SwaraWarta.co.id – Dalam khazanah dunia Islam, kita sering mendengar istilah Suni dan Syiah. Namun, bagi masyarakat awam, pertanyaan apa itu Syiah sering kali muncul dengan berbagai persepsi yang beragam. Secara bahasa, kata “Syiah” berasal dari Bahasa Arab Syī’ah yang berarti pengikut, pendukung, atau kelompok.
Secara historis dan teologis, Syiah adalah salah satu aliran atau mazhab besar dalam Islam yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah menetapkan keturunannya, dimulai dari Ali bin Abi Thalib, sebagai pemimpin umat Islam setelah beliau wafat.
Akar Sejarah dan Keyakinan Utama
Perbedaan utama antara Syiah dan Suni berawal dari peristiwa setelah wafatnya Rasulullah SAW. Jika kaum Suni meyakini bahwa kepemimpinan (kekhalifahan) ditentukan melalui musyawarah umat, kaum Syiah meyakini bahwa kepemimpinan adalah hak prerogatif ilahi yang diturunkan kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait).
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut adalah beberapa poin penting untuk memahami karakteristik Syiah:
- Konsep Imamah: Syiah meyakini adanya “Imam” yang maksum (terjaga dari dosa) sebagai penuntun spiritual dan politik umat.
- Kecintaan pada Ahlul Bait: Fokus utama ajaran Syiah adalah penghormatan yang sangat tinggi kepada Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahra, serta putra-putra mereka, Hasan dan Husain.
- Sumber Hukum: Selain Al-Qur’an dan Sunnah, Syiah juga merujuk pada hadis-hadis yang diriwayatkan melalui jalur keluarga Nabi.
Keberagaman dalam Mazhab Syiah
Penting untuk dipahami bahwa Syiah bukanlah kelompok tunggal yang monolitik. Di dalamnya terdapat beberapa cabang utama, antara lain:
- Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam): Kelompok terbesar yang mayoritas berada di Iran, Irak, dan Lebanon.
- Zaidiyah: Kelompok yang secara fikih sering dinilai paling dekat dengan Suni, banyak ditemukan di Yaman.
- Ismailiyah: Kelompok yang memiliki sejarah intelektual yang kuat di masa Fatimiyah.
Mengapa Memahami Syiah Itu Penting?
Memahami apa itu Syiah bukan sekadar belajar sejarah agama, melainkan upaya untuk membangun toleransi dan literasi di tengah keberagaman umat manusia. Dengan memahami perbedaan sudut pandang secara objektif, kita dapat menghindari misinformasi atau hoaks yang sering beredar di media sosial.
Di Indonesia sendiri, keberadaan penganut Syiah telah ada sejak lama dan turut mewarnai mozaik kebudayaan Islam Nusantara. Menghargai perbedaan adalah kunci dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.

















