SwaraWarta.co.id – Mengapa kita perlu mempelajari teori belajar dalam mengajarkan matematika? Matematika sering kali dianggap sebagai “momok” bagi banyak siswa. Angka, rumus, dan logika abstrak kerap membuat mereka merasa kewalahan.
Di sinilah peran guru menjadi sangat vital. Namun, menguasai materi matematika saja tidak cukup. Muncul pertanyaan penting: mengapa kita perlu mempelajari teori belajar dalam mengajarkan matematika?
Memahami teori belajar ibarat memiliki peta jalan saat menjelajahi hutan belantara. Tanpanya, seorang guru mungkin hanya memberikan instruksi tanpa memahami apakah pesan tersebut benar-benar tersampaikan ke otak siswa.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut adalah alasan utama mengapa teori belajar adalah fondasi dalam pendidikan matematika.
1. Menyesuaikan Materi dengan Tahap Kognitif Siswa
Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Teori perkembangan kognitif, seperti yang dikemukakan oleh Jean Piaget, membantu guru memahami bahwa anak kecil belum bisa berpikir abstrak sepenuhnya.
Dalam matematika, Anda tidak bisa mengajarkan konsep variabel aljabar kepada anak yang masih berada di tahap operasional konkret tanpa alat bantu visual.
Dengan memahami teori ini, guru dapat menyajikan materi yang sesuai dengan kapasitas mental siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan minim rasa frustrasi.
2. Jembatan dari Konkret ke Abstrak
Matematika adalah ilmu yang sangat abstrak. Teori belajar seperti Jerome Bruner menawarkan solusi melalui tahapan Enaktif (fisik), Ikonik (gambar), dan Simbolik (angka/rumus).
- Enaktif: Siswa menggunakan benda nyata (seperti blok) untuk berhitung.
- Ikonik: Siswa mulai melihat gambar atau diagram yang merepresentasikan benda tersebut.
- Simbolik: Siswa akhirnya mampu mengoperasikan angka secara abstrak.
Tanpa memahami urutan ini, guru cenderung langsung melompat ke rumus (simbolik), yang sering kali membuat siswa kehilangan makna di balik angka-angka tersebut.
3. Membangun Pengetahuan Secara Mandiri (Konstruktivisme)
Melalui teori konstruktivisme (Vygotsky), kita belajar bahwa siswa tidak sekadar “menerima” informasi, melainkan “membangun” pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya. Dalam matematika, guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan tantangan di dalam Zone of Proximal Development (ZPD) area di mana siswa dapat memecahkan masalah dengan sedikit bantuan.
Mengapa kita perlu mempelajari teori belajar dalam mengajarkan matematika? Karena mengajar bukan sekadar mentransfer informasi, melainkan memastikan terjadinya proses perubahan perilaku dan pemahaman di dalam diri siswa. Dengan teori belajar, guru dapat merancang strategi yang inklusif, terstruktur, dan mampu menyentuh berbagai gaya belajar siswa.

















