Pendidikan

Mengapa Seorang Mukmin Harus Bersegera dalam Berlomba-lomba dalam Kebaikan dan Beretos Kerja?

SwaraWarta.co.id – Mengapa seorang mukmin harus bersegera dalam berlomba-lomba dalam kebaikan dan beretos kerja? Sebagai seorang mukmin, hidup bukanlah sekadar menjalani waktu, tetapi tentang memanfaatkan setiap detik untuk meraih ridha Allah SWT.

Konsep bersegera dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dan memiliki etos kerja yang tinggi bukan hanya sekadar anjuran, melainkan perwujudan dari keimanan yang mendalam.

Ini adalah panggilan ilahi yang tertuang jelas dalam Al-Qur’an dan Sunnah, yang menjadi pondasi bagi kehidupan yang penuh makna dan keberkahan.

ADVERTISEMENT

.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 148: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan…”.

Ayat ini menjadi landasan utama mengapa seorang muslim harus memiliki semangat kompetitif yang positif. Berlomba bukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk mengalahkan versi terlemah diri sendiri dan memberikan kontribusi terbaik bagi umat.

Alasan Mengapa Seorang Mukmin Harus Bersegera Berlomba-lomba dalam Kebaikan

Pertama, waktu adalah kehidupan yang tidak akan terulang. Kesempatan untuk berbuat baik bisa hilang kapan saja. Bersegera adalah bentuk syukur atas nikmat waktu dan kesehatan yang Allah berikan. Kedua, meneladani Rasulullah SAW yang dikenal sebagai pribadi yang penuh semangat dan tidak pernah menunda-nunda kebaikan. Beliau adalah uswah hasanah dalam produktivitas dan amal shaleh.

Ketiga, menjadi manfaat bagi sesama. Seorang mukmin yang rajin bekerja dan berinovasi tidak hanya memakmurkan dirinya sendiri, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, membantu orang lain, dan memajukan peradaban Islam. Etos kerja yang kuat adalah bentuk jihad ekonomi yang sangat dibutuhkan zaman now.

Keempat, meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Allah menjanjikan balasan yang berlipat bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Balasan itu bukan hanya surga di akhirat, tetapi juga kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) di dunia.

Oleh karena itu, mari kita tanamkan dalam diri semangat fastabiqul khairat. Mulailah dengan hal kecil, perbaiki niat, tingkatkan skill, dan jadilah pribadi yang produktif. Dengan demikian, kita bukan hanya menjadi hamba yang shaleh secara ritual, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat secara sosial, memancarkan cahaya kebaikan dalam setiap langkah kehidupan.

 

Mulyadi

"Seorang penulis profesional yang melintang hampir 3 tahun lebih di berbagai macam media ternama di Indonesia seperti, Promedia, IDN Times, Pikiran Rakyat, Duniamasa.com, Suara Kreatif, dan SwaraWarta."

Recent Posts

Mengapa Idlix Tidak Bisa Dibuka? Berikut Penyebab dan Solusi Mudahnya

SwaraWarta.co.id - Bagi para pecinta film dan serial, platform streaming gratis seperti Idlix sering menjadi…

35 minutes ago

Kenapa BCA Gangguan Hari Ini? Ini Penyebab, Solusi, dan Update Terbaru 25 Mei 2026

SwaraWarta.co.id - Kenapa BCA gangguan hari ini? Layanan mobile banking BCA, termasuk BCA Mobile dan…

45 minutes ago

Armocargo: Solusi Import China dan Jasa Import China yang Praktis untuk Bisnis Modern

Perkembangan perdagangan global membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk mendapatkan produk berkualitas dengan harga…

5 hours ago

Menurut Anda, Apa Itu Konflik? Jelaskan Mengenai Strategi Manajemen Konflik Berdasarkan Model Thomas-Kilmann? Mari Kita Bahas!

SwaraWarta.co.id – Disimak dengan baik-baik, apa itu konflik? Jelaskan mengenai strategi manajemen konflik berdasarkan model…

6 hours ago

Nggak Harus Punya Laptop, Ini 3 Jenis Kerja Online yang Bisa Dikerjakan Pakai HP!

SwaraWarta.co.id - Punya smartphone canggih di genggaman jangan cuma dipakai buat scrolling media sosial sampai…

6 hours ago

6 Cara Melaporkan Bansos yang Tidak Tepat Sasaran dengan Mudah

SwaraWarta.co.id - Melihat tetangga yang punya mobil baru atau rumah bertingkat tapi masih menerima bantuan…

1 day ago