SwaraWarta.co.id – Di era digital yang serba cepat ini, topik kesehatan mental mulai mendapatkan panggung. Namun, di balik kampanye self-love yang bertebaran di media sosial, kenyataan di lapangan sering kali masih pahit.
Pernahkah Anda Menyaksikan atau Mendengar Adanya Perlakuan Negatif Terhadap Individu dengan Penyakit Mental? Bagaimana Perasaan Anda Pada Saat Itu? Pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan refleksi atas empati kita sebagai manusia.
Mengapa Stigma Masih Terjadi?
Banyak orang yang masih menganggap gangguan mental sebagai aib atau kelemahan karakter. Perlakuan negatif ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pengucilan sosial, ejekan dengan sebutan “gila”, hingga diskriminasi di dunia kerja.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Akar masalahnya biasanya adalah kurangnya literasi. Ketidaktahuan melahirkan ketakutan, dan ketakutan sering kali berujung pada tindakan menghakimi. Padahal, gangguan mental adalah kondisi medis yang valid, sama halnya dengan diabetes atau hipertensi.
Dampak Emosional Bagi Saksi Mata
Saat kita melihat seseorang diperlakukan tidak adil karena kondisi mentalnya, ada gejolak emosi yang muncul. Secara umum, perasaan yang sering dirasakan meliputi:
- Empati yang Mendalam: Rasa sedih melihat sesama manusia harus berjuang melawan pikirannya sendiri sekaligus melawan penghakiman orang lain.
- Kemarahan: Perasaan kesal terhadap ketidakadilan dan kekakuan cara berpikir masyarakat.
- Ketidakberdayaan: Bingung harus berbuat apa karena takut ikut dihakimi atau tidak tahu cara menolong yang benar.
“Merasa sedih saat melihat stigma bukan berarti Anda lemah; itu adalah bukti bahwa kemanusiaan Anda masih berfungsi dengan baik.”
Langkah Kecil Menuju Perubahan
Kita tidak perlu menjadi psikiater untuk membantu. Perubahan besar dimulai dari percakapan kecil dan sikap yang tepat. Berikut adalah tabel sederhana tentang apa yang bisa kita ubah:
| Dulu (Stigma) | Sekarang (Edukasi) |
| Memberi label “Gila” atau “Aneh” | Memahami itu adalah gejala penyakit |
| Memberi nasihat “Kurang Ibadah” | Menyarankan bantuan profesional |
| Menjauhi karena takut | Menawarkan telinga untuk mendengar |
Menyaksikan perlakuan negatif terhadap individu dengan penyakit mental memang menyakitkan. Namun, perasaan tidak nyaman itu seharusnya menjadi bahan bakar bagi kita untuk menjadi agen perubahan.
Dengan berhenti menghakimi dan mulai mengedukasi diri, kita membantu meruntuhkan tembok stigma yang selama ini mengisolasi mereka yang sedang berjuang.
Jangan biarkan rasa takut membungkam empati Anda. Mari kita ciptakan lingkungan di mana kesehatan mental dihargai, bukan dihakimi.

















