Akhir-akhir Ini Banyak Kritikan Dengan Menggunakan Bahasa Yang Kasar dan Mencaci Yang Dikritik Dengan Dalih Demokrasi

- Redaksi

Thursday, 5 December 2024 - 18:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kritik adalah bagian dari demokrasi, tetapi apakah menggunakan bahasa kasar bisa dibenarkan? Temukan pandangan lengkapnya dalam artikel ini.

Kritik adalah bagian dari demokrasi, tetapi apakah menggunakan bahasa kasar bisa dibenarkan? Temukan pandangan lengkapnya dalam artikel ini.

SwaraWarta.co.idKritikan merupakan bagian penting dalam demokrasi, sebuah sistem pemerintahan yang memberi kebebasan bagi rakyat untuk menyampaikan pendapat. Namun, akhir-akhir ini, kritik sering disampaikan dengan bahasa kasar dan caci maki, yang justru memicu perdebatan mengenai etika dalam menyampaikan kritik. Apakah kritik seperti ini dapat dibenarkan atas nama demokrasi?

Artikel ini akan membahas pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan kritik di era demokrasi, serta memberikan pandangan terkait fenomena ini.

Soal Lengkap:

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada waktu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannnya pada 17 Agustus 1945, para pendiri negara sudah memutuskan untuk menjadikan negara Indonesia merdeka sebagai negara yang menganut sistem demokrasi.

Oleh sebab itu, salah satu dasar yang terdapat di dalam Pancasila, dasar filsafat negara Indonesia adalah dasar demokrasi yang terdapat di dalam pancasila sila ke empat yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh himat kebijaksanaan dalam permusywaratan/perwakila”. Hal tersebut menunjukan bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi.

Namun, akhir-akhir ini banyak kritikan dengan menggunakan bahasa yang kasar dan mencaci yang dikritik dengan dalih demokrasi. Apakah Anda setuju dengan hal tersebut? Silahkan berikan argumen Anda dengan jelas…

Baca Juga :  Bacaan Surat Sad Ayat 54 dan Hikmahnya

Jawaban:

Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat

Sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa telah menetapkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem demokrasi. Hal ini tercermin dalam sila keempat Pancasila, yaitu:
“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.”

Prinsip ini menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia didasarkan pada musyawarah, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap semua pihak. Demokrasi memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, atau saran terhadap pemerintah dan institusi lainnya.

Namun, kebebasan berpendapat bukan berarti bebas tanpa batas. Demokrasi juga menuntut adanya tanggung jawab moral dan penghormatan terhadap etika komunikasi.

Fenomena Kritik Kasar di Era Demokrasi

Kritik yang Berubah Menjadi Caci Maki

Dalam beberapa waktu terakhir, kritik terhadap kebijakan atau tokoh publik sering disampaikan dengan bahasa kasar dan caci maki. Dalih yang digunakan adalah kebebasan berpendapat yang dijamin dalam demokrasi. Namun, apakah tindakan ini sejalan dengan nilai-nilai demokrasi?

Baca Juga :  Mengenal Biodata Singkat Hasan Aftershine, Ternyata Ini Hobinya

Kritik yang kasar dapat merugikan semua pihak, termasuk:

  1. Objektivitas kritik: Pesan utama seringkali hilang karena fokus beralih pada cara penyampaian yang tidak sopan.
  2. Hubungan sosial: Kritik kasar dapat menciptakan polarisasi dan memperburuk hubungan antara pengkritik dan yang dikritik.
  3. Citra demokrasi: Menggunakan dalih demokrasi untuk mencaci justru merusak esensi demokrasi itu sendiri.

Etika dalam Menyampaikan Kritik

Kritik yang konstruktif adalah kunci untuk menjaga keharmonisan dalam demokrasi. Berikut adalah beberapa prinsip yang dapat dipegang:

1. Gunakan Bahasa yang Sopan

Bahasa sopan menunjukkan penghormatan terhadap pihak yang dikritik, meskipun ada ketidaksepakatan. Hal ini juga menunjukkan kedewasaan dalam berdialog.

