Mengapa dalam Perspektif Interaksionisme Simbolis, Korupsi Dikatakan Sebagai Sebuah “Pilihan Sikap” Individu di Tengah Berbagai Pilihan yang Ada?

- Redaksi

Saturday, 17 October 2026 - 06:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengapa dalam Perspektif Interaksionisme Simbolis, Korupsi Dikatakan Sebagai Sebuah “Pilihan Sikap

Mengapa dalam Perspektif Interaksionisme Simbolis, Korupsi Dikatakan Sebagai Sebuah “Pilihan Sikap"

SwaraWarta.co.id – Mengapa dalam perspektif interaksionisme simbolis, korupsi dikatakan sebagai sebuah “pilihan sikap” individu di tengah berbagai pilihan yang ada?

Korupsi sering kali dipahami semata-mata sebagai produk dari lemahnya sistem pengawasan atau ketiadaan hukuman yang menjerat. Namun, pandangan ini cenderung mengabaikan dimensi psikologis dan sosiologis mendasar: korupsi tidak terjadi begitu saja secara otomatis.

Dalam perspektif interaksionisme simbolis, korupsi dipahami sebagai sebuah “pilihan sikap” individu yang lahir dari proses pemaknaan dan interaksi sosial di tengah berbagai opsi tindakan yang ada.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Teori interaksionisme simbolis menekankan bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang mereka berikan pada objek, situasi, atau norma di sekitar mereka. Makna ini tidak muncul dari ruang hampa, melainkan dibentuk melalui interaksi sosial yang dinamis. Dalam konteks korupsi, seorang individu tidak sekadar digerakkan oleh struktur atau dorongan ekonomi instan, melainkan melalui proses interpretasi atas simbol-simbol di lingkungan kerjanya—seperti kekuasaan, kekayaan, kesuksesan, hingga definisi tentang “risiko.”

Baca Juga :  Apa yang Dimaksud dengan Kedudukan Hadist dalam Syariat Islam? Simak Penjelasannya Berikut!

Memaknai Korupsi sebagai Pilihan Sikap

Ketika berada di lingkungan kerja atau birokrasi, seorang pejabat atau pegawai dihadapkan pada berbagai pilihan sikap: integritas, kepatuhan, atau penyimpangan. Dari sudut pandang interaksionisme simbolis, pilihan untuk berbuat korup terjadi melalui beberapa tahapan interpretasi berikut:

  • Internalisasi Makna Keberhasilan: Jika masyarakat atau kelompok sekitar mendefinisikan kesuksesan hanya dari materi, jabatan, dan gaya hidup mewah, norma tersebut menjadi simbol yang mendominasi. Individu mulai memaknai bahwa pencapaian finansial lebih bernilai daripada kepatuhan pada aturan.
  • Proses Self-Talk dan Rationalization: Sebelum melakukan korupsi, individu terlibat dalam percakapan internal (internal dialogue). Mereka menciptakan makna baru untuk membenarkan tindakan tersebut, misalnya memaknai uang suap sebagai “uang lelah”, “hadiah kelancaran”, atau “tindakan lazim yang dilakukan semua orang.” Melalui mekanisme ini, makna korupsi diubah dari kejahatan menjadi kompromi yang bisa dimaklumi.
  • Sosialisasi Nilai dalam Kelompok: Interaksi intensif dengan rekan kerja yang sudah terbiasa memanipulasi anggaran membentuk kesadaran kolektif baru. Dalam lingkungan seperti ini, sikap jujur justru sering kali dimaknai sebagai kelangkaan, keanehan, atau bahkan ancaman bagi solidaritas kelompok.
Baca Juga :  Sinopsis Film Teka-Teki Tika: Drama Keluarga yang Mengungkap Sisi Gelap Kekuasaan

Sistem vs Agensi Individu

Perspektif interaksionisme simbolis mengembalikan peran agen (agency) kepada manusia. Sistem hukum yang longgar atau celah anggaran memang menyediakan ruang, tetapi individu tetap memiliki otonomi untuk memilih bagaimana ia menanggapi ruang tersebut. Korupsi menjadi “pilihan sikap” karena individu secara sadar menimbang makna dari setiap tindakan, lalu memutuskan untuk mengambil langkah yang menguntungkan dirinya meskipun melanggar etika.

Memahami korupsi dari kacamata ini memperlihatkan bahwa perbaikan sistem saja tidak akan pernah cukup. Selama simbol-simbol sosial di lingkungan kerja masih mentoleransi kecurangan dan mendewakan materi tanpa memedulikan cara mendapatkannya, pilihan sikap untuk berbuat korup akan terus berulang.

Mendorong Perubahan Makna

Untuk mengikis praktik korupsi hingga ke akarnya, pendekatan interaksionisme simbolis menawarkan arah solusi baru: mendefinisikan ulang makna di dalam interaksi sosial. Integritas harus diberi tempat sebagai simbol kehormatan tertinggi, sedangkan tindakan koruptif harus dikembalikan pada makna aslinya sebagai bentuk pengkhianatan dan kehancuran moral. Ketika makna sosial berubah, pilihan sikap individu di dalamnya pun secara bertahap akan bergeser ke arah yang lebih bersih dan berintegritas.

Baca Juga :  Mengenal Mengerti dan Memahami Isi Ad dan Art Gerakan Pramuka

 

Berita Terkait

Menurut Pendapat Anda, Bagaimana Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Jaringan dapat Membantu Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah Dasar?
Mengapa ASN Perlu Memahami Konsep Kotak Sembilan untuk Pengembangan Karier? Simak Penjelasannya!
Jelaskan Apa yang Dimaksud dengan Bakteri? Begini Pembahasannya Secara Lengkap!
Mengapa Hak dan Kewajiban Harus Dilaksanakan Secara Seimbang? Mari Kita Bahas!
Mengapa Siswa SD Sering Mengalami Kesulitan Memahami Hubungan antara Persen dan Perbandingan? Jelaskan Analisis Anda!
Bagaimana Kesadaran Guru Ketika Berefleksi? Simak Pembahasannya!
Jelaskan Makna Hadis Riwayat Ibnu Majah yang Menyatakan Bahwa Setiap Anak Itu Tergadai dengan Aqiqahnya? Yuk Mari Kita Bahas!
Jelaskan Definisi Administrasi dan Fungsi-fungsi Administrasi Bagi Dunia Usaha? Simak Pembahasannya dengan Lengkap!

Berita Terkait

Saturday, 7 November 2026 - 06:12 WIB

Menurut Pendapat Anda, Bagaimana Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Jaringan dapat Membantu Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah Dasar?

Friday, 6 November 2026 - 13:29 WIB

Mengapa ASN Perlu Memahami Konsep Kotak Sembilan untuk Pengembangan Karier? Simak Penjelasannya!

Friday, 6 November 2026 - 11:13 WIB

Jelaskan Apa yang Dimaksud dengan Bakteri? Begini Pembahasannya Secara Lengkap!

Friday, 6 November 2026 - 09:22 WIB

Mengapa Hak dan Kewajiban Harus Dilaksanakan Secara Seimbang? Mari Kita Bahas!

Monday, 2 November 2026 - 11:00 WIB

Mengapa Siswa SD Sering Mengalami Kesulitan Memahami Hubungan antara Persen dan Perbandingan? Jelaskan Analisis Anda!

Berita Terbaru