SwaraWarta.co.id – Mengapa bahasa indonesia disebut sebagai bahasa yang egaliter? Bahasa Indonesia kerap dipuji sebagai salah satu bahasa paling inklusif di dunia.
Di tengah keanekaragaman suku dan budaya Nusantara, bahasa nasional kita hadir bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan juga simbol kesetaraan. Lantas, mengapa bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa yang egaliter?
Egaliter sendiri berarti bersifat merata, sederajat, atau tidak membeda-bedakan tingkatan sosial. Sifat ini melekat erat pada struktur gramatikal dan sejarah perkembangan bahasa Indonesia.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Alasan Utama Bahasa Indonesia Sangat Egaliter
Berikut adalah faktor kunci yang menjadikan bahasa pemersatu ini begitu ramah dan setara bagi siapa saja penggunanya:
- Tidak Mengenal Tingkatan Bahasa (Unggah-Ungguh)
Berbeda dengan beberapa bahasa daerah seperti bahasa Jawa atau Sunda yang memiliki tingkatan halus (krama) dan kasar (ngoko) berdasarkan status sosial—bahasa Indonesia tidak menerapkan aturan tersebut.
Kata “makan” tetaplah “makan”, baik ketika diucapkan kepada seorang teman sebaya, anak kecil, maupun pejabat tinggi. Tidak ada perubahan kata kerja yang bergantung pada hierarki sosial.
- Struktur Tata Bahasa yang Sederhana dan Dinamis
Bahasa Indonesia tidak membebankan penggunanya dengan kerumitan gramatikal yang berlebihan:
- Tanpa Gender (Jenis Kelamin): Berbeda dari bahasa Prancis atau Jerman, kata ganti seperti “dia” berlaku universal untuk pria maupun wanita.
- Tanpa Konjugasi Waktu (Tenses): Kata kerja tidak berubah bentuk saat menjelaskan masa lalu, sekarang, atau masa depan. Cukup tambahkan kata keterangannya, seperti “kemarin” atau “besok”.
- Akar Sejarah dari Bahasa Melayu Pasar
Secara historis, bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu Lingua Franca atau Melayu Pasar. Sejak ratusan tahun lalu, bahasa ini digunakan oleh para pedagang antar pulau dari pelbagai latar belakang tanpa memandang kasta atau kelas ekonomi. Karakter yang fleksibel dan terbuka ini terbawa hingga diresmikan dalam Sumpah Pemuda 1928.
- Menghancurkan Sekat Sosial dan Kasta
Sifatnya yang netral membuat bahasa Indonesia mampu menjembatani perbedaan latar belakang etnis, budaya, dan strata ekonomi. Siapa pun memiliki hak tutur yang sama tanpa rasa canggung atau takut melanggar norma tata bahasa feodal.
Bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa yang egaliter karena tidak mengenal hierarki kasta, berstruktur inklusif, serta dirancang untuk merangkul semua kalangan secara setara. Sifat inilah yang menjadikannya fondasi terkuat dalam menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia hingga saat ini.

















