SwaraWarta.co.id – Kabar kurang sedap datang dari emiten milik pasangan selebriti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).
Saham RANS dilaporkan anjlok tajam hingga berada jauh di bawah harga penawaran umum perdana (IPO).
Pada perdagangan Rabu (28/10/2026), saham RANS ditutup di level Rp117 per saham, terkoreksi 5,65% dalam sehari. Posisi ini merosot sekitar 31,18% dibandingkan harga IPO yang ditetapkan sebesar Rp170 per saham.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Penurunan ini menjadi sorotan publik dan pelaku pasar. Padahal, saat pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli 2026, saham RANS sempat melonjak ke level Rp228 per saham dan menyentuh batas auto reject atas (ARA). Kini, harga saham tersebut bahkan sempat melemah ke level Rp111 pada sesi I 29 Oktober 2026.
Penyebab Saham RANS Anjlok
Ada beberapa faktor yang membuat saham RANS Entertaiment anjlok. Pertama, kinerja keuangan perusahaan yang menurun. Sepanjang tahun 2025, RANS membukukan pendapatan sebesar Rp353,38 miliar, turun 13,91% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp410,50 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh strategi transformasi bisnis dan diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan pada figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Meski demikian, pasar tampaknya merespons negatif terhadap penurunan pendapatan tersebut.
Kedua, valuasi saham RANS dinilai masih premium dibandingkan emiten sejenis. Analis menilai koreksi harga saham merupakan bagian dari proses pasar untuk mencari harga yang wajar. Selain itu, aksi jual besar-besaran juga terjadi. Tercatat volume penjualan mencapai 1,04 juta lot, jauh melampaui pembelian yang hanya 373 ribu lot. BRI Danareksa Sekuritas pun merekomendasikan investor untuk menjual saham RANS setelah menyentuh auto reject bawah (ARB).
Dampak dan Prospek ke Depan
Dengan kapitalisasi pasar yang kini berada di kisaran Rp1,48 triliun, tantangan bagi manajemen RANS adalah membuktikan bahwa strategi diversifikasi bisnis dapat mendorong kinerja keuangan yang lebih baik ke depannya. Meski begitu, penurunan tajam ini menjadi pengingat bagi investor bahwa saham IPO, terutama yang erat kaitannya dengan figur publik, memiliki risiko volatilitas yang tinggi.

















