Tfd6BUC8TSd7TSMoTpW9GUr0BA==

Kisah Nabi Yahya, Putra Nabi Zakaria AS

Nabi Yahya
Kisah Nabi Yahya - SwaraWarta.co.id (Sumber: Pinterest)


SwaraWarta.co.id - Kisah Nabi Yahya merupakan kisah yang terhubung dengan kisah Maryam dan juga Nabi Zakaria AS.

Awal Kisah Nabi Yahya dimulai saat kelahirannya yang dianggap sebagai mukjizat karena ibunya, istri Nabi Zakaria diyakini mandul dan usianya telah melewati masa subur untuk memiliki keturunan.

Kehadirannya tentu saja menjadi tanda keajaiban Allah, yang mengabulkan Doa Zakaria AS untuk memiliki seorang anak.

Allah SWT memberikan nama Yahya, yang nama ini sebelumnya tidak pernah digunakan oleh siapapun.

Hal ini semakin menegaskan bahwa kelahirannya bukanlah sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rencana Allah yang sangat luar biasa, tentunya.

Kisah Nabi Yahya ini memperlihatkan kekuatan serta kasih sayang Allah yang tak terbatas kepada hamba-Nya.

Meskipun dalam kondisi yang tidak memungkinkan, Allah Maha Kuasa yang mampu menciptakan keajaiban dan memberikan karunia kepada hamba-Nya yang saleh dan banyak berdoa.

Keberadaan Nabi Yahya AS menjadi saksi akan arti dari kekuasaan dan kemurahan Allah yang senantiasa hadir dalam kehidupan manusia.

BACA JUGA: 3 Kisah Nabi Muhammad yang Menakjubkan dan Luar Biasa

Masa Kecil Nabi Yahya


Pada waktu kanak-kanak, Nabi Yahya AS tidak seperti anak-anak seusianya; saat mereka lebih suka bermain selama waktu senggang, tetapi Nabi Yahya AS malahan sibuk dengan kegiatan yang memperluas pengetahuannya.

Dalam ayat yang sama, disebutkan bahwa Nabi Yahya AS diberi kelebihan Hukm, yang berarti kebijaksanaan, pengetahuan, serta kebijaksanaan untuk membedakan sebagai otoritas atas kitab suci.

Kitab suci yang dirujuk dalam ayat ini adalah Taurat, yang pada mulanya diberikan kepada Nabi Musa AS.

Sejak usia muda, Nabi Yahya AS diajari banyak hal untuk memahami, beriman, dan bertindak sesuai dengan teks-teks agama ini.

Pengertian spiritualnya yang presisi sangat membedakannya dari anak-anak lain pada masanya. Dia tidak tertarik dengan permainan mereka dan hampir keseluruhan waktu dalam hidupnya didedikasikan untuk belajar ilmu spiritualnya.

Dengan kelebihan karunia pengetahuan yang diberikan padanya, Nabi Yahya AS menjadi orang paling bijak dan berpengetahuan pada zamannya tersebut.

Sensitivitas serta empatinya yang dibawanya sejak lahir semakin dalam seiring bertambahnya usia, dan itu membawanya untuk selalu menunjukkan rasa belas kasihnya yang lebih besar kepada orang tuanya, masyarakat, serta semua ciptaan Allah SWT.

Allah SWT menyatakan dalam Surah Maryam bahwa Nabi Yahya AS telah diberikan olehnya sebuah kemurnian dan rasa belas kasih yang sangat besar.

Yang Maha Kuasa juga menyatakan bahwa atas kehendak-Nya, Nabi Yahya AS bisa mencapai ketakwaan dan belas kasihan terhadap orang tuanya.

Para ulama telah menafsirkan bahwa kata "Hanan" sebagai arti dari kelembutan, yang merupakan sebuah kualitas bawaan yang mirip dengan kasih sayang seorang ibu, ditandai dengan kelembutan yang intens, belas kasihan, dan kasih sayang.

BACA JUGA: Kisah Nabi Zulkifli dan Iblis yang Gagal Menggodanya

Empati semacam ini tentunya merupakan hadiah ilahi dari Allah SWT yang tertanam dalam hati seseorang.

Nabi Yahya AS juga mewakili taqwa dan kerendahan hati. Dia tidak pernah sombong untuk mendurhakai perintah Allah SWT dan selalu berbakti kepada orang tuanya.

Dengan ini, tentu saja Allah SWT memperbolehkan Nabi Yahya AS untuk memberikan nasehat kepada orang-orang tentang berbagai masalah pelik yang dihadapi, kemudian memperingatkan mereka dari ketidaktaatan dan kekafiran, mendorong mereka untuk bertaubat atas segala dosa-dosa mereka, serta membimbing mereka ke jalan kebenaran.


Nabi Yahya Memiliki Sifat Rendah Hati


Nabi Yahya
Kisah Nabi Yahya - SwaraWarta.co.id (Sumber: Pinterest)



Nabi Yahya AS merupakan seorang hamba yang rendah hati yang tunduk kepada semua perintah Allah SWT yang menemukan kedamaian dan ketenangan dalam alam.

Dia sering sengaja tidur di atas gunung, ladang, gua, atau lubang di tanah. Dia bahkan beberapa kali bertemu dengan singa liar dan beruang, akan tetapi tidak pernah sekalipun memperdulikannya, karena tenggelam dalam pujian kepada Tuhannya.

Hewan-hewan liar tersebut mengenali Nabi Yahya AS sebagai Nabi yang peduli terhadap semua makhluk, sehingga mereka pergi dengan menundukkan kepala mereka dengan rasa hormat dan tidak mau menyerangnya.

