Mengenal Tradisi Tingkeban pada Kehamilan 7 Bulan

- Redaksi

Friday, 9 February 2024 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Tradisi Tingkeban pada kehamilan ke 7 bulan
( Dok. Istimewa)

SwaraWarta.co.id – Masyarakat Sunda memiliki beragam adat tradisi Tingkeban yang dilakukan untuk menyambut atau mensyukuri kehamilan.

Tradisi Tingkeban merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu hamil memasuki masa kehamilan tujuh bulan. 

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tradisi Tingkeban ini adalah yang kedua dilakukan oleh seorang ibu hamil, setelah sebelumnya dilakukan Upacara Mengandung Empat Bulan, dan dapat dilanjutkan dengan Upacara Mengandung Sembilan Bulan. 

Tingkeban berasal dari kata dalam Bahasa Sunda, yaitu “tingkeb”, yang berarti tutup. 

Maksud dari kata Tingkeban adalah seorang ibu hamil yang mengandung selama tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari setelah persalinan.

Baca Juga :  Mengapa Hak dan Kewajiban Harus Dilaksanakan Secara Seimbang? Ini Alasannya

Dalam tradisi ini, seorang ibu hamil dilarang bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah cukup besar, untuk menghindari risiko pada ibu hamil. 

Dengan kata lain, Tingkeban mempunyai tujuan dan harapan agar ibu hamil dan bayi yang dikandungnya selamat.

Upacara Tingkeban biasanya dilakukan dengan cara pengajian yang membaca ayat suci Al-Qur’an, yaitu surat Yusuf, surat Lukman, dan juga surat Maryam. 

Kemudian terdapat pula upacara pemandian ibu hamil yang dilakukan oleh tujuh orang keluarga terdekat.

Upacara pemandian tersebut dipimpin oleh seorang paraji yang secara bergantian menggunakan tujuh lembar kain batik yang dipakai bergantian pada setiap guyuran. 

Upacara ini juga menggunakan air kembang tujuh rupa.

Baca Juga :  2 Orang Anak Tega Membunuh Ayahnya Sendiri, Ini Dia Motifnya!

Pada guyuran ketujuh, dimasukkan belut yang mengenai perut ibu hamil. Tujuannya adalah agar bayi yang dilahirkan dapat berjalan dengan lancar atau mulus seperti gerakan belut.

Kemudian, bersamaan dengan jatuhnya belut, suami dari ibu hamil membelah kelapa gading yang sebelumnya sudah digambari tokoh wayang. 

Tujuannya adalah agar orang tua beserta bayi yang dikandungnya dapat berbuat baik lahir dan batin.

Seperti halnya kelapa gading, yang memiliki warna elok dan saat dibelah memiliki air yang manis dan bersih.

Setelah ibu hamil selesai dimandikan dan dirias, ibu hamil dibawa ke tempat selanjutnya untuk melaksanakan upacara rujak kanistren. 

Rujak kanistren merupakan rujak buah yang terdiri dari tujuh macam buah-buahan.

Baca Juga :  DISIMAK! Jelaskan Mengapa Suatu Negara yang Merdeka harus menetapkan pengaturan wilayah negara?

Ibu hamil menjual rujak kanistren tersebut kepada anak-anak dan para tamu yang menghadiri upacara Tingkeban. 

Para tamu tersebut dapat membeli rujak kanistren dengan menggunakan talawengkar atau genteng yang dibentuk bundar seperti koin.

Bersamaan dengan ibu hamil yang menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan upacara pemandian, seperti air sisa dalam jajambaran, bunga, dan belut. 

Peralatan tersebut harus dibuang di jalan simpang tiga atau simpang empat.

Setelah rujak kanistren habis terjual, maka upacara Tingkeban selesai.

Berita Terkait

Bagaimana Keseluruhan Tahapan dalam Acara Pemeriksaan Biasa Mulai dari Dakwaan, Pembuktian, Hingga Putusan Hakim Mencerminkan Prinsip Due Process of Law?
Mengapa dalam Perspektif Interaksionisme Simbolis, Korupsi Dikatakan Sebagai Sebuah “Pilihan Sikap” Individu di Tengah Berbagai Pilihan yang Ada?
Apa yang Dimaksud dengan Integrasi Nasional dan Mengapa Hal Ini Penting bagi Indonesia Sebagai Negara yang Memiliki Keragaman Suku, Agama, dan Budaya?
Apa yang Menjadi Pembeda antara Digital Citizen dan Citizen Journalism? Bagaimana Karakteristik Mereka? Disimak Penjelasannya Berikut Ini!
VIRAL! Link Video Diduga Mahasiswi Poltekkes Bandung Durasi 13 Menit Tersebar di Media Sosial, Ini Fakta Aslinya yang Bikin Netizen Penasaran!
Geger! Link Video Poltekkes Bandung Durasi 13 Menit Viral di TikTok, Ini Fakta Mengejutkan di Baliknya!
Apa yang Dimaksud dengan Integrasi Nasional dan Mengapa Hal Ini Penting bagi Indonesia Sebagai Negara yang Memiliki Keberagaman Suku, Agama, dan Budaya?
Bagaimana Cermin Orang yang Memiliki Sifat Kreatif, Produktif, dan Inovatif di Era Modern? Berikut Ini Pembahasannya!

Berita Terkait

Saturday, 17 October 2026 - 09:53 WIB

Bagaimana Keseluruhan Tahapan dalam Acara Pemeriksaan Biasa Mulai dari Dakwaan, Pembuktian, Hingga Putusan Hakim Mencerminkan Prinsip Due Process of Law?

Saturday, 17 October 2026 - 06:13 WIB

Mengapa dalam Perspektif Interaksionisme Simbolis, Korupsi Dikatakan Sebagai Sebuah “Pilihan Sikap” Individu di Tengah Berbagai Pilihan yang Ada?

Friday, 16 October 2026 - 07:20 WIB

Apa yang Dimaksud dengan Integrasi Nasional dan Mengapa Hal Ini Penting bagi Indonesia Sebagai Negara yang Memiliki Keragaman Suku, Agama, dan Budaya?

Friday, 16 October 2026 - 06:08 WIB

Apa yang Menjadi Pembeda antara Digital Citizen dan Citizen Journalism? Bagaimana Karakteristik Mereka? Disimak Penjelasannya Berikut Ini!

Thursday, 15 October 2026 - 11:17 WIB

VIRAL! Link Video Diduga Mahasiswi Poltekkes Bandung Durasi 13 Menit Tersebar di Media Sosial, Ini Fakta Aslinya yang Bikin Netizen Penasaran!

Berita Terbaru