SwaraWarta.co.id – Dunia dikejutkan dengan kabar duka dari Timur Tengah pada hari Minggu, 1 Maret 2026.
Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia, usai serangan dari AS dan Israel yang dilancarkan pada hari sebelumnya.
Konfirmasi ini secara resmi diumumkan oleh televisi pemerintah Iran, IRIB, yang menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam itu gugur sebagai syahid.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabar Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia, usai serangan dari AS dan Israel ini menandai eskalasi dramatis dalam konflik yang telah memanas di kawasan tersebut.
Serangan gabungan yang dinamai “Operation Epic Fury” oleh pihak militer tersebut tidak hanya menghantam infrastruktur strategis, tetapi juga menargetkan kompleks kediaman Khamenei di jantung kota Teheran.
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah mengindikasikan keberhasilan operasi ini, yang kemudian dibenarkan oleh pernyataan resmi dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Kronologi dan Dampak Langsung
Laporan dari berbagai media pemerintah Iran, termasuk Kantor Berita Fars dan Tasnim, menyebutkan bahwa selain Pemimpin Tertinggi, serangan tersebut juga menewaskan sejumlah anggota keluarganya, termasuk putri, menantu, dan cucunya. “Istana Khamenei dilaporkan hancur total dalam serangan pada Sabtu (28/2/2026).
Akibat dari serangan ini, Iran tak hanya kehilangan pemimpinnya. Palang Merah Iran mencatat sedikitnya 201 korban jiwa dan 747 orang luka-luka di berbagai kota seperti Teheran, Isfahan, dan Qom. Sebuah sekolah dasar di selatan Iran juga menjadi salah satu lokasi yang terkena dampak, menewaskan puluhan siswi.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas wafatnya pemimpin yang telah berkuasa sejak 1989 itu, pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta libur nasional selama tujuh hari. Siaran televisi pemerintah kini menampilkan foto Khamenei dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, dan spanduk hitam di sudut layar sebagai simbol duka mendalam.
Respons dan Ketegangan Regional
Pasca tewasnya Khamenei, ketegangan langsung memuncak. Iran dengan cepat melancarkan serangan balasan dengan kode “Janji Setia 4”, menembakkan rudal balistik dan drone ke arah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Ledakan dilaporkan terdengar di Tel Aviv dan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara tetangga. Situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang skala penuh yang dapat melibatkan banyak kekuatan global.
Di tengah krisis, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga dilaporkan telah menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi ekspor minyak dunia, sebagai langkah lanjutan dari eskalasi ini.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat untuk membahas langkah de-eskalasi dan perlindungan warga sipil.
Dengan wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, pertanyaan besar kini mengemuka mengenai siapa yang akan mengambil alih kepemimpinan di Republik Islam Iran dan bagaimana konfigurasi politik serta keamanan di kawasan Timur Tengah ke depannya.
Dunia kini menanti dengan waswas langkah selanjutnya di tengah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini.

















