Rupiah Menguat Jelang Tutup Tahun, Tantangan Ekonomi Masih Membayangi

- Redaksi

Tuesday, 31 December 2024 - 19:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SwaraWarta.co.id – Menjelang akhir tahun 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan.

Berdasarkan data yang dirilis Bloomberg, rupiah menguat sebesar 0,06 persen atau naik 10 poin, sehingga berada pada posisi Rp16.132 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun demikian, penguatan ini masih diwarnai oleh bayang-bayang dominasi dolar AS yang didorong oleh perkembangan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat.

Seorang analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kebijakan yang diusung oleh pemerintahan Presiden Donald Trump,

seperti pelonggaran regulasi, pemotongan pajak, kenaikan tarif perdagangan, serta pengetatan kebijakan imigrasi, dianggap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus inflasi di AS.

Hal ini, menurutnya, menjadi alasan mengapa Federal Reserve (The Fed) diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga secara agresif pada tahun depan.

Baca Juga :  Ribuan Benih Lobster Gagal Diselundupkan dari Banyuwangi, Ini Faktanya!

Bank sentral AS, menurut Ibrahim, telah memproyeksikan pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun 2025, masing-masing sebesar 25 basis poin.

Namun, pelaku pasar memperkirakan pelonggaran moneter pada tahun depan hanya akan mencapai 35 basis poin.

Ibrahim juga menambahkan bahwa rentang perdagangan mata uang kemungkinan akan tetap sempit pada pekan ini, mengingat banyak pelaku pasar sedang menikmati libur akhir tahun.

Selain itu, perhatian pasar diprediksi akan tertuju pada data ekonomi penting, seperti angka pengangguran mingguan dan data aktivitas manufaktur dari Institute of Supply Management (PMI) yang akan dirilis pada awal tahun 2025.

Dari sisi global, aktivitas manufaktur di Tiongkok dilaporkan mengalami peningkatan selama tiga bulan berturut-turut hingga Desember 2024.

Namun, laju pertumbuhannya masih lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar dan hasil bulan sebelumnya.

Baca Juga :  Menjelang Idul Adha, Harga Gula dan Minyak Goreng di Tangsel Naik, Daging Justru Turun

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai prospek jangka panjang sektor industri di negara tersebut, yang masih menghadapi tantangan perlambatan ekonomi.

Para pelaku pasar kini menantikan kejelasan lebih lanjut terkait rencana stimulus tambahan dari pemerintah Beijing pada tahun mendatang.

Di dalam negeri, Ibrahim turut menyoroti penurunan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah pada tahun 2024 tercatat sebesar 47,85 juta jiwa atau 17,13 persen dari total penduduk.

Angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun 2019, yang mencapai 57,33 juta jiwa atau 21,45 persen dari populasi.

Sebaliknya, jumlah masyarakat kelas menengah rentan atau yang sering disebut sebagai aspiring middle class justru meningkat. Pada tahun 2024, jumlahnya mencapai 137,50 juta jiwa, naik dari 128,85 juta jiwa pada tahun 2019.

Baca Juga :  Identitas Nasional adalah Sebuah Konsep yang Multidimensional. Hal Tersebut Disebabkan…

Ibrahim menjelaskan bahwa penurunan jumlah kelas menengah ini sebagian besar disebabkan oleh dampak pandemi Covid-19, yang mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan serta terkurasnya tabungan mereka.

Selain itu, inflasi yang tinggi dan penurunan pendapatan juga turut menekan daya beli masyarakat.

Ibrahim juga mengomentari program “Makan Bergizi Gratis” (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Program ini, menurutnya, memiliki potensi kebocoran anggaran yang cukup besar, yakni hingga Rp8,5 triliun per tahun.

Ibrahim menilai bahwa mekanisme distribusi yang lebih terdesentralisasi mungkin dapat mengurangi risiko tersebut.

Meski nilai tukar rupiah menunjukkan tren positif, berbagai tantangan, baik dari dalam negeri maupun global, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tahun mendatang.***

Berita Terkait

Kapal Tanker Malaysia Dapat Izin Lewat Selat Hormuz dari Iran, Bagaimana Nasib Indonesia?
VIRAL! Ribuan Burung Gagak Berputar-Putar di Kota Israel, Apa Maknanya?
Panduan Lengkap Cara Bayar UTBK-SNBT 2026: Anti Ribet dan Cepat!
Pembelajaran Daring Batal: Dampak dan Solusi bagi Dunia Pendidikan
Apakah Samsat Buka Hari Ini? Cek Jadwal Terbaru dan Cara Mudah Bayar Pajak
Cara Bikin SKCK Via Online Terbaru 2026: Syarat dan Prosedur Lengkap
Cara Cek Status Penerima PKH Maret 2026: Panduan Lengkap dan Terbarunya
Jadwal Bansos PKH dan BPNT Cair Maret 2026: Pastikan Anda Terdaftar!

Berita Terkait

Friday, 27 March 2026 - 15:34 WIB

Kapal Tanker Malaysia Dapat Izin Lewat Selat Hormuz dari Iran, Bagaimana Nasib Indonesia?

Thursday, 26 March 2026 - 14:56 WIB

VIRAL! Ribuan Burung Gagak Berputar-Putar di Kota Israel, Apa Maknanya?

Thursday, 26 March 2026 - 05:58 WIB

Panduan Lengkap Cara Bayar UTBK-SNBT 2026: Anti Ribet dan Cepat!

Wednesday, 25 March 2026 - 11:34 WIB

Pembelajaran Daring Batal: Dampak dan Solusi bagi Dunia Pendidikan

Wednesday, 25 March 2026 - 09:42 WIB

Apakah Samsat Buka Hari Ini? Cek Jadwal Terbaru dan Cara Mudah Bayar Pajak

Berita Terbaru

Kenapa DANA Cicil Tidak Tersedia

Teknologi

Kenapa DANA Cicil Tidak Tersedia? Ini Penyebab dan Solusinya!

Friday, 27 Mar 2026 - 12:00 WIB