SwaraWarta.co.id – Momen hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha selalu dipenuhi dengan kehangatan silaturahmi. Salah satu ucapan yang paling sering kita dengar di antara sesama Muslim adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum”.
Namun, bagi sebagian orang, mungkin masih muncul pertanyaan kecil di dalam hati: Bagaimana menjawab Taqabbalallahu minna wa minkum dengan benar dan sopan? Memahami balasan yang tepat bukan hanya soal etika, tapi juga bentuk penghormatan terhadap doa yang disampaikan oleh saudara seiman.
Bagaimana Menjawab Taqabbalallahu Minna Wa Minkum?
Secara harfiah, kalimat ini merupakan doa yang berarti: “Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan darimu.” Karena kalimat ini adalah doa, maka jawaban terbaiknya adalah doa yang serupa atau yang mengonfirmasi permohonan tersebut.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan riwayat para sahabat Nabi Muhammad SAW, cara menjawab yang paling utama adalah dengan mengucapkan kembali kalimat yang sama, yaitu:
“Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu).
Dalam tradisi Islam, membalas doa dengan doa yang setara adalah bentuk kemuliaan akhlak. Selain itu, Anda juga bisa menambahkan kalimat “Shiyamana wa shiyamakum” yang berarti “Puasa kami dan puasa kalian (diterima)”.
Variasi Jawaban Lain yang Dibolehkan
Meskipun mengulang kalimat yang sama adalah yang paling masyhur, ada beberapa variasi jawaban lain yang sering digunakan di masyarakat dan tetap mengandung nilai kebaikan:
- Minna wa minkum taqabbal ya Karim: “Dari kami dan darimu, terimalah wahai Dzat Yang Maha Pemurah.”
- Aamiin, barakallahu feek: “Aamiin, semoga Allah memberkahimu.”
- Waiyyakum: “Dan (semoga) bagi kalian juga demikian.”
Makna Mendalam di Balik Ucapan Taqabbalallahu
Mengapa kita harus tahu bagaimana menjawab Taqabbalallahu minna wa minkum dengan sungguh-sungguh? Ucapan ini bukan sekadar tradisi basa-basi saat Lebaran. Ini adalah refleksi dari rasa rendah hati seorang mukmin yang telah berjuang menjalankan ibadah (seperti puasa Ramadan) dan berharap agar semua lelahnya diterima sebagai pahala di sisi Allah SWT.
Dengan saling mendoakan, ikatan ukhuwah Islamiyah akan semakin kuat. Kita mengakui bahwa keberhasilan ibadah bukan semata-mata karena kekuatan diri sendiri, melainkan karena taufik dan izin dari Sang Pencipta.

















