SwaraWarta.co.id – Dunia kembali menahan napas menyusul pernyataan tegas dari pejabat tinggi Iran yang menyatakan kesiapan negara itu untuk berperang melawan Amerika Serikat.Iran Deklarasi Siap Perang Hadapi Amerika Serikat
Deklarasi siap perang hadapi Amerika Serikat ini bukan yang pertama, namun intensitas dan konteksnya di tengah geopolitik global yang rentan membuat pernyataan ini disorot tajam.
Akar ketegangan ini, seperti sering terjadi, berkisar pada isu nuklir, pengaruh regional, dan sanksi ekonomi. Program nuklir Iran yang dianggap oleh AS dan sekutunya sebagai ancaman, telah menjadi titik sengketa puluhan tahun. Sanksi ekonomi AS yang sangat ketat telah melumpuhkan perekonomian Iran, menciptakan tekanan domestik yang besar bagi pemerintah Tehran. Deklarasi militer ini sering dilihat sebagai strategi untuk memperkuat posisi tawar dan menunjukkan kekuatan di hadapan tekanan AS, serta untuk konsumsi politik dalam negeri.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Ashtiani, baru-baru ini menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam posisi siaga tertinggi dan siap menghadapi “setiap ancaman”.
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap aktivitas militer AS di kawasan, khususnya peningkatan keberadaan armada lautnya di Teluk Persia. Iran juga secara teratur memamerkan kemampuan militernya, termasuk drone, rudal balistik, dan kemampuan maritim yang dirancang untuk menghadapi kekuatan AS dan sekutunya.
Di sisi lain, Gedung Putih dan Pentagon biasanya merespons dengan pernyataan yang menegaskan komitmen AS untuk melindungi kepentingan dan sekutunya di Timur Tengah, sambil menyerukan de-eskalasi. AS telah berulang kali menyatakan bahwa semua opsi, termasuk opsi militer, “ada di atas meja” untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Namun, kedua belah pihak menyadari betapa dahsyatnya konsekuensi dari konflik terbuka langsung.
Analis politik menyebutkan bahwa Iran deklarasi siap perang hadapi Amerika Serikat lebih merupakan bagian dari “perang ucapan” (war of words) dan strategi deterrence (pencegahan). Tujuannya untuk mencegah serangan dengan menunjukkan bahwa biayanya akan sangat tinggi. Perang terbuka tetap menjadi skenario terburuk bagi semua pihak, mengingat potensinya yang dapat meluas ke konflik regional yang melibatkan sekutu masing-masing, seperti Israel dan kelompok milisi di Suriah, Irak, atau Yaman.
Dengan demikian, meskipun retorika mengeras, jalan diplomatik masih dianggap sebagai opsi utama. Namun, setiap insiden kecil di lapangan, seperti serangan terhadap kapal atau fasilitas milik salah satu pihak, berpotensi memicu eskalasi yang tidak terkendali. Dunia internasional terus memantau, berharap krisis dapat dikelola sebelum kata-kata berubah menjadi aksi yang tidak dapat ditarik kembali.

















