Kenapa Arab Saudi Menyerang Yaman?
SwaraWarta.co.id – Kenapa Arab Saudi menyerang Yaman? Konflik Yaman memasuki babak baru yang tak terduga. Di akhir tahun 2025, aliansi yang selama satu dekade melawan kelompok Houthi justru retak dari dalam. Arab Saudi melancarkan serangan udara langsung terhadap sekutu lamanya, Uni Emirat Arab (UEA), di Pelabuhan Mukalla, Yaman timur.
Aksi ini menandai eskalasi terbuka dalam “perang di dalam perang” yang mengubah peta konflik dan mengungkap perebutan pengaruh antara dua kekuatan utama Teluk tersebut.
Ketegangan memuncak setelah pasukan Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA, menduduki institusi pemerintah dan bandara di Provinsi Hadhramaut. Provinsi kaya minyak ini adalah wilayah terbesar dan terkaya di Yaman, dengan cadangan strategis dan pelabuhan yang vital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
STC juga merebut ladang minyak Al Masilah yang sebelumnya memproduksi sekitar 85.000-90.000 barel minyak per hari, sehingga memukul pendapatan pemerintah Yaman.
Menanggapi hal ini, koalisi pimpinan Arab Saudi pada Selasa, 30 Desember 2025, menyerang dua kapal dari UEA yang membawa lebih dari 80 kendaraan tempur, senjata, dan amunisi untuk STC di Pelabuhan Mukalla.
Saudi menyatakan pengiriman senjata itu dilakukan tanpa izin komando koalisi dan merupakan ancaman bagi keamanannya.
Intervensi Arab Saudi di Yaman secara luas bermula pada Maret 2015, membentuk koalisi internasional untuk mendukung pemerintah Yaman yang sah di bawah Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Tujuannya adalah menghentikan perambahan kelompok Houthi, yang dianggap didukung oleh Iran, dan mengembalikan pemerintah yang sah.
Selama bertahun-tahun, Saudi dan UEA bekerja sama dengan peran yang tampak saling melengkapi: Saudi memimpin serangan udara dan dukungan logistik, sementara UEA terlibat lebih dalam di lapangan dengan pasukan khusus dan pembinaan milisi lokal.
Namun, kerja sama ini mulai retak pada 2019 ketika terjadi bentrokan antara pasukan STC yang didukung UEA dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi di Aden. Serangan terbaru di Mukalla adalah bukti nyata bahwa retakan itu kini telah menjadi jurang.
Eskalasi ini memiliki risiko besar. Pakar dari The Washington Institute memperingatkan bahwa ketegangan ini dapat menggagalkan gencatan senjata rapuh yang telah bertahan tiga setengah tahun di Yaman dan memperburuk hubungan dua sekutu utama AS tersebut.
Pemerintah Yaman telah membatalkan perjanjian pertahanan dengan UEA dan meminta semua pasukannya meninggalkan Yaman dalam 24 jam.
UEA merespons dengan mengumumkan penghentian kehadiran militernya, meski telah menyatakan menarik pasukan sejak 2019. Sementara itu, laporan mengindikasikan ribuan pasukan yang didukung Saudi berkumpul di dekat perbatasan, meski belum ada perintah untuk serangan darat.
Konflik Arab Saudi vs. UEA di Yaman memperlihatkan kompleksitas perang yang telah berlangsung satu dekade. Di balik narasi perlawanan terhadap Houthi, ternyata tersimpan pertarungan pengaruh, visi geopolitik, dan kepentingan ekonomi yang saling bertubrukan di antara mantan sekutu.
Jalan menuju perdamaian di Yaman kini tidak hanya harus menjembatani perbedaan dengan kelompok Houthi, tetapi juga memperbaiki retakan yang dalam di dalam kubu anti-Houthi sendiri.
SwaraWarta.co.id - Wonosobo, yang sering dijuluki sebagai "Kota di Atas Awan," tidak hanya menawarkan keindahan…
SwaraWarta.co.id - Bagi umat Muslim yang sering melakukan perjalanan jauh (musafir) atau sedang berada dalam…
SwaraWarta.co.id - Di tengah upaya pemerintah untuk terus mendukung kesejahteraan masyarakat, akses informasi mengenai bantuan…
SwaraWarta.co.id - Puisi rakyat merupakan bagian dari kesastraan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Berbeda…
SwaraWarta.co.id – Bagaimana cara menggunakan Mendeley? Menulis karya ilmiah, skripsi, atau tesis sering kali menjadi…
SwaraWarta.co.id - Program Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai Rp600.000 menjadi perhatian banyak pekerja menyambut tahun…