SwaraWarta.co.id – Kali ini kita akan mengulas soal jelaskan latar belakang pembentukan panitia sembilan? Membahas sejarah kemerdekaan Indonesia tidak akan lengkap tanpa menyinggung rumusan Pancasila.
Di balik kokohnya ideologi bangsa ini, ada peran besar dari sebuah kelompok kecil bernama Panitia Sembilan. Namun, apa sebenarnya yang melatarbelakangi pembentukan kepanitiaan ini?
Mari kita ulas balik momen krusial menjelang proklamasi 1945.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebuntuan di Sidang Pertama BPUPKI
Latar belakang utama pembentukan Panitia Sembilan adalah adanya kebuntuan (deadlock) ideologis dalam sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berlangsung pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945.
Saat itu, para tokoh bangsa berkumpul untuk merumuskan dasar negara Indonesia merdeka. Sayangnya, sidang tersebut belum berhasil mencapai kesepakatan bulat. Terjadi perbedaan pandangan yang cukup tajam antara dua kelompok utama:
- Golongan Kebangsaan (Nasionalis): Menghendaki Indonesia berdiri sebagai negara sekuler atau negara nasionalis yang memisahkan urusan agama dari urusan negara.
- Golongan Islam: Menghendaki Indonesia berdiri berdasarkan syariat Islam, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.
Memasuki Masa Reses dan Pembentukan Panitia Kecil
Ketika sidang pertama BPUPKI berakhir pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidato legendarisnya mengenai Pancasila. Meski disambut baik, konsep tersebut belum sah menjadi dasar negara. BPUPKI kemudian memasuki masa reses (istirahat) dari 2 Juni hingga 9 Juli 1945.
Untuk memanfaatkan waktu reses ini, dibentuklah Panitia Kecil (Panitia Delapan) yang bertugas mengumpulkan usulan dari para anggota. Namun, karena komposisinya dinilai belum seimbang untuk meredam perdebatan ideologi yang sensitif, Ir. Soekarno berinisiatif membentuk tim yang lebih dinamis dan representatif.
Dari sinilah Panitia Sembilan resmi dibentuk pada 22 Juni 1945.
Komposisi yang Adil dan Tugas Utama
Panitia Sembilan sengaja dibentuk dengan komposisi yang sangat adil, yaitu mempertemukan 4 tokoh dari golongan Islam dan 5 tokoh dari golongan nasionalis (termasuk Soekarno sebagai ketua).
Tugas Utama Panitia Sembilan: Menyelaraskan berbagai usulan, menjembatani perbedaan pendapat antara golongan nasionalis dan Islam, serta menyusun naskah rancangan pembukaan undang-undang dasar negara.
Kerja keras melatarbelakangi lahirnya Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada 22 Juni 1945, yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Pembukaan UUD 1945.
Latar belakang pembentukan Panitia Sembilan adalah wujud dari kedewasaan politik para pendiri bangsa. Mereka sadar bahwa ego kelompok harus dikesampingkan demi melahirkan satu kesepakatan bersama (kalimatun sawa). Tanpa adanya Panitia Sembilan, persatuan Indonesia mungkin akan sulit terwujud di masa-masa awal kemerdekaan.

















