SwaraWarta.co.id – Siapa Nidal Hasan? Nama Nidal Hasan mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi siapa sangka pria yang dulunya bertugas menyembuhkan trauma para tentara ini justru berubah menjadi dalang salah satu penembakan massal paling mematikan dalam sejarah militer Amerika Serikat. Kini, ia menjadi sorotan dunia karena eksekusinya yang kontroversial.
Nidal Malik Hasan lahir pada tahun 1970 di Arlington, Virginia, dari pasangan imigran Palestina. Ia menempuh pendidikan kedokteran dan bergabung dengan Angkatan Darat AS, membangun karier sebagai psikiater militer. Ironisnya, ia sempat bertugas di Pusat Medis Angkatan Darat Walter Reed, merawat para veteran yang menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) akibat perang di Irak dan Afghanistan.
Namun, di balik profesinya sebagai penyembuh, Hasan mulai menunjukkan tanda-tanda radikalisasi. Investigasi FBI mengungkap bahwa ia menjalin komunikasi intens melalui email dengan Anwar al-Awlaki, seorang ulama radikal yang terkait dengan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP). Dalam surat elektroniknya, Hasan bahkan meminta pembenaran agama untuk menyerang personel militer AS.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Puncaknya terjadi pada 5 November 2009. Dengan mengenakan seragam militer, Hasan masuk ke Pusat Pemrosesan Kesiapan Prajurit di Pangkalan Fort Hood, Texas. Ia melepaskan tembakan brutal ke arah tentara tak bersenjata yang sedang bersiap untuk dikirim ke luar negeri. Dalam aksinya yang berlangsung hanya beberapa menit, ia menewaskan 13 orang sampai 12 di antaranya tentara dan satu warga sipil serta melukai lebih dari 30 orang lainnya.
Hasan akhirnya dilumpuhkan oleh tembakan polisi, yang menyebabkan dirinya lumpuh dari pinggang ke bawah. Dalam persidangan militer pada tahun 2013, ia tidak membantah tuduhan dan justru menyatakan bahwa ia bertindak untuk melindungi umat Muslim dari pasukan AS. Meskipun ia dijatuhi hukuman mati, kasusnya sempat tertunda selama bertahun-tahun.
Saat ini, Nidal Hasan kembali menjadi perbincangan hangat. Presiden AS Donald Trump telah menyetujui eksekusinya dengan metode regu tembak, yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Desember mendatang. Jika terealisasi, ini akan menjadi eksekusi pertama yang dilakukan militer AS sejak tahun 1961, dan menuai pro-kontra karena rencana penyiaran langsungnya dianggap sebagai tontonan publik.
Kisah Nidal Hasan adalah pengingat kelam tentang bagaimana seseorang yang seharusnya melindungi justru berbalik menyerang. Dari seorang psikiater yang merawat tentara, ia kini menanti peluru regu tembak sebagai konsekuensi dari aksinya yang mengguncang Amerika Serikat.

