Ada juga cerita yang menyebutkan tentang Nabi Yahya AS, yang menunjukkan hati yang peka akan ketulusan dalam pengabdian.

Dikatakan bahwa dia sering menangis sehingga air matanya menandai pipinya.

Suatu hari, setelah tidak melihat putranya selama tiga hari, Nabi Zakaria AS pergi mencarinya.

Akhirnya, dia menemukan putranya beristirahat di dalam kuburan yang telah digalinya sendiri.

Dalam cerita lain yang mengharukan disebutkan bahwa Nabi Yahya AS dikatakan duduk sendirian di tepi Sungai Yordan, memandang permukaan air seraya menangis di dalam pengabdiannya kepada Allah SWT.

BACA JUGA: Kisah Nabi Harun dan Keterhubungannya dengan Kisah Nabi Musa AS

Tidak disadari olehnya, orang tuanya, yang telah mencarinya, mendekat dengan diam-diam.

Sang ayah terpesona oleh pengabdian putranya kepada Allah SWT mereka juga terharu sampai menangis.

Peristiwa ini tentu saja menyoroti tema umum dalam hidupnya: kata-katanya begitu menggerakkan sehingga orang-orang tidak ragu tentang kebenaran pesan yang dia sampaikan.

Setiap kali Nabi Yahya AS memanggil kaumnya untuk menyembah Allah SWT, dia membuat mereka menangis dalam cinta dan penghormatan mereka kepada Yang Maha Kuasa.

Para ulama menyatakan bahwa Nabi Yahya AS begitu setia kepada Allah SWT sampai napas terakhirnya.

Mereka juga menyatakan bahwa meskipun ini adalah tindakan ibadah yang diterima selama masa Nabi Yahya AS, disunnahkan bagi umat Islam untuk menikah, sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW.

Nabi Yahya AS, yang sangat disiplin dan hidup dengan tujuan dalam kesendirian, merasa cukup hanya dengan hubungannya dengan Allah SWT.


Nabi Yahya dan Siti Maryam


Dalam tradisi Islam, Maryam dan Isa dikenal sebagai Maryam r.a dan Isa AS, secara berturut-turut.

Memurut pandangan banyak biografer dan sejarawan menyebutkan bahwa ibu Maryam dan ibu Nabi Yahya merupakan dua perempuan yang saling bersaudara.

Hal ini menjadikan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS merupakan seorang sepupu yang seibu.

BACA JUGA: Kisah Nabi Yakub dan Putranya, Nabi Yusuf AS

Ayat-ayat Al-Quran tentang karakter Nabi Isa AS yang memiliki kesamaan dengan ayat-ayat tentang Nabi Yahya AS, terutama dalam ayat 12-15, di mana Allah SWT berbicara tentang keutamaan Yahya.

Baik Nabi Yahya AS maupun Nabi Isa AS menyebutkan berkat tiga kali lipat dari kedamaian — perlindungan ilahi yang ditempatkan oleh Allah SWT pada saat kelahiran, kematian, dan kebangkitan mereka.

Para ulama menafsirkan berkah-berkah ini sebagai berikut: kedamaian saat kelahiran merujuk pada perlindungan dari pengaruh Setan dan kejahatannya, kedamaian saat kematian menunjukkan terbebas dari cobaan kubur, dan kedamaian saat kebangkitan sebagai kebebasan dari ketakutan dan kekhawatiran yang akan menguasai orang lain pada hari itu.

Nabi Yahya Bertemu dengan Nabi Muhammad Saat Peristiwa Isra Mi'raj


Selama perjalanan malam dan peningkatan ke langit pada peristiwa Isra Mi'raj, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan saudara-saudaranya, yakni Nabi Yahya AS dan juga Nabi Isa AS.

Setelah pertemuan Nabi Yahya AS, Nabi Muhammad SAW kemudian melanjutkan perjalanannya ke langit berikutnya, di mana setelahnya beliau bertemu juga dengan beberapa orang nabi lainnya, termasuk Yusuf di langit ketiga, Idris di langit keempat, Harun di langit kelima, Musa di langit keenam, dan Ibrahim di langit ketujuh.

Pada peristiwa inilah lima puluh salat harian awalnya diwajibkan, tetapi setelah serangkaian diskusi dengan Nabi Musa AS dan permohonan kepada Allah SWT berikutnya, kewajiban itu dikurangi menjadi lima salat harian saja.


Herodes Antipas


Nabi Yahya
Kisah Nabi Yahya - SwaraWarta.co.id (Sumber: Pinterest)



Pada satu hari, penguasa Palestina kala itu, Herodes Antipas, seorang raja yang zalim, berencana untuk menikahi keponakannya Salome yang dicintainya.

Ibu Salome dan beberapa orang terpelajar Zion secara terbuka mendorong pernikahan tersebut.

Akan tetapi, Nabi Yahya AS yang mendengar kabar tentang pernikahan yang akan datang tersebut, secara terbuka mengutuk pernikahan tersebut sebagai perbuatan zina, kareja melanggar hukum-hukum Taurat suci.

Salome, ingin naik ke tampuk kekuasaan dan memerintah bersama pamannya, dengan merancang sebuah rencana.

Dia berpakaian menarik dan memikat Herodes dengan tarian yang provokatif. Dia memikatnya, mengarahkannya untuk menjanjikan apa pun yang diinginkannya.

Herodes sangat terpesona oleh Salome, dan menyetujui pinangan tersebut. Nabi Yahya AS ditangkap dan dieksekusi, dan kepalanya diambil untuk dibawa kepada Ratu yang bertabiat buruk tersebut.***


Dapatkan update berita Indonesia terkini 2024 serta info viral terbaru hari ini dari situs SwaraWarta.co.id melalui platform Google News.