SwaraWarta.co.id – Kolombia telah mengerahkan pasukan militernya ke perbatasan dengan Venezuela menyusul operasi militer Amerika Serikat yang menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi eskalasi konflik dan gelombang pengungsi, sekaligus menandai ketegangan baru dalam hubungan Bogota-Washington.
Kronologi Pengerahan Pasukan
Presiden Kolombia Gustavo Petro memerintahkan mobilisasi angkatan bersenjata pada Sabtu, 3 Januari 2026, tak lama setelah serangan AS terjadi. Dalam pernyataannya, Petro mengecam tindakan Washington sebagai “serangan terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin” dan segera memanggil rapat darurat Dewan Keamanan PBB .
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasukan, termasuk kendaraan lapis baja LAV-III, terlihat berjaga di pos perbatasan utama seperti Paraguachón di wilayah La Guajira, yang panjangnya mencapai 2.219 kilometer. Misi mereka adalah memperkuat kendali teritorial dan mengamankan wilayah perbatasan yang rentan.
Dua Ancaman Utama di Perbatasan
Pengerahan ini ditujukan untuk menghadapi dua tantangan besar:
- Ancaman Keamanan dari Kelompok Bersenjata: Analis keamanan memperingatkan risiko tinggi dari ELN (Ejército de Liberación Nacional), kelompok pemberontak terbesar di Kolombia yang menguasai hampir seluruh area perbatasan. ELN, yang memiliki hubungan dengan pemerintahan Maduro dan terlibat dalam perdagangan kokain, dapat melakukan aksi balasan terhadap target Barat.
- Krisis Kemanusiaan dan Pengungsi: Kolombia, yang sudah menampung hampir 3 juta pengungsi Venezuela, bersiap menghadapi kemungkinan “arus masuk pengungsi secara massal” baru jika konflik dan ketidakstabilan di Venezuela meningkat. Pemerintah telah mengerahkan sumber daya bantuan kemanusiaan di perbatasan timur.
Ketegangan dengan Washington dan Masa Depan yang Tak Pasti
Langkah Kolombia ini semakin memperuncing hubungan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Trump secara terbuka mengancam Presiden Petro, menyebutnya “orang sakit yang suka membuat kokain” dan mengisyaratkan kemungkinan operasi militer AS di Kolombia.
Sementara itu, situasi di Venezuela tetap tidak stabil. Meski Maduro ditangkap, rezim yang dipimpin oleh Wakil Presiden Delcy Rodríguez masih berkuasa.
Dunia internasional, termasuk Prancis, Rusia, China, dan Uni Eropa, banyak yang mengutuk serangan AS sebagai pelanggaran hukum internasional.
Dengan pasukan elite yang kini berjaga, Kolombia mencoba membentengi diri dari dampak destabilisasi yang mungkin menyebar. Mata dunia tertuju pada perbatasan ini, menanti apakah krisis akan mereda atau justru memicu babak konflik yang lebih luas di kawasan.















