SwaraWarta.co.id – Sebuah insiden keracunan massal mengguncang SMA Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Sebanyak 777 siswa dan guru diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.
Peristiwa ini menjadi perhatian nasional karena jumlah korban yang sangat besar dan dampaknya yang melumpuhkan kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Kronologi Kejadian Keracunan MBG Lasem Rembang
Insiden bermula pada Rabu, 2 September 2026, ketika paket MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem dibagikan kepada warga sekolah sekitar pukul 11.45 WIB. Menu yang disantap terdiri dari nasi, ayam bakar grill, tempe, lalapan, sambal teri goreng, dan potongan buah semangka.
Sejumlah siswa sempat mengeluhkan rasa buah semangka yang terasa kecut dan tidak segar.
Namun, keluhan baru muncul secara masif keesokan harinya, Kamis (3/9/2026) pagi, saat para siswa mulai masuk kelas.
Dampak Luar Biasa: Toilet Sekolah Overload
Dalam hitungan menit, laporan siswa yang mengalami diare berdatangan dari berbagai kelas. Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengungkapkan bahwa dalam setiap kelas terdapat 20-31 siswa yang terkena diare.
“Begitu guru mendata di masing-masing kelas, dalam beberapa menit langsung masuk laporan ada 777 orang yang diare,” jelas Juhartutik.
Dengan 30-an toilet yang tersedia, sekolah tidak mampu menampung antrean siswa yang mengalami diare.
Toilet sekolah overload hingga Juhartutik mempersilakan siswa menggunakan kamar mandi pribadinya.
Dari total korban, rinciannya adalah 752 siswa dan 25 guru. Lima orang di antaranya harus dilarikan ke Puskesmas Lasem karena muntah terus-menerus, dan satu siswa bahkan harus dirawat di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.
Dugaan Penyebab Keracunan MBG Lasem Rembang
Kepala SMAN 1 Lasem menduga sumber keracunan berasal dari lauk ayam bakar yang sudah tidak layak konsumsi. “Jadi ayamnya itu saat dipegang seperti sudah berlendir,” ungkapnya.
Selain itu, ditemukan kejanggalan pada proses pengolahan. Menu MBG tersebut dimasak pada dini hari pukul 03.00, sementara baru dikonsumsi siswa sekitar pukul 12.00 siang.
Jarak waktu yang panjang antara proses memasak dan konsumsi diduga menjadi faktor risiko kontaminasi makanan.
Respons dan Penanganan
Menyusul insiden ini, pihak sekolah mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan belajar mengajar dan memulangkan seluruh siswa lebih awal.
SPPG Soditan Lasem menyampaikan permintaan maaf dan berkomitmen menanggung seluruh biaya pengobatan korban tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada siswa dan guru yang terdampak.
Kasatgas Percepatan MBG Jawa Tengah, Taj Yasin, turun langsung mengevaluasi pelaksanaan SOP pengolahan dan distribusi MBG. “Di situ sudah jelas bahwa SOP-nya harus dijalankan. Biasanya kalau ada SOP, keracunan seperti ini SOP-nya terlewati,” tegasnya.
Pembelajaran Penting
Kasus keracunan MBG Lasem Rembang ini menjadi pengingat pentingnya standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dalam program makan bergizi gratis.
Keamanan pangan, jarak waktu pengolahan, dan kualitas bahan makanan harus menjadi prioritas utama untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.

















