SwaraWarta.co.id – Melihat si kecil tiba-tiba mengeluarkan kembali susu yang baru saja diminumnya pasti bikin kamu merasa khawatir.
Fenomena yang sering disebut sebagai spit-up ini memang sangat umum terjadi pada bayi baru lahir.
Namun, sebagai orang tua, wajar banget kalau kamu langsung bertanya-tanya, kenapa bayi gumoh dan apakah hal tersebut menandakan ada masalah kesehatan yang serius pada pencernaan si kecil?
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Tenang, mari kita bedah bersama apa saja faktor pemicunya dan kapan kamu harus mulai waspada.
Memahami Kenapa Bayi Gumoh setelah Menyusu
Pada dasarnya, gumoh adalah kondisi yang normal terjadi, terutama pada bayi yang berusia di bawah 4 hingga 6 bulan.
Penyebab utama kenapa bayi gumoh adalah karena sistem pencernaan mereka yang masih dalam tahap perkembangan.
- Lambung Bayi Masih Sangat Kecil
Bayangkan lambung bayi baru lahir itu hanya sebesar biji kemiri, lalu tumbuh sebesar bola pingpong di minggu-minggu pertama. Karena kapasitasnya yang sangat terbatas, lambung si kecil akan cepat penuh jika menerima aliran susu yang terlalu banyak atau terlalu cepat.
- Katup Lambung Belum Sempurna
Antara kerongkongan dan lambung terdapat sebuah katup pembatas yang berfungsi menahan makanan agar tidak naik kembali. Nah, pada bayi, katup ini masih longgar dan belum bisa menutup dengan sempurna. Akibatnya, saat lambung penuh atau saat bayi bergerak aktif, susu bisa dengan mudah mengalir kembali ke atas.
- Udara yang Ikut Tertelan
Saat menyusu langsung (DBF) maupun menggunakan botol dot, ada kalanya udara ikut tertelan ke dalam perut si kecil. Udara yang terjebak di dalam lambung ini akan mendorong susu ke atas saat bayi mencoba mengeluarkannya dalam bentuk sendawa.
Cara Mudah Mengatasi Gumoh pada Si Kecil
Setelah tahu alasan kenapa bayi gumoh, kamu tidak perlu terlalu stres. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi frekuensi gumoh pada bayi:
- Sendawakan Bayi Setelah Menyusu: Ini adalah langkah paling ampuh. Gendong bayi dalam posisi tegak dengan dadanya menempel di pundakmu, lalu tepuk punggungnya dengan lembut sampai ia bersendawa.
- Pertahankan Posisi Tegak: Setelah menyusu, usahakan agar posisi tubuh bayi tetap tegak atau semi-tegak selama kurang lebih 20 hingga 30 menit. Jangan langsung menidurkannya secara telentang.
- Beri Susu Sedikit tapi Sering: Daripada memberikan susu dalam jumlah banyak sekaligus yang bikin lambungnya kaget, lebih baik susui si kecil dengan porsi kecil namun dengan frekuensi yang lebih sering.
- Cek Ukuran Dot: Jika kamu memberikan susu formula atau ASIP lewat botol, pastikan lubang dotnya tidak terlalu besar agar aliran susunya tidak membuat bayi tersedak dan menelan banyak udara.
Kapan Kamu Harus Mulai Waspada?
Meskipun normal, kamu harus bisa membedakan antara gumoh biasa dengan muntah yang berbahaya. Segera hubungi dokter jika gumoh si kecil disertai dengan gejala seperti:
- Cairan yang keluar berwarna hijau atau kekuningan.
- Bayi terlihat kesakitan, rewel berlebihan, atau menolak untuk menyusu.
- Berat badan bayi tidak kunjung naik atau justru mengalami penurunan.
- Cairan menyemprot dengan sangat kuat (muntah proyektil).
Selama si kecil tetap aktif, ceria, dan berat badannya naik sesuai grafik pertumbuhan, kamu tidak perlu cemas berlebihan. Nikmati setiap proses tumbuh kembangnya, ya!

















