Tfd6BUC8TSd7TSMoTpW9GUr0BA==

Kisah Nabi Ishaq, dan Keterhubungannya dengan Nabi Ibrahim, Esau, dan Nabi Yaqub

Kisah Nabi Ishaq
Kisah Nabi Ishaq - SwaraWarta.co.id (Sumber: Pinterest)


SwaraWarta.co.id - Menurut para penerjemah Al-Quran yang dapat dipercaya, Kisah Nabi Ishaq AS tidak dijelaskan secara rinci dalam Al Quran.

Akan tetapi, mereka menceritakan bahwa saat Nabi Ibrahim AS merasa hidupnya akan segera berakhir, ia ingin melihat Ishaq menikah.

Nabi Ibrahim tidak ingin Ishaq menikahi salah satu wanita Kanaan, yang merupakan penyembah berhala, sehingga ia mengutus seorang hamba yang dapat dipercaya ke Haran di Irak untuk memilih calon istri bagi Ishaq.

Pilihan hamba tersebut jatuh pada Ribka putri Betuel, anak Nahor (yang merupakan saudara Ibrahim).

Nabi Ishaq kemudian menikahinya, dan ia melahirkan sepasang anak kembar, Esau dan Yakub.

Nabi Ibrahim, sebagai ayah, tentu saja ingin memastikan bahwa Ishaq menikahi seseorang yang beriman kepada Allah, sehingga ia mengirimkan hamba yang dapat dipercaya untuk mencari calon istri yang sesuai.

Pemilihan Ribka sebagai istri Ishaq menunjukkan pentingnya keluarga dan akar keimanan dalam memilih pasangan hidup.

Keputusan ini juga menunjukkan rasa tanggung jawab Ibrahim sebagai seorang ayah yang peduli terhadap kepercayaan dan nilai-nilai agama keluarganya.

Anak-anak Ishaq, Esau dan Yakub, kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah agama dan bangsa Yahudi.

Mereka menghadapi berbagai ujian dan cobaan, tetapi juga memperoleh berkah dan janji dari Allah.

BACA JUGA: Kisah Nabi Ilyasa: Sejarah, Mukjizat, serta Perjuangannya dalam Menegakkan Tauhid Kepada Allah SWT

Kisah hidup mereka memperlihatkan kompleksitas hubungan keluarga dan pentingnya kesetiaan kepada Allah dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Bukan hanya itu, tentunya kisah ini juga menjelaskan secara gamblang akan pentingnya ketaatan dan keikhlasan akan perintah Allah khususnya yang berhubungan dengan pencarian atau memilih pasangan hidup yang baik di dalam Islam.

Ibrahim mengutus hamba yang dipercayanya untuk memastikan bahwa Ishaq menikahi seseorang yang memeluk keyakinan yang sama, sehingga keluarga mereka dapat terus meneruskan warisan keimanan mereka.

Nabi Ishaq AS
Kisah Nabi Ishaq - SwaraWarta.co.id (Sumber: Pinterest)



Ini menjadi pelajaran bagi umat manusia tentang pentingnya menjaga keimanan dan nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam memilih pasangan hidup.

Ketika kedua saudara itu tumbuh dewasa, perasaan tidak menyenangkan mulai berkembang di antara mereka.

Esau tidak menyukai kenyataan bahwa Yakub lebih difavoritkan oleh ayahnya dan oleh Allah dengan kenabian.

Perasaan tidak puas ini menjadi begitu serius sehingga Esau mengancam akan membunuh saudaranya. Takut akan nyawanya, Yakub melarikan diri dari negeri itu.

Konflik antara Esau dan Yakub menggambarkan kompleksitas hubungan antara saudara kandung, terutama ketika ada perasaan cemburu dan ketidakpuasan.

Esau merasa tidak adil karena Yakub lebih diutamakan oleh ayah mereka, dan rasa tidak puas ini berkembang menjadi kebencian yang mengancam nyawa saudaranya.

Keputusan Yakub untuk melarikan diri dari negara itu menunjukkan bahwa ia memilih untuk menjaga nyawanya daripada menghadapi bahaya yang ditimbulkan oleh saudaranya sendiri.

BACA JUGA: Bagaimana Sikap Nabi Yusuf Ketika Saudara-saudara dan Ayahnya Datang ke Istana?

Selain itu, kisah ini juga menyoroti betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Yakub sebagai seseorang yang diancam oleh saudaranya sendiri.

Perginya Yakub menunjukkan bahwa terkadang dalam situasi konflik yang sangat berbahaya, pilihan terbaik adalah meninggalkan tempat yang tidak aman untuk melindungi diri sendiri.

Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya mengatasi konflik dalam keluarga dengan cara yang damai dan memperhatikan perasaan dan kebutuhan semua pihak terlibat.