2. Fokus pada Substansi

Pastikan kritik yang disampaikan relevan dan didukung oleh fakta. Hindari menyerang pribadi atau membuat pernyataan yang tidak berdasar.

3. Hindari Emosi Berlebihan

Meskipun perasaan tidak puas wajar muncul, kritik yang disampaikan dengan emosi berlebihan akan sulit diterima oleh pihak lain.

4. Tawarkan Solusi

Kritik yang baik bukan hanya menunjukkan masalah, tetapi juga menawarkan solusi yang konstruktif.

Baca Juga :  Sebutkan 4 Tema dalam Melukis? Berikut ini Jawabannya!

Argumen: Apakah Kritik Kasar Bisa Dibanggakan?

Secara pribadi, saya tidak setuju jika kritik kasar dijadikan alasan atas nama demokrasi. Berikut adalah alasan saya:

  1. Demokrasi adalah Tentang Dialog, Bukan Konfrontasi.
    Demokrasi menghargai kebebasan berpendapat, tetapi kebebasan ini harus digunakan dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab.
  2. Bahasa Kasar Merusak Nilai Kritik.
    Alih-alih memperbaiki keadaan, kritik kasar hanya akan memicu konflik tanpa menghasilkan solusi nyata.
  3. Nilai Kebangsaan dan Kearifan Lokal.
    Bangsa Indonesia dikenal dengan nilai sopan santun. Penyampaian kritik dengan bahasa kasar tidak mencerminkan budaya luhur bangsa.

Kesimpulan

Kritik adalah bagian dari demokrasi yang sehat, tetapi penyampaiannya harus mengedepankan etika dan tanggung jawab. Kritik kasar tidak hanya merusak hubungan antarindividu, tetapi juga mencederai nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Sebagai warga negara yang baik, mari gunakan kebebasan berpendapat untuk menyampaikan kritik yang membangun, santun, dan penuh solusi. Dengan cara ini, demokrasi dapat berjalan dengan baik tanpa mengorbankan nilai-nilai kesopanan.

 

Berita Terkait

Teks Kultum Ramadhan 2026 Singkat Penuh Makna tentang Keutamaan Sedekah di Bulan Ramadhan 1447 H
Mengenal Pavane: Arti, Sejarah, dan Pesona Tarian Klasik yang Megah
KJP Plus Bulan Maret 2026 Kapan Cair Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Cara Cek Terbaru
Bagaimana Menurut Saudara Hal-hal yang Dapat Ditingkatkan dari Pelaksanaan UP? Mari Kita Bahas!
Bagaimana Cara Belut Berkembang Biak? Berikut ini Pembahasannya Secara Lengkap!
JANGAN LEWATKAN Tiga Doa yang Bisa Diamalkan di Bulan Ramadhan Bacaan Doa yang Dibaca Setiap Malam Ramadhan
Mengapa Sriwijaya Disebut Kedatuan Bukan Kerajaan? Simak Penjelasannya Berikut Ini!
130.000 Won Berapa Rupiah? Simak Kurs Won Korea Terbaru Hari Ini

Berita Terkait

Sunday, 22 February 2026 - 17:12 WIB

Mengenal Pavane: Arti, Sejarah, dan Pesona Tarian Klasik yang Megah

Sunday, 22 February 2026 - 17:09 WIB

KJP Plus Bulan Maret 2026 Kapan Cair Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Cara Cek Terbaru

Saturday, 21 February 2026 - 14:51 WIB

Bagaimana Menurut Saudara Hal-hal yang Dapat Ditingkatkan dari Pelaksanaan UP? Mari Kita Bahas!

Saturday, 21 February 2026 - 14:37 WIB

Bagaimana Cara Belut Berkembang Biak? Berikut ini Pembahasannya Secara Lengkap!

Friday, 20 February 2026 - 21:04 WIB

JANGAN LEWATKAN Tiga Doa yang Bisa Diamalkan di Bulan Ramadhan Bacaan Doa yang Dibaca Setiap Malam Ramadhan

Berita Terbaru