SwaraWarta.co.id – Januari 2026 menjadi tonggak sejarah pertahanan Indonesia dengan kedatangan gelombang pertama tiga unit jet tempur Rafale F4 dari Prancis.
Pesawat canggih buatan Dassault Aviation ini akan memperkuat Skadron Udara 12 di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, menandai era baru modernisasi alutsista TNI Angkatan Udara.
Acara serah terima resmi (acceptance ceremony) ketiga pesawat dengan nomor registrasi T-0301, T-0302, dan T-0303 telah dilaksanakan di fasilitas Dassault di Bordeaux, Prancis, pada akhir November 2025. Ketiganya adalah varian kursi ganda (twin-seat) yang cocok untuk misi pelatihan dan operasional.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Persiapan Menyambut Kedatangan
Untuk menyambut kedatangan Rafale, TNI AU telah melakukan berbagai persiapan. Pesawat latih Hawk 109/209 milik Skadron Udara 12 telah dipindahkan dari Lanud Roesmin Nurjadin ke Lanud Supadio di Kubu Raya. Pemindahan ini bertujuan untuk memberikan ruang dan fasilitas yang memadai bagi operasional Rafale di pangkalan induk barunya.
Persiapan juga mencakup pembangunan infrastruktur pendukung dan pelatihan intensif bagi personel. Sebanyak empat penerbang dan dua belas teknisi TNI AU telah menjalani pelatihan mendalam di Prancis, mencakup sistem avionik, persenjataan, dan pemeliharaan pesawat. Pelatihan ini memastikan kesiapan penuh dalam mengoperasikan sistem berteknologi tinggi tersebut.
Konteks Strategis dan Masa Depan
Kedatangan Rafale merupakan bagian dari kontrak pengadaan 42 unit pesawat tempur yang ditandatangani pemerintah Indonesia. Pesawat multirole generasi 4.5 ini dilengkapi dengan kemampuan tempur yang mumpuni, termasuk kompatibilitas dengan berbagai persenjataan mutakhir seperti rudal jarak jauh METEOR dan SCALP.
Kerja sama pertahanan dengan Prancis juga berpotensi meluas. Terdapat pembahasan mengenai penambahan 24 unit Rafale lagi, yang akan semakin memperdalam hubungan strategis kedua negara. Selain Rafale, kerja sama ini juga mencakup proyek kapal selam Scorpène dan fregat ringan.
Kedatangan Rafale tak hanya memperkuat postur pertahanan udara nasional, tetapi juga menegaskan komitmen Indonesia dalam modernisasi kekuatan militernya secara profesional. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tangkal dan kredibilitas Indonesia di kawasan.