Selain itu, juga penting untuk memahami bahwa konflik dapat muncul bahkan di antara saudara kandung, dan penting untuk menemukan cara-cara yang konstruktif untuk menyelesaikannya tanpa merugikan pihak lain.

Menurut cerita dari "Ahlul Kitab", dikatakan bahwa ketika Ishaq berusia empat puluh tahun, ia menikahi Ribka Binti Betuel, semasa ayahnya masih hidup.

Mereka mengatakan bahwa Ribka mandul, sehingga Ishaq berdoa kepada Allah, dan kemudian Ribka hamil.

Ribka melahirkan sepasang anak kembar. Anak pertama diberi nama Esau, yang oleh orang Arab disebut Al-Eis.

Dia menjadi nenek moyang bangsa Romawi. Anak kedua diberi nama Yakub, yang artinya Israel (milik bangsa Israel).

Kisah versi "Ahlul Kitab" memberikan sudut pandang yang sedikit berbeda tentang kelahiran Esau dan Yakub.

Nabi Ishaq AS
Kisah Nabi Ishaq - SwaraWarta.co.id (Sumber: Viva)



Mereka menekankan bahwa Ribka awalnya mengalami kesulitan untuk hamil, tetapi setelah doa Ishaq kepada Allah, mereka diberi anugerah anak kembar.

BACA JUGA: Keutamaan Doa Nabi Yunus Bila Sering Diamalkan

Selain itu, kisah ini juga menyoroti peran doa dalam keyakinan dan praktik keagamaan.

Selain itu, nama-nama yang diberikan kepada kedua anak ini memiliki makna yang mendalam dalam tradisi agama mereka.

Esau, yang juga dikenal sebagai Al-Eis, diyakini menjadi nenek moyang bangsa Romawi, mengilustrasikan pentingnya garis keturunan dalam tradisi sejarah dan agama mereka.

Sedangkan Yakub, yang artinya Israel, menunjukkan hubungan dekat antara nama tersebut dengan identitas bangsa Israel dalam tradisi agama Yahudi.

Meskipun ada variasi dalam cerita ini, kisah kelahiran Esau dan Yakub tetap menjadi bagian penting dari warisan keagamaan yang dihormati oleh berbagai tradisi agama di seluruh dunia.

Yakub mendatangi ayahnya, Ishaq, dan tinggal bersamanya di desa Hebron di tanah Kanaan tempat Abraham pernah tinggal.

Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Nabi Ishaq AS jatuh sakit dan tidak berselang lama akhirnya harus meninggal dunia pada usia seratus delapan puluh tahun, dan tentunya kabar ini membuat keluarganya sedih.

Anak-anaknya, Esau dan Yakub, menguburkannya bersama dengan ayahnya Ibrahim Al Khalil di sebuah gua yang telah dibelinya.

Berdasarkan fakra sejarah yang tercatat, bahwa bahwa Nabi Ibrahim meninggal pada usia seratus tujuh puluh lima tahun, lebih muda dibanding meninggalnya Nabi Ishaq.

Kematian Ishaq menandai akhir dari generasi besar dalam sejarah keluarga Ibrahim.

BACA JUGA: Doanya Nabi Yunus yang Terkenal Sangat Mustajab Apabila Orang Mengamalkannya

Dia meninggalkan warisan besar kepada kedua putranya, Esau dan Yakub, yang kemudian melanjutkan garis keturunan mereka masing-masing.

Pemakaman Ishak bersama dengan Ibrahim di gua yang dibeli oleh Ibrahim sendiri menunjukkan pentingnya hubungan keluarga dan penghormatan terhadap leluhur dalam tradisi agama mereka.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa meskipun generasi telah berubah, ikatan keluarga tetap kuat dan penting dalam kehidupan mereka.

Meskipun Esau dan Yakub memiliki perbedaan dan konflik dalam hidup mereka, mereka tetap bersatu dalam momen kematian ayah mereka untuk memberikan penghormatan terakhir dan memakamkannya bersama-sama.

Bukan hanya itu, pemakaman secara bersama dengan Ibrahim juga mencerminkan sebuah kesinambungan yang berarti dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam prosesi perjalanan spiritual keluarga besar Nabi Ibrahim.

Gua tempat mereka dimakamkan menjadi simbol keabadian dan keturunan yang diberkati oleh Allah dalam tradisi agama mereka.

Kesetiaan dan pengabdian mereka kepada Tuhan dan warisan leluhur mereka menjadi landasan penting dalam kehidupan mereka, bahkan setelah kematian Ishaq.***


Dapatkan update berita Indonesia terkini 2024 serta info viral terbaru hari ini dari situs SwaraWarta.co.id melalui platform Google News.