Zainul Maarif Mengundurkan Diri dari Unusia Usai Sidang Etik Terkait Pertemuan dengan Presiden Israel

- Redaksi

Sunday, 21 July 2024 - 08:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SwaraWarta.co.id – Dari lanjutan kasus para Nahdliyin yang berangkat ke Israel tempo hari, salah satu pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), yakni Zainul Maarif, harus menjalani sidang etik oleh Mahkamah Etik Pegawai Unusia.

Sidang ini merupakan respons terhadap pertemuan Zainul dengan Presiden Israel, Isaac Herzog, yang dihadiri bersama empat anggota Nahdliyin lainnya.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sidang etik ini dilaksanakan pada 17 Juli 2024, dan Mahkamah Etik Pegawai Unusia menyatakan Zainul bersalah.

Dwi Putri, Kabiro Humas Unusia, mengumumkan pada Sabtu (20/7/2024) bahwa Zainul Maarif dinyatakan terbukti melanggar kode etik dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pegawai Unusia.

Surat pengunduran diri Zainul diterbitkan pada 19 Juli 2024.

Dalam proses sidang tersebut, Mahkamah Etik menyelidiki alasan dan aktivitas Zainul selama di Israel.

Baca Juga :  Makin Eksis, Ini Alasan Rayza Fadilla Memilih Terjun di Dunia Konten

Zainul memberikan keterangan lengkap mengenai semua aktivitasnya, termasuk pemberangkatan, kegiatan selama di Israel, dan setelah kembali ke Indonesia.

Berdasarkan klarifikasi ini, Mahkamah Etik Pegawai Unusia mengambil beberapa kesimpulan penting.

Salah satu kesimpulan utama adalah bahwa kunjungan Zainul Maarif ke Israel adalah undangan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan Unusia.

Namun, Zainul menggunakan atribut Unusia tanpa izin dari pimpinan universitas.

Aktivitas ini diukur dengan sikap Unusia dan memberikan dampak negatif terhadap institusi pendidikan tersebut.

Mahkamah Etik juga menekankan bahwa meskipun tindakan Zainul dapat dianggap sebagai bagian dari kebebasan yang dikemukakannya secara pribadi,

Aktivitas seperti pertemuan, kunjungan, serta unggahan foto dan video di media sosial menunjukkan kurang peka terhadap isu kemanusiaan yang dialami oleh Palestina akibat tindakan Israel.

Aktivitas ini dinilai dapat memberikan kesan bahwa Zainul melegitimasi tindakan rezim Israel terhadap warga Palestina, yang bertentangan dengan sikap resmi Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang mendukung perjuangan Palestina.

Baca Juga :  Ayah Aep dan Ayah Pegi di pertemukan, Begini Tanggapan Mereka.

Selain itu, Zainul Maarif juga diberhentikan dari kepengurusan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.

Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Samsul Maarif, secara tegas mengumumkan pemberhentian Zainul dari jabatannya di lembaga tersebut.

Kasus ini mengundang perhatian luas dan menyoroti pentingnya menjaga integritas dan etika dalam tindakan yang dilakukan oleh anggota dan pengajar dari institusi pendidikan.

Keputusan Mahkamah Etik Unusia ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi seluruh civitas akademika untuk selalu menjaga nilai-nilai dan sikap resmi institusi dalam setiap tindakan pribadi.

Langkah Mahkamah Etik dalam menangani kasus ini juga menunjukkan komitmen Unusia dalam menjaga nama baik dan reputasi institusi.

Baca Juga :  Lembaga Survei Indonesia (LSI) Sebut Prabowo dan Gibran Ungguli Dua Rivalnya

Meskipun setiap individu memiliki kebebasan berpendapat, mereka juga harus mempertimbangkan dampak tindakan mereka terhadap institusi tempat mereka bekerja dan komunitas yang lebih luas.

Kasus Zainul Maarif menjadi contoh nyata bagaimana tindakan pribadi dapat berimplikasi luas dan berdampak signifikan terhadap institusi.

Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota institusi pendidikan untuk selalu mematuhi kode etik dan kebijakan yang telah ditetapkan, serta menghindari tindakan yang dapat merugikan reputasi dan integritas institusi.

Kejadian ini juga mengingatkan pentingnya transparansi dan komunikasi yang baik antara individu dan pimpinan institusi dalam menangani undangan atau kegiatan yang berpotensi inovatif.

Dengan demikian, setiap tindakan dapat dikaji dan disetujui sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan institusi, serta menghindari potensi konflik dan dampak negatif di masa depan.***

Berita Terkait

Berapa Jumlah Fakultas dan Prodi di UBP Karawang? Simak Selengkapnya!
Beli BBM Subsidi Wajib Tunjukkan STNK? Ini Fakta dan Aturan Terbarunya
Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus dan Keluarkan Lava Panas
Keracunan MBG Lasem Rembang: Kronologi 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Diare Massal
JCO Buka Jam Berapa? Ini Jadwal Lengkap dan Tips Berburu Donat Warm & Fresh!
Cara Cek PIP di Kemdikbud go.id Terbaru September 2026
Penyebab dan Kronologi Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Keracunan
Kapan TKA SMA 2026 Dimulai? Ini Jadwal Lengkap yang Perlu Diketahui

Berita Terkait

Saturday, 5 September 2026 - 14:49 WIB

Berapa Jumlah Fakultas dan Prodi di UBP Karawang? Simak Selengkapnya!

Saturday, 5 September 2026 - 10:14 WIB

Beli BBM Subsidi Wajib Tunjukkan STNK? Ini Fakta dan Aturan Terbarunya

Friday, 4 September 2026 - 14:56 WIB

Keracunan MBG Lasem Rembang: Kronologi 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Diare Massal

Friday, 4 September 2026 - 09:31 WIB

JCO Buka Jam Berapa? Ini Jadwal Lengkap dan Tips Berburu Donat Warm & Fresh!

Thursday, 3 September 2026 - 09:38 WIB

Cara Cek PIP di Kemdikbud go.id Terbaru September 2026

Berita Terbaru

Apa Isi Tri Darma Perguruan Tinggi

Pendidikan

Apa Isi Tri Darma Perguruan Tinggi? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Saturday, 5 Sep 2026 - 14:40 WIB

Penyebab Utama Tekanan Darah

Kesehatan

Tensi Rendah Kenapa Bisa Terjadi pada Tubuhmu?

Saturday, 5 Sep 2026 - 14:29 WIB