SwaraWarta.co.id – Masa libur panjang sekolah telah usai, dan itu artinya roda program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berputar normal.
Aktivitas di berbagai dapur umum dan Satuan Pelayanan Makanan Bergizi kembali sibuk menyiapkan ratusan ribu porsi makanan sehat untuk anak-anak sekolah.
Namun, seiring dengan kembali beroperasinya program berskala nasional ini, dinamika di pasar tradisional ikut bergejolak.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Kurva permintaan bahan pangan yang sempat melandai selama liburan, kini melonjak drastis dan memicu kenaikan harga sejumlah komoditas pokok di berbagai daerah.
Shock Permintaan: Efek Domino Dapur MBG yang Kembali Aktif
Selama masa libur sekolah beberapa waktu lalu, pasar sempat mengalami penurunan harga komoditas pangan terutama daging ayam dan telur karena serapan dari dapur MBG berhenti sementara. Kini, kondisi tersebut berbalik 180 derajat.
Begitu sekolah masuk dan program MBG kembali berjalan per Juli 2026, terjadi apa yang disebut dalam ekonomi sebagai demand shock atau lonjakan permintaan mendadak. Dapur-dapur MBG membutuhkan pasokan bahan baku segar dalam jumlah masif setiap harinya.
Aktivitas belanja besar-besaran untuk kebutuhan program ini langsung memengaruhi stok di tingkat pedagang dan peternak. Akibatnya, hukum pasar pun berlaku: ketika permintaan meningkat pesat sementara kapasitas distribusi berjalan konstan, harga barang akan otomatis terkerek naik.
Komoditas yang Paling Terdampak Kenaikan Harga
Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional pasca-liburan, beberapa bahan pangan yang menjadi menu wajib MBG mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan:
- Daging Ayam Ras & Telur: Menjadi sumber protein utama dalam menu MBG, harga daging ayam hidup (live bird) dan telur di tingkat peternak yang sempat anjlok kini berangsur pulih dan merangkak naik mendekati Harga Acuan Pemerintah (HAP).
- Cabai dan Bumbu Dapur: Komoditas volatil seperti cabai merah dan cabai rawit juga mulai menunjukkan tren kenaikan harga setelah sempat menyentuh titik terendah saat libur sekolah lalu.
- Sayuran Segar: Bahan seperti wortel, buncis, dan sawi yang menjadi pelengkap gizi harian ikut mengalami penyesuaian harga di tingkat eceran akibat ketatnya persaingan pasokan.
Menyiasati Tantangan Stabilitas Pangan
Kenaikan harga ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi ibu rumah tangga dan konsumen umum yang harus berbagi pasokan dengan program pemerintah. Di sisi lain, tren ini sebenarnya membawa angin segar bagi para peternak mandiri dan petani lokal yang sempat mengeluhkan tipisnya margin keuntungan akibat harga yang anjlok selama masa liburan.
Untuk mengantisipasi lonjakan yang semakin liar, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Langkah taktis seperti perbaikan rantai pasok dan operasi pasar diharapkan mampu menjaga keseimbangan, sehingga kebutuhan gizi anak sekolah melalui MBG tetap terpenuhi tanpa mengorbankan daya beli masyarakat luas.

















