Mengapa Seorang Mukmin Harus Bersegera dalam Berlomba-lomba dalam Kebaikan dan Beretos Kerja? Berikut ini Penjelasannya!

- Redaksi

Monday, 29 September 2025 - 10:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengapa Seorang Mukmin Harus Bersegera dalam Berlomba-lomba dalam Kebaikan dan Beretos Kerja

Mengapa Seorang Mukmin Harus Bersegera dalam Berlomba-lomba dalam Kebaikan dan Beretos Kerja

SwaraWarta.co.id – Mengapa seorang mukmin harus bersegera dalam berlomba-lomba dalam kebaikan dan beretos kerja?

Seorang mukmin sejati tidak pernah berleha-leha dalam hidup. Ia didorong oleh perintah ilahi untuk senantiasa bersegera dalam berlomba-lomba dalam kebaikan atau yang dikenal dengan istilah Fastabiqul Khairat.

Perintah ini bukan sekadar anjuran, tetapi merupakan inti dari jalan menuju kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantas, mengapa sikap bersegera dan beretos kerja tinggi menjadi begitu krusial bagi setiap muslim?

  1. Menanggapi Perintah Langsung dari Allah SWT

Alasan fundamental seorang mukmin harus bersegera adalah karena ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, misalnya pada Surah Al-Baqarah ayat 148, Allah berfirman yang artinya, “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” Ayat ini memberikan penekanan bahwa hidup adalah arena kompetisi positif.

Baca Juga :  Shalat Ied Jam Berapa? Panduan Waktu dan Tata Cara Pelaksanaannya

Kompetisi ini bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk berpacu dalam ketaatan dan amal saleh. Bersegera adalah bentuk kepatuhan dan respons cepat terhadap panggilan Tuhannya.

  1. Keterbatasan dan Ketidakpastian Waktu Hidup

Kehidupan di dunia ini singkat dan penuh ketidakpastian. Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin hari esok. Kematian bisa datang kapan saja tanpa permisi. Nabi Muhammad SAW berpesan untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati.

Sikap bersegera adalah cara terbaik untuk memaksimalkan setiap detik waktu luang dan kesehatan yang diberikan. Menunda kebaikan sama dengan mengambil risiko kehilangan kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi. Oleh karena itu, mukmin didorong untuk segera beramal, sebelum datangnya fitnah (ujian) yang membuat hati berpaling dari kebaikan.

  1. Etos Kerja sebagai Bagian dari Ibadah

Etos kerja dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga merupakan bagian integral dari ibadah (amal saleh). Etos kerja tinggi mencerminkan kesungguhan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Mukmin yang memiliki etos kerja baik akan berusaha memberikan yang terbaik, baik dalam pekerjaan mencari nafkah, mendidik keluarga, maupun menjalankan tugas sosial.

Baca Juga :  Jelaskan Bagaimana Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Pembentukan Moral Seseorang? Silahkan Berikan Contoh Bagaimana Nilai-nilai Moral Bisa Ditanamkan Sejak Dini!

Kerja keras yang dilandasi niat ikhlas akan mendatangkan pahala dan keberkahan. Rasulullah SAW bahkan bersabda bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada makanan hasil usaha tangan sendiri. Etos kerja inilah yang menjamin bahwa amal kebaikan yang dilakukan memiliki kualitas dan dampak yang maksimal, serta menjadikan seseorang pribadi yang mandiri dan bermanfaat bagi umat.

  1. Meraih Ampunan dan Surga Tertinggi

Tujuan akhir dari Fastabiqul Khairat adalah meraih ampunan (maghfirah) dan Surga (Jannah) Allah SWT yang luasnya seluas langit dan bumi. Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah tiket percepatan menuju balasan yang mulia ini. Dengan bersegera dan beretos kerja dalam amal saleh—mulai dari salat, puasa, sedekah, hingga tolong-menolong seorang mukmin secara aktif mempersiapkan bekal terbaiknya.

Baca Juga :  Cara Menjaga Peninggalan Sejarah Agar Tak Punah Ditelan Zaman

Sikap bersegera juga menjadi indikasi ketulusan dan kekuatan iman. Ia membuktikan bahwa seorang hamba tidak terhalang oleh godaan duniawi, melainkan fokus pada investasi terbaiknya: akhirat.

Dengan menyadari singkatnya waktu dan besarnya balasan, setiap mukmin harus menjadikan bersegera dalam kebaikan dan beretos kerja sebagai gaya hidup, memastikan bahwa setiap hari berlalu dengan produktif dan penuh makna di mata-Nya.

 

Berita Terkait

Mengenal Istilah Shemale: Definisi, Asal-Usul, dan Konteks Penggunaannya
Cara Cek Hasil Seleksi Administrasi Beasiswa LPDP 2026 Secara Online, Jangan Sampai Salah Langkah!
BAGAIMANA SOLUSI PEMERATAAN PEMBANGUNAN AGAR TIDAK MENIMBULKAN KONFLIK DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT?
5 Cara Print Info GTK 2026: Valid dan Anti Terpotong
Peluang Kerja Internasional Terbuka Lebar, Banyak Profesional Mulai dari Kampung Inggris
Mengenal Apa yang Dimaksud Masa Ihtidhar dalam Sudut Pandang Islam
Khutbah Jumat 13 Maret 2026: Keistimewaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan 1447 H
Amalan Malam Lailatul Qadar yang Besar Pahala: Simak Ibadah Utama yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan

Berita Terkait

Saturday, 14 March 2026 - 13:56 WIB

Mengenal Istilah Shemale: Definisi, Asal-Usul, dan Konteks Penggunaannya

Saturday, 14 March 2026 - 10:56 WIB

Cara Cek Hasil Seleksi Administrasi Beasiswa LPDP 2026 Secara Online, Jangan Sampai Salah Langkah!

Thursday, 12 March 2026 - 09:34 WIB

BAGAIMANA SOLUSI PEMERATAAN PEMBANGUNAN AGAR TIDAK MENIMBULKAN KONFLIK DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT?

Wednesday, 11 March 2026 - 16:12 WIB

5 Cara Print Info GTK 2026: Valid dan Anti Terpotong

Tuesday, 10 March 2026 - 13:48 WIB

Peluang Kerja Internasional Terbuka Lebar, Banyak Profesional Mulai dari Kampung Inggris

Berita Terbaru