Tfd6BUC8TSd7TSMoTpW9GUr0BA==

6 Kota ini Menyumbang Sampah Plastik Terbanyak di Tahun 2023

6 Kota ini Menyumbang Sampah Plastik Terbanyak di Tahun 2023
Sampah plastik terbanyak di tahun 2023. (Foto: Pexels)


SwaraWarta.co.id – Dalam riset anyar Litbang Kompas dan Net Zero Waste Management Consortium baru-baru ini menggali identitas brand minuman terkenal yang limbahnya masih menumpuk di enam kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Ironisnya, beberapa dari brand-brand ini sering mempromosikan diri mereka sebagai pelaku lingkungan yang peduli.

Dalam penelitian yang dirilis pada 22 November 2023, ditemukan bahwa sampah plastik dari brand-brand minuman terkemuka tersebut tersebar luas di berbagai lokasi, mulai dari bak sampah, Tempat Pembuangan Sementara (TPS), truk sampah, Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai, tanah kosong, tepi jalan, hingga pesisir dan laut.

"Masalah sampah kemasan produk konsumen berukuran kecil selalu menjadi sorotan utama di setiap TPA di enam kota besar ini," ungkap Ahmad Syafrudin, peneliti utama dari Net Zero, pada hari Selasa (5/12/2023).

Khusus untuk sampah kemasan botol plastik, penelitian menunjukkan bahwa Sprite, Fanta, dan Aqua mendominasi daur ulang sampah botol di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Samarinda, dan Bali.

Dari total 1.930.495 buah sampah plastik yang teridentifikasi, Sprite menyumbang 30.171 buah, Fanta 23.654 buah, dan Aqua 19.684 buah.

Sementara itu, Club dan Coca Cola berturut-turut berada di posisi keempat dan kelima dengan masing-masing 16.727 buah dan 11.357 buah sampah botol.

Secara keseluruhan, total sampah dari trio minuman bersoda (Sprite, Fanta, dan Coca Cola) melebihi jumlah sampah botol Aqua dan saudara kembarnya, Vit, sebanyak 9.511 buah.

"Walaupun secara tonase terlihat kalah dari sampah organik rumah tangga, kenyataannya sampah anorganik seperti kemasan plastik produk konsumen memiliki dampak besar, baik dalam hal tempat penyimpanan maupun volumenya yang selalu signifikan, seperti di gerobak pemulung, TPS, truk sampah, TPA, tepi sungai, dan lainnya," ujar Ahmad.

Ahmad menekankan bahwa temuan penelitian menunjukkan bahwa program pengurangan sampah dari perusahaan pemilik brand belum mencapai efektivitas yang diharapkan.

Konsep Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility atau EPR) telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 75 Tahun 2019, namun implementasinya masih harus diperkuat.

Seiring dengan kebijakan Pemerintah terkait "Up Sizing," produsen didorong untuk meninggalkan kemasan berukuran kecil dan beralih ke kemasan dengan ukuran yang lebih optimal untuk mengurangi potensi sampah.

Sampah botol minuman, yang umumnya menggunakan kemasan plastik Polietilena Terefatalat, sebenarnya memiliki nilai ekonomis dan seharusnya tidak tersebar di tempat pembuangan sampah atau lingkungan terbuka.

Masalahnya, bank sampah yang diharapkan menjadi tulang punggung dalam konsep Ekonomi Circular (Circular Economy) pengelolaan sampah, belum berjalan efektif di semua kota.

"Kami menemukan bahwa bank sampah di banyak kota masih belum efektif menangani sampah dengan nilai sisa tinggi. Mayoritas dari mereka masih beroperasi secara tidak teratur. Pemulung dan pedagang barang bekas hanya tertarik pada sampah dengan nilai sisa tinggi saja, sementara sampah dengan nilai sisa rendah dibuang ke TPS/TPA/pinggir jalan/badan air atau bahkan dibakar (open burning)," jelas Ahmad.



Dapatkan update berita Indonesia terkini 2024 serta info viral terbaru hari ini dari situs SwaraWarta.co.id melalui platform Google News.

Ketik kata kunci lalu Enter