SwaraWarta.co.id – Kepulauan terbesar di dunia, Greenland, kembali menjadi berita utama. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berulang kali menyatakan ambisinya agar AS mengambil alih wilayah otonom Denmark ini.
Usulan yang disebutnya sebagai “kebutuhan mutlak” bagi keamanan nasional ini bukan hal baru.
Sejak abad ke-19, Greenland telah menjadi objek keinginan strategis Washington. Lantas, apa yang membuat hamparan es dengan populasi hanya 56.000 jiwa ini begitu berharga di mata kekuatan adidaya?
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Posisi Strategis: Benteng Pertahanan di Arktik
Alasan utama bersifat geopolitik dan militer. Greenland terletak di posisi sangat strategis, berada di antara AS dan Eropa serta mengawasi celah GIUK (Greenland-Iceland-UK) jalur maritim kunci antara Arktik dan Samudra Atlantik. Posisi ini menjadikannya titik vital untuk pertahanan rudal balistik dan sistem peringatan dini.
“Jika Rusia mengirim rudal ke AS, rute terpendek… adalah melalui Kutub Utara dan Greenland,” jelas Marc Jacobsen, profesor dari Royal Danish Defence College.
AS sudah memiliki pijakan militer di sana melalui Pangkalan Luar Angkasa Pituffik (dulu Thule Air Base), yang dioperasikan sejak Perang Dingin. Dengan meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di Arktik, kontrol penuh atas Greenland akan memberikan AS keunggulan pengawasan yang tak tertandingi.
Harta Karun di Bawah Es: Sumber Daya Alam yang Melimpah
Di balik lapisan esnya, Greenland menyimpan kekayaan mineral yang luar biasa. Survei Geologi AS memperkirakan adanya cadangan minyak dan gas yang signifikan, serta cadangan mineral tanah jarang (rare earth) terbesar kedelapan di dunia.
Mineral-mineral ini adalah komponen krusial untuk teknologi masa depan: baterai mobil listrik, turbin angin, hingga peralatan militer canggih. Dengan dominasi China dalam pasokan mineral kritis global, mengamankan akses ke sumber daya Greenland menjadi prioritas strategis AS untuk mengurangi ketergantungan.
Persaingan Kekuatan Global di Arktik
Ambisi AS tidak dapat dipisahkan dari rivalitas geopolitik abad ke-21. Mencairnya es akibat perubahan iklim membuka akses baru dan jalur pelayaran di Arktik, mengubah kawasan ini menjadi arena persaingan.
- Rusia telah memperkuat kehadiran militernya di Arktik, mengklaim sekitar seperempat wilayahnya.
- China, meski bukan negara Arktik, mendeklarasikan diri sebagai “negara dekat Arktik” dan aktif berinvestasi untuk pengaruh melalui “Jalan Sutra Kutub”.
Menguasai Greenland memberikan AS posisi sentral untuk mengimbangi dan membatasi pengaruh kedua pesaing utamanya di kawasan yang semakin penting ini.
Warisan Ekspansionisme dan Penolakan Lokal
Ketertarikan AS terhadap Greenland berakar pada sejarah. Upaya pembelian pertama kali diusulkan oleh Sekretaris Negara William H. Seward pada 1867, tak lama setelah ia membeli Alaska dari Rusia. Upaya serius lain terjadi pada 1946 di bawah Presiden Truman, yang menawarkan $100 juta dalam emas kepada Denmark, namun ditolak.
Meski demikian, rakyat Greenland sendiri dengan tegas menolak gagasan bergabung dengan AS. Menurut Reuters, sekitar 85% penduduk menentang ide tersebut. Pemerintah Greenland dan Denmark secara konsisten menyatakan bahwa “Greenland tidak untuk dijual” dan masa depannya hanya ditentukan oleh rakyatnya sendiri

















