SwaraWarta.co.id – Gempa M 7,3 guncang Bitung Sulawesi Utara pada Kamis, 2 April 2026, pukul 05.48 WIB, mengguncang kawasan timur Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) awalnya melaporkan magnitudo 7,3 sebelum memutakhirkan data menjadi M 7,6.
Pusat gempa berada di laut pada koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur, tepatnya 129 km tenggara Bitung, dengan kedalaman 62 km. BMKG mengonfirmasi bahwa gempa dangkal ini dipicu oleh aktivitas deformasi kerak bumi di Laut Maluku dan berpotensi menimbulkan tsunami.
Potensi Tsunami dan Wilayah Terdampak
Menyusul Gempa M 7,3 guncang Bitung Sulawesi Utara, BMKG menetapkan status siaga tsunami untuk sejumlah wilayah pesisir. Daerah yang masuk dalam status “Siaga” meliputi Kota Bitung, Kota Ternate, Halmahera, Tidore, serta sebagian Minahasa dan Minahasa Selatan.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Status “Waspada” juga diberlakukan bagi Kepulauan Sangihe, Minahasa Utara, dan Bolaang Mongondow. Warga di zona siaga diinstruksikan untuk segera melakukan evakuasi mandiri menjauhi pantai.
Data pemantauan muka air laut (tide gauge) menunjukkan tsunami kecil telah terdeteksi di beberapa titik: setinggi 0,75 meter di Minahasa Utara, 0,68 meter di Belang, dan 0,30 meter di Halmahera Barat.
Imbauan dan Dampak Awal
Hingga pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat sedikitnya 11 gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan terbesar M 5,5. Getaran dirasakan kuat hingga skala V-VI MMI di Ternate dan IV-V MMI di Manado, menyebabkan kepanikan warga.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, meminta masyarakat tetap tenang namun waspada terhadap potensi gelombang susulan. Informasi resmi hanya bersumber dari kanal BMKG terverifikasi.
Gempa M 7,3 guncang Bitung Sulawesi Utara menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dini terhadap bencana hidrometeorologi di wilayah rawan gempa Indonesia. Masyarakat diimbau untuk tidak kembali ke area pantai sebelum ada pernyataan resmi aman dari pemerintah.

















