SwaraWarta.co.id – Meksiko sedang berada dalam situasi yang memanas. Di saat persiapan menuju Piala Dunia 2026 sudah dalam tahap akhir, sebuah peristiwa besar mengguncang negara tersebut.
Seorang petinggi kartel tewas dalam operasi militer, memicu gelombang kekerasan yang memunculkan pertanyaan besar: apakah turnamen sepak bola terakbar di dunia itu terancam batal atau dipindahkan dari Meksiko?
Operasi Militer dan Kematian yang Memicu Kemarahan
Nemesio Oseguera Cervantes, atau yang lebih dikenal sebagai “El Mencho”, pemimpin kartel narkoba paling ditakuti, Jalisco New Generation (CJNG), tewas dalam sebuah operasi penangkapan oleh militer Meksiko di negara bagian Jalisco pada akhir pekan lalu. Kematian petinggi kartel ini tidak berlalu begitu saja. Para pendukungnya segera melancarkan aksi balas dendam yang meluas.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Gelombang kekerasan menyebar ke sedikitnya 12 negara bagian. Di Guadalajara, salah satu kota yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, situasi berubah mencekam. Kelompok kriminal membakar kendaraan dan memblokade jalan-jalan utama, sementara kepulan asap hitam terlihat di beberapa lokasi.
Gubernur Jalisco, Pablo Lemus Navarro, bahkan mengeluarkan status siaga merah yang mengakibatkan penghentian transportasi umum dan pembatalan acara besar. Beberapa wisatawan di Puerto Vallarta menggambarkan kawasan resor itu berubah bagaikan “zona perang”.
Dampaknya langsung terasa di dunia olahraga. Sebanyak empat pertandingan Liga MX ditunda, dan sebuah laga wanita sempat dihentikan sementara setelah para pemain mendengar suara keras dari luar stadion yang diduga tembakan.
Ancaman di Depan Piala Dunia 2026
Dengan peristiwa ini, kekhawatiran publik semakin menjadi-jadi. Banyak yang berspekulasi bahwa Piala Dunia 2026 terancam batal atau setidaknya pertandingan yang dijadwalkan di Meksiko akan dipindahkan ke Amerika Serikat atau Kanada. Media sosial pun ramai dengan klaim bahwa FIFA sedang mempertimbangkan opsi tersebut.
Guadalajara sendiri dijadwalkan menggelar empat pertandingan fase grup, sementara laga pembuka antara Meksiko melawan Afrika Selatan akan berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City. Situasi keamanan yang memburuk jelas menjadi ancaman serius bagi kelancaran acara.
Namun, di tengah hiruk-pikuk kabar pemindahan, masyarakat perlu mencermati fakta di lapangan. Hingga saat ini, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai isu pemindahan atau pembatalan pertandingan di Meksiko. Berbagai klaim yang beredar di media sosial sebagian besar berasal dari akun-akun yang tidak terkait atau tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
Memang benar, situasi di Meksiko sedang tidak stabil. Namun, menurut pakar hukum olahraga, FIFA memiliki kewenangan untuk “membatalkan, menjadwalkan ulang, atau memindahkan satu atau lebih pertandingan” jika kondisi darurat mengancam keselamatan. Opsi ini ada di atas meja, tetapi belum dieksekusi.
Petinggi kartel tewas telah membuka luka lama dan memicu kekerasan baru di Meksiko. Hal ini secara otomatis memicu kekhawatiran global bahwa Piala Dunia 2026 terancam batal atau direlokasi dari negara tersebut. Namun, penting untuk membedakan antara kekhawatiran publik dan keputusan resmi.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada pernyataan resmi dari FIFA atau pemerintah Meksiko yang mengonfirmasi perubahan tuan rumah. Dunia kini menanti langkah FIFA. Akankah mereka tetap mempertahankan Meksiko sebagai tuan rumah dengan jaminan keamanan ekstra, atau justru mengambil keputusan dramatis dengan memindahkan pertandingan demi keselamatan pemain dan penggemar? Jawabannya hanya akan terjawab dalam beberapa hari atau pekan ke depan.

















