SwaraWarta.co.id – Pendidikan budi pekerti harus selaras dengan nilai-nilai pancasila. bagaimana Ki Hadjar Dewantara menjelaskan tentang budi pekerti?
Di tengah gempuran era digital, tantangan terbesar dunia pendidikan bukan lagi sekadar mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, melainkan bagaimana menjaga moralitas bangsa.
Di sinilah pentingnya pendidikan budi pekerti yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai dasar negara, Pancasila bukan sekadar hafalan pajangan dinding kelas, melainkan kompas moral yang harus dihidupkan dalam keseharian setiap peserta didik.
Lantas, bagaimana kita memahami esensi dari karakter ini? Kita perlu menengok kembali pemikiran sang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara (KHD).
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa budi pekerti atau yang sering disebut watak dan karakter merupakan bersatunya (perpaduan harmonis) antara Pikiran, Perasaan, dan Kehendak/Kemauan, yang kemudian melahirkan Tenaga atau Perilaku.
Secara harfiah, KHD membaginya menjadi dua kata:
Bagi KHD, pendidikan budi pekerti tidak boleh dilakukan dengan paksaan (regeering). Pendidikan harus menggunakan sistem “Among” (menuntun), di mana pendidik berperan sebagai teladan (Ing Ngarsa Sung Tuladha), pembangun semangat (Ing Madya Mangun Karsa), dan pendorong kemandirian (Tut Wuri Handayani). Sekolah harus menjadi “taman” yang menyenangkan bagi tumbuh kembangnya potensi anak secara alami.
Konsep cipta, rasa, karsa, dan karya milik Ki Hadjar Dewantara ini sangat sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila. Ketika pikiran dan perasaan seorang anak dituntun dengan benar, mereka akan melahirkan tindakan yang mencerminkan lima sila Pancasila:
Pendidikan budi pekerti bukanlah mata pelajaran hafalan yang diuji di atas kertas. Menyelaraskan budi pekerti dengan Pancasila berarti melatih anak untuk murni berpendirian, peka secara sosial, dan merdeka secara batin.
Dengan meneladani konsep Ki Hadjar Dewantara, kita sedang menyiapkan generasi emas yang cerdas akalnya, sekaligus mulia perilakunya.
SwaraWarta.co.id - Siswa yang memiliki jumlah kosakata sedikit biasanya akan kesulitan memahami isi buku bacaan…
SwaraWarta.co.id - Bahasa indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. jelaskan perbedaan keduanya…
SwaraWarta.co.id – Polemik pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) di Pilpres 2024 kembali…
SwaraWarta.co.id - BLT Kesra 2026 kapan cair masih menjadi pertanyaan yang paling banyak dicari masyarakat. Kabar…
SwaraWarta.co.id - Mengapa tahap identifikasi dalam siklus tet harus didasarkan pada data nyata dan bukan…
SwaraWarta.co.id - Striker Timnas Indonesia, Ole Romeny, baru saja mengukir sejarah bersama skuad Garuda dengan…