SwaraWarta.co.id – Kali ini kita akan membahas mengenai apa yang dimaksud dengan bahasa sebagai ujar atau ujaran lisan? Pernahkah Anda terpikir bagaimana manusia pertama kali berkomunikasi sebelum adanya sistem tulisan?
Dalam studi linguistik, para ahli sepakat bahwa hakikat bahasa yang paling mendasar adalah getaran udara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Memahami apa yang dimaksud dengan bahasa sebagai bunyi ujar atau ujaran lisan sangat penting untuk menyadari bahwa bahasa bukan sekadar deretan huruf di atas kertas, melainkan sebuah sistem komunikasi yang hidup dan dinamis.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa yang Dimaksud dengan Bahasa Sebagai Bunyi Ujar atau Ujaran Lisan?
Secara teknis, bahasa didefinisikan sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.
Namun, poin utama yang sering ditekankan oleh para linguis adalah bahwa bahasa pada dasarnya adalah “bunyi”.
Bunyi yang dimaksud di sini bukanlah sembarang bunyi seperti suara petir, kicauan burung, atau bunyi mesin motor. Bunyi ujar adalah suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (paru-paru, pita suara, lidah, bibir, dan langit-langit) yang memiliki makna dan diatur oleh sistem tertentu.
Jadi, ketika kita berbicara tentang bahasa sebagai ujaran lisan, kita merujuk pada media primer komunikasi manusia yang telah ada jauh sebelum aksara ditemukan.
Ciri-Ciri Utama Bunyi Ujar dalam Linguistik
Untuk lebih memahami konsep ini, kita perlu melihat beberapa karakteristik yang membedakan bunyi ujar manusia dengan bunyi-bunyi lainnya di alam:
- Memiliki Makna (Semantis): Setiap bunyi yang dihasilkan dalam sistem bahasa harus memiliki arti. Bunyi “b-u-k-u” memiliki referensi pada objek fisik tertentu.
- Sistematis: Bunyi ujar tidak keluar secara acak. Ada aturan pola (fonologi) yang mengatur bagaimana bunyi-bunyi tersebut digabungkan agar dapat dimengerti oleh komunitas penutur.
- Dihasilkan Alat Ucap: Komponen fisik manusia seperti laring dan rongga mulut berperan krusial dalam membentuk artikulasi yang presisi.
Mengapa Ujaran Lisan Lebih Utama daripada Tulisan?
Banyak orang salah kaprah menganggap bahwa tulisan adalah bentuk bahasa yang paling sempurna. Padahal, dalam ilmu bahasa, lisan adalah yang utama (primer) dan tulisan adalah turunan (sekunder). Berikut adalah alasannya:
Sejarah Evolusi Manusia
Manusia telah berbicara selama puluhan ribu tahun, sementara sistem tulisan tertua (seperti Cuneiform atau Hieroglif) baru muncul sekitar 5.000 tahun yang lalu. Secara biologis, anak-anak belajar berbicara secara alami melalui pendengaran tanpa instruksi formal, sedangkan membaca dan menulis memerlukan usaha serta pembelajaran yang disengaja.
Kelengkapan Unsur Suprasegmental
Dalam ujaran lisan, terdapat unsur yang disebut suprasegmental seperti nada, intonasi, jeda, dan tekanan suara. Unsur-unsur ini memberikan konteks emosional yang sering kali hilang dalam bahasa tulis. Sebuah kalimat “Mau ke mana?” bisa bermakna tanya biasa, kecurigaan, atau sekadar basa-basi tergantung pada intonasi suaranya.
Keberadaan Bahasa Tanpa Tulisan
Hingga saat ini, masih banyak bahasa daerah di berbagai belahan dunia yang hanya memiliki bentuk lisan tanpa sistem aksara. Meskipun tidak memiliki tulisan, masyarakat tersebut tetap bisa berkomunikasi dengan sangat kompleks. Hal ini membuktikan bahwa inti dari bahasa adalah bunyi itu sendiri.
Memahami apa yang dimaksud dengan bahasa sebagai bunyi ujar atau ujaran lisan membawa kita kembali ke akar komunikasi manusia. Bahasa adalah fenomena auditori yang menghubungkan pikiran antar individu melalui gelombang suara yang terstruktur. Dengan menghargai aspek lisan, kita lebih mampu memahami keragaman dialek, aksen, dan kekayaan budaya yang terkandung dalam setiap ucapan.

















