SwaraWarta.co.id – Kenapa Arab Saudi menyerang Yaman? Konflik Yaman memasuki babak baru yang tak terduga. Di akhir tahun 2025, aliansi yang selama satu dekade melawan kelompok Houthi justru retak dari dalam. Arab Saudi melancarkan serangan udara langsung terhadap sekutu lamanya, Uni Emirat Arab (UEA), di Pelabuhan Mukalla, Yaman timur.
Aksi ini menandai eskalasi terbuka dalam “perang di dalam perang” yang mengubah peta konflik dan mengungkap perebutan pengaruh antara dua kekuatan utama Teluk tersebut.
Kronologi Eskalasi Terkini
Ketegangan memuncak setelah pasukan Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA, menduduki institusi pemerintah dan bandara di Provinsi Hadhramaut. Provinsi kaya minyak ini adalah wilayah terbesar dan terkaya di Yaman, dengan cadangan strategis dan pelabuhan yang vital.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
STC juga merebut ladang minyak Al Masilah yang sebelumnya memproduksi sekitar 85.000-90.000 barel minyak per hari, sehingga memukul pendapatan pemerintah Yaman.
Menanggapi hal ini, koalisi pimpinan Arab Saudi pada Selasa, 30 Desember 2025, menyerang dua kapal dari UEA yang membawa lebih dari 80 kendaraan tempur, senjata, dan amunisi untuk STC di Pelabuhan Mukalla.
Saudi menyatakan pengiriman senjata itu dilakukan tanpa izin komando koalisi dan merupakan ancaman bagi keamanannya.
Alasan Geopolitik di Balik Serangan
- Pertahanan Perbatasan dan Kedaulatan: Arab Saudi dan Yaman berbagi perbatasan darat sepanjang lebih dari 1.300 km. Ekspansi kelompok separatif yang didukung pihak luar ke wilayah perbatasan seperti Hadhramaut dan Mahrah dinilai Riyadh sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya. Saudi menegaskan tidak akan ragu mengambil langkah diperlukan untuk menetralisir ancaman tersebut.
- Mempertahankan Pengaruh dan Kepentingan Ekonomi: Hadhramaut bukan hanya kaya sumber daya, tetapi juga memiliki ikatan sejarah, sosial, dan ekonomi yang dalam dengan Arab Saudi. Kehilangan kendali atas wilayah ini berarti melepaskan pengaruh strategis jangka panjang. Seorang peneliti dari Chatham House menyatakan, “Jika saya adalah Arab Saudi, saya tidak akan bisa tidur nyenyak jika kehilangan Hadhramaut“.
- Perbedaan Visi tentang Masa Depan Yaman: Retaknya koalisi bermula dari perbedaan agenda yang mendasar. UEA diketahui mendukung agenda otonomi luas bahkan kemerdekaan untuk Yaman Selatan melalui STC. Sementara itu, Arab Saudi secara konsisten menekankan komitmennya pada kesatuan wilayah Yaman dan mendukung pemerintah yang diakui internasional. Perebutan kekuasaan di antara pihak-pihak yang sebelumnya satu kubu inilah yang menjadi inti konflik baru ini.
Konteks Perang yang Berkepanjangan
Intervensi Arab Saudi di Yaman secara luas bermula pada Maret 2015, membentuk koalisi internasional untuk mendukung pemerintah Yaman yang sah di bawah Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Tujuannya adalah menghentikan perambahan kelompok Houthi, yang dianggap didukung oleh Iran, dan mengembalikan pemerintah yang sah.
Selama bertahun-tahun, Saudi dan UEA bekerja sama dengan peran yang tampak saling melengkapi: Saudi memimpin serangan udara dan dukungan logistik, sementara UEA terlibat lebih dalam di lapangan dengan pasukan khusus dan pembinaan milisi lokal.
Namun, kerja sama ini mulai retak pada 2019 ketika terjadi bentrokan antara pasukan STC yang didukung UEA dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi di Aden. Serangan terbaru di Mukalla adalah bukti nyata bahwa retakan itu kini telah menjadi jurang.
Prospek dan Dampak ke Depan
Eskalasi ini memiliki risiko besar. Pakar dari The Washington Institute memperingatkan bahwa ketegangan ini dapat menggagalkan gencatan senjata rapuh yang telah bertahan tiga setengah tahun di Yaman dan memperburuk hubungan dua sekutu utama AS tersebut.
Pemerintah Yaman telah membatalkan perjanjian pertahanan dengan UEA dan meminta semua pasukannya meninggalkan Yaman dalam 24 jam.
UEA merespons dengan mengumumkan penghentian kehadiran militernya, meski telah menyatakan menarik pasukan sejak 2019. Sementara itu, laporan mengindikasikan ribuan pasukan yang didukung Saudi berkumpul di dekat perbatasan, meski belum ada perintah untuk serangan darat.
Konflik Arab Saudi vs. UEA di Yaman memperlihatkan kompleksitas perang yang telah berlangsung satu dekade. Di balik narasi perlawanan terhadap Houthi, ternyata tersimpan pertarungan pengaruh, visi geopolitik, dan kepentingan ekonomi yang saling bertubrukan di antara mantan sekutu.
Jalan menuju perdamaian di Yaman kini tidak hanya harus menjembatani perbedaan dengan kelompok Houthi, tetapi juga memperbaiki retakan yang dalam di dalam kubu anti-Houthi sendiri.

















