SwaraWarta.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Publik dunia saat ini bertanya-tanya: kenapa Israel nyerang Iran? Pada akhir Februari hingga awal Maret 2026, dunia dikejutkan oleh operasi militer udara besar-besaran yang dilancarkan oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat.
Konflik yang dijuluki sebagai “Operasi Auman Singa” (Operation Lion’s Roar) ini bukan sekadar gesekan biasa, melainkan puncak dari persaingan geopolitik yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menjadi pemicu serangan tersebut.
Kegagalan Negosiasi Nuklir
Alasan paling mendasar di balik serangan ini adalah kebuntuan total dalam negosiasi nuklir di Jenewa. Israel dan sekutunya memandang bahwa Iran hanya “mengulur waktu” untuk memperkaya uranium hingga level senjata. Penolakan Teheran terhadap syarat-syarat inspeksi internasional dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi keamanan Israel, yang memicu tindakan militer preemptif guna melumpuhkan fasilitas nuklir di Isfahan dan wilayah lainnya.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Teori “Change of Regime” (Perubahan Rezim)
Banyak pengamat menilai serangan ini memiliki agenda politik yang lebih dalam. Sejak akhir 2025, Iran dilanda gelombang protes domestik akibat krisis ekonomi. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menyatakan bahwa aksi militer ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi rakyat Iran guna “menentukan nasib mereka sendiri” dan mengakhiri pengaruh rezim saat ini.
Keamanan Regional dan Proksi
Israel menuduh Iran terus memperkuat jangkauan militernya melalui kelompok-kelompok proksi di Lebanon dan Suriah. Serangan ke Teheran pada 28 Februari 2026 juga ditujukan untuk memutus rantai pasokan logistik militer yang selama ini dianggap mengancam kedaulatan wilayah perbatasan Israel.
Dampak Global yang Mengkhawatirkan
Serangan ini tidak hanya memengaruhi kedua negara, tetapi juga stabilitas ekonomi dunia:
- Harga Minyak Melonjak: Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai aksi balasan telah menyebabkan harga minyak dunia meroket hingga di atas $120 per barel.
- Ancaman Perang Meluas: PBB dan komunitas internasional menyatakan keprihatinan mendalam atas potensi pecahnya Perang Dunia III jika kekuatan besar lainnya ikut campur secara langsung.
- Stabilitas Ekonomi RI: Bagi Indonesia, konflik ini berisiko menekan nilai tukar Rupiah dan membengkakkan beban subsidi BBM nasional.
Jawaban atas pertanyaan kenapa Israel nyerang Iran terletak pada kombinasi ketakutan akan senjata nuklir, ambisi politik untuk mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, serta upaya eliminasi ancaman keamanan jangka panjang. Selama diplomasi gagal menemukan titik temu, bara api di kawasan ini diprediksi akan terus menyala.

















