SwaraWarta.co.id – Jelaskan makna hadis riwayat ibnu majah yang menyatakan bahwa setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya?
Kehadiran buah hati merupakan salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan berumah tangga. Dalam ajaran Islam, kelahiran sang buah hati disambut dengan syariat aqiqah.
Salah satu landasan utama ibadah ini tertuang dalam hadis sahih riwayat Ibnu Majah (No. 3165) dari sahabat Samurah bin Jundub RA:
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
Kata “tergadai” (murtahan) sering kali memicu pertanyaan bagi para orang tua. Apa sebenarnya maksud dari kalimat ini? Apakah aqiqah sekadar tradisi syukuran, atau ada makna spiritual yang lebih mendalam?
3 Makna Utama Hadis “Anak Tergadaikan dengan Aqiqah”
Para ulama tafsir dan hadis menjelaskan beberapa sudut pandang mengenai frasa murtahanun bi ‘aqiqatihi (tergadai dengan aqiqahnya):
- Tertahannya Syafaat Anak untuk Orang Tua
Penafsiran paling populer disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau menjelaskan bahwa jika seorang anak meninggal sewaktu kecil sebelum diaqiqahi oleh orang tuanya, maka anak tersebut tertahan untuk memberikan syafaat (pertolongan di akhirat) kepada kedua orang tuanya. Aqiqah menjadi “pembuka kunci” syafaat tersebut.
- Pelepasan dari Ikatan Setan dan Kesulitan Hidup
Menurut Ibnu al-Qayyim, makna tergadai di sini menyerupai jaminan. Kelahiran anak membawa potensi gangguan dari setan atau kesusahan hidup. Dengan menumpahkan darah hewan aqiqah atas nama Allah SWT, orang tua seolah-olah menebus anak tersebut agar tumbuh dalam kebaikan, perlindungan, dan kelapangan berkah.
- Simbol Penyerahan dan Syukur Total
Secara bahasa, gadai berarti menahan sesuatu sebagai jaminan. Aqiqah adalah bukti komitmen orang tua dalam mengembalikan hak milik anak kepada Sang Pencipta melalui ketundukan pada aturan-Nya pada hari ketujuh kelahiran.
Ketentuan Sunnah Aqiqah Sesuai Syariat
Berdasarkan petunjuk hadis, pelaksanaan aqiqah memiliki beberapa ketentuan utama:
- Waktu Utama: Disunnahkan pada hari ketujuh setelah kelahiran. Jika belum mampu, dapat dilakukan pada hari ke-14, ke-21, atau kapan saja sebelum anak masuk usia baligh.
- Jumlah Hewan:
- Anak Laki-laki: 2 ekor kambing/domba yang sepadan.
- Anak Perempuan: 1 ekor kambing/domba.
- Amalan Pendamping: Mencukur seluruh rambut kepala anak dan memberikannya nama yang baik pada hari tersebut.
Hikmah dan Manfaat Aqiqah bagi Keluarga
- Menumbuhkan Kepedulian Sosial: Daging aqiqah disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan sudah dimasak kepada tetangga, kerabat, dan fakir miskin.
- Mendatangkan Keberkahan Rezeki: Mengeluarkan harta untuk aqiqah tidak akan mengurangi rezeki, melainkan membuka pintu-pintu keberkahan baru bagi keluarga.
- Menciptakan Jiwa Dermawan: Melatih orang tua untuk tidak kikir sejak awal membesarkan anak.
Mengetahui betapa besarnya makna spiritual di balik aqiqah, hendaknya para orang tua memprioritaskan ibadah ini sesuai batas kemampuan. Aqiqah bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan bentuk ikhtiar terbaik untuk keselamatan dan kebaikan sang buah hati di dunia maupun akhirat.

















