orang tidak posting foto di media sosial adalah karena mereka sudah merasa cukup dengan validasi diri sendiri. Orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang stabil biasanya tidak terlalu membutuhkan “like” atau komentar dari orang lain untuk merasa bahagia atau berharga. Mereka menikmati momen saat itu juga (living in the moment) tanpa merasa perlu membuktikannya kepada dunia.
Secara psikologis, melihat unggahan orang lain sering kali memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Orang yang sadar akan dampak negatif ini mungkin memilih untuk menarik diri dari siklus “unggah dan bandingkan”. Dengan tidak memposting foto, mereka mengurangi risiko terjebak dalam kompetisi status sosial yang bisa memicu rasa rendah diri atau kecemburuan.
Kesadaran akan keamanan data juga menjadi faktor psikologis yang signifikan. Kecemasan terhadap penyalahgunaan identitas atau cyberstalking membuat seseorang lebih berhati-hati. Mereka memandang jejak digital sebagai risiko jangka panjang yang harus diminimalisir.
Keputusan untuk tetap “diam” di media sosial bukanlah tanda bahwa hidup seseorang membosankan. Sebaliknya, hal ini sering kali merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri dan upaya untuk menjaga kesehatan mental di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang serba terbuka.
SwaraWarta.co.id - Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) merupakan salah satu program bantuan sosial yang paling…
SwaraWarta.co.id – Kali ini kita akan membahas, apa yang dimaksud dengan interkoneksi antara faktor biologi,…
SwaraWarta.co.id - Di era digital saat ini, komputer dan laptop telah menjadi "nyawa" bagi produktivitas…
SwaraWarta.co.id - Di era digital saat ini, kebutuhan akan dana darurat seringkali datang tiba-tiba. Sebagai…
SwaraWarta.co.id - Pecinta Mobile Legends di tanah air saat ini tengah dilanda kekhawatiran terkait performa…
SwaraWarta.co.id - Memasuki semester genap tahun ajaran 2025/2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi…