Pendidikan

Bagaimana Strategi Pemerintahan Orde Baru Melanggengkan Kekuasaanya Selama 32 Tahun? Mari Disimak Pembahasannya!

SwaraWarta.co.id – Bagaimana strategi pemerintahan orde baru melanggengkan kekuasaannya selama 32 tahun? Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto tercatat sebagai salah satu rezim terpanjang dalam sejarah Indonesia, berkuasa selama 32 tahun (1966-1998).

Konsistensi dan durasi kekuasaan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari penerapan strategi pemerintahan Orde Baru melanggengkan kekuasaannya yang terstruktur dan masif.

Strategi yang digunakan berfokus pada stabilisasi politik yang ketat, kontrol sosial, dan dominasi pada setiap sendi kehidupan bernegara.

ADVERTISEMENT

.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiga Pilar Utama: Stabilitas Politik dan Kontrol Massa

Secara garis besar, Orde Baru membangun kekuasaannya melalui tiga pilar strategis:

  1. Dwifungsi ABRI: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) diberikan peran ganda, tidak hanya sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial politik. Ini berarti militer memiliki hak untuk menduduki jabatan sipil, mulai dari pusat hingga daerah. Dampaknya, militer menjadi instrumen utama yang mendukung dan mengamankan kebijakan-kebijakan pemerintah, sekaligus membungkam oposisi.
  2. Monoloyalitas Birokrasi: Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan Pegawai Negeri Sipil (PNS) beralih loyalitas politiknya hanya kepada Golongan Karya (Golkar), yang berfungsi sebagai mesin politik utama rezim. Dengan jalur birokrasi ini, Golkar dipastikan selalu memenangkan Pemilu, karena memiliki basis massa yang terorganisir dari seluruh aparat pemerintah.
  3. Penyederhanaan dan Kontrol Partai Politik: Untuk menghindari konflik politik multi-partai seperti di masa Orde Lama, Orde Baru menyederhanakan jumlah partai politik menjadi hanya tiga: Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Selain itu, Pemilu dirancang sedemikian rupa untuk memastikan kemenangan Golkar. Kebebasan berpendapat dan pers juga dibatasi secara ketat untuk menjaga ‘stabilitas’ dari kritik.

Represi dan Pembangunan Ekonomi

Selain tiga pilar di atas, Orde Baru juga menggunakan instrumen represif seperti Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengawasi dan menindak para pengkritik dan lawan politik. Isu komunisme juga secara konsisten digunakan untuk mendiskreditkan pihak oposisi.

Di sisi lain, rezim ini menjual narasi Pembangunan Ekonomi dan pemerataan sebagai legitimasi kekuasaan. Fokus pada infrastruktur dan stabilitas harga (walaupun dibarengi praktik KKN) berhasil menarik simpati sebagian besar masyarakat, menjadikannya alasan pembenar mengapa kekuasaan harus terus dipegang.

Pada akhirnya, kombinasi antara kontrol militer, dominasi birokrasi melalui Golkar, pembatasan politik, dan narasi pembangunan ekonomi inilah yang menjadi strategi pemerintahan Orde Baru melanggengkan kekuasaannya selama lebih dari tiga dekade.

 

Mulyadi

"Seorang penulis profesional yang melintang hampir 3 tahun lebih di berbagai macam media ternama di Indonesia seperti, Promedia, IDN Times, Pikiran Rakyat, Duniamasa.com, Suara Kreatif, dan SwaraWarta."

Recent Posts

Bagaimana Rincian Penyaluran Dana Daerah Rp599 Triliun oleh Pemerintah? Mari Disimak!

SwaraWarta.co.id - Bagaimana rincian penyaluran dana daerah Rp599 triliun oleh pemerintah? Pemerintah melalui Kementerian Keuangan…

7 hours ago

Menurut Pendapat Anda, Mengapa Keterbatasan kosakata ini bisa menjadi hambatan besar bagi siswa dalam belajar membaca dan menulis di SD?

SwaraWarta.co.id - Siswa yang memiliki jumlah kosakata sedikit biasanya akan kesulitan memahami isi buku bacaan…

13 hours ago

Bahasa Indonesia Memiliki Kedudukan Sebagai Bahasa Indonesia dan Bahasa Negara, Jelaskan Perbedaan Keduanya dengan Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar?

SwaraWarta.co.id - Bahasa indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. jelaskan perbedaan keduanya…

13 hours ago

Geger! Seluruh Komisioner KPU-Bawaslu Diadukan ke DKPP soal “Pasal Selundupan” yang Loloskan Gibran di Pilpres 2024

SwaraWarta.co.id – Polemik pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) di Pilpres 2024 kembali…

13 hours ago

BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Ini Faktanya, Jangan Sampai Salah Info!

SwaraWarta.co.id - BLT Kesra 2026 kapan cair masih menjadi pertanyaan yang paling banyak dicari masyarakat. Kabar…

13 hours ago

Mengapa Tahap Identifikasi dalam Siklus TET Harus Didasarkan pada Data Nyata dan Bukan Sekadar Asumsi Guru? Berikut Ini Pembahasannya!

SwaraWarta.co.id - Mengapa tahap identifikasi dalam siklus tet harus didasarkan pada data nyata dan bukan…

1 day ago