Apa yang Mungkin Terjadi Apabila Tidak Ada Panduan untuk Berprilaku Bagi Profesi Tertentu?
SwaraWarta.co.id – Apa yang mungkin terjadi apabila tidak ada panduan untuk berprilaku bagi profesi tertentu? Dalam dunia profesional, panduan perilaku atau kode etik bukan sekadar dokumen formal.
Ia berfungsi sebagai kompas moral, standar operasional, dan pelindung baik bagi praktisi maupun masyarakat.
Lantas, apa yang mungkin terjadi jika suatu profesi, seperti dokter, pengacara, akuntan, atau jurnalis, berjalan tanpa panduan tersebut? Jawabannya adalah kekacauan sistemik dan eroding trust.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanpa batasan etika yang jelas, setiap individu dalam profesi akan cenderung bertindak berdasarkan interpretasi pribadi. Dokter mungkin memprioritaskan pasien yang mampu bayar lebih.
Pengacara bisa memanipulasi proses hukum untuk klien tertentu tanpa mempertimbangkan keadilan. Akuntabilitas profesional akan lenyap karena tidak ada standar baku untuk menilai apakah suatu tindakan dapat diterima atau melanggar.
Kepercayaan adalah fondasi utama hubungan antara profesi dan masyarakat. Tanpa kode etik, publik tidak memiliki jaminan akan integritas dan kompetensi. Masyarakat akan meragukan setiap diagnosis dokter, laporan keuangan akuntan, atau berita dari jurnalis. Kredibilitas profesi akan anjlok, berpotensi memicu sikap apatis dan penolakan terhadap otoritas profesional.
Di dalam profesi itu sendiri, akan terjadi persaingan tidak sehat dan konflik kepentingan yang tak terkendali. Rekan sejawat tidak memiliki dasar bersama untuk menyelesaikan sengketa atau menegur perilaku tidak pantas.
Lingkungan kerja menjadi toxic, dan fokus beralih dari pelayanan optimal ke pemuasan kepentingan pribadi. Pada akhirnya, kualitas layanan atau karya profesional akan terus menurun.
Tanpa panduan yang melindungi klien/pasien, pelanggaran hak dan malpraktik akan marak. Ini membuka pintu lebar untuk gugatan hukum yang beruntun. Profesi dan institusi terkait akan menanggung beban finansial yang besar akibat denda atau ganti rugi.
Selain itu, tidak adanya standar etika membuat profesi rentan terhadap intervensi dan regulasi berlebihan dari pemerintah.
Kode etik seringkali juga mendorong pengembangan kompetensi dan inovasi yang bertanggung jawab. Tanpanya, profesi kehilangan arah untuk berkembang secara kolektif.
Tidak ada dorongan untuk peningkatan standar berkelanjutan, riset yang etis, atau adaptasi terhadap tantangan baru. Profesi akan stagnan dan tertinggal zaman.
SwaraWarta.co.id - Kenapa DANA cicil tidak tersedia? Fitur DANA Cicil menjadi salah satu layanan yang…
SwaraWarta.co.id – Bagaimana cara cek NRG menggunakan NUPTK? Bagi Bapak dan Ibu Guru yang telah…
SwaraWarta.co.id - Pernahkah Anda merasa jantung berdebar kencang, telapak tangan berkeringat, atau pikiran sulit fokus…
SwaraWarta.co.id - Ranika Rizkia selalu percaya bahwa cinta yang dijaga dengan kesabaran akan menemukan jalannya…
SwaraWarta.co.id - Pemerintah Indonesia melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) secara resmi telah menyiapkan 5.750 kuota…
SwaraWarta.co.id - Dunia kembali menahan napas menyusul pernyataan tegas dari pejabat tinggi Iran yang menyatakan…