SwaraWarta.co.id – Sepak bola Italia sedang berduka. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, skuad kebanggaan Negeri Pizza itu harus menelan kenyataan pahit tidak tampil di ajang paling bergengsi dunia.
Timnas Italia gagal lolos piala dunia dalam 3 kali berturut turut setelah kembali tersandung di babak kualifikasi Piala Dunia 2026.
Rekor kelam ini mengubur kejayaan masa lalu yang pernah empat kali mengangkat trofi.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Akar Masalah yang Tak Kunjung Usai
Mengapa Azzurri terus terpuruk? Pertama, Italia kehilangan generasi emas. Pensiunnya kiper legendaris Gianluigi Buffon, Andrea Pirlo, hingga Giorgio Chiellini menyisakan lubang besar yang belum tertambal. Para penerus seperti Gianluigi Donnarumma dan Nicolò Barella belum mampu membawa mental juara yang sama.
Kedua, kerasnya persaingan zona Eropa. Format kualifikasi yang ketat sering mempertemukan Italia dengan tim-tim “kuda hitam”. Kegagalan dramatis melawan Makedonia Utara di playoff 2022 dan Swedia di 2018 adalah bukti bahwa lawan tidak lagi gentar menghadapi baju biru.
Ketiga, krisis konsistensi pelatih. Rotasi taktik dari Ventura, Mancini (yang sempat membawa gelar Euro 2020), hingga Spalletti tidak pernah berjalan mulus. Mereka gagal menyeimbangkan ekspektasi tinggi dengan realitas performa lapangan.
Dampak Besar bagi Sepak Bola Italia
Fakta bahwa timnas italia gagal lolos piala dunia dalam 3 kali berturut turut bukan sekadar statistik. Ini menjadi pukulan telak bagi Serie A. Nilai jual pemain Italia menurun, daya tarik liga berkurang, dan sponsor mulai melirik negara lain. Bahkan, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) terancam kehilangan pendapatan hingga ratusan juta euro dari hak siar dan bonus partisipasi.
Dari sisi psikologis, generasi muda Italia kehilangan panutan. Anak-anak yang bermimpi membela negaranya di panggung dunia harus menunggu setidaknya hingga Piala Dunia 2030. Padahal, Italia hanya lolos sebagai juara bertahan pada 2006, dan sekarang justru absen berkepanjangan.
Meski begitu, tragedi ini bisa menjadi titik balik. FIGC mulai menggalakkan pembinaan akademi dan memberikan kepercayaan lebih pada pelatih muda. Proyek jangka panjang dengan fokus pada teknik dan mental juara sedang digodok.
Kisah kelam timnas italia gagal lolos piala dunia dalam 3 kali berturut turut harus menjadi alarm bagi seluruh ekosistem sepak bola Indonesia juga. Jangan sampai kesalahan sistemik dibiarkan. Untuk Italia, jalan menuju pemulihan masih panjang. Namun seperti kata pepatah, “setelah gelap, terbitlah terang.” Semoga Azzurri segera bangkit.

















