Pasukan NATO Dikerahkan ke Greenland: Bentuk Solidaritas Hadapi Ambisi Amerika Serikat

- Redaksi

Friday, 16 January 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasukan NATO Dikerahkan ke Greenland

Pasukan NATO Dikerahkan ke Greenland

SwaraWarta.co.id – Pasukan NATO dikerahkan ke Greenland dalam sebuah latihan militer bersama yang bersejarah, sebagai respons langsung terhadap ancaman berulang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berambisi menguasai pulau Arktik otonom milik Denmark tersebut.

Pengerahan pasukan ini, meski dalam jumlah simbolis, menandai momen genting di mana sekutu-sekutu terdekat AS di Eropa merasa perlu untuk menunjukkan dukungan nyata terhadap kedaulatan Denmark dan Greenland.

Latar Belakang Ketegangan: Ambisi AS atas Greenland

Ketegangan memuncak setelah Presiden Trump secara terbuka dan berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengakuisisi Greenland, bahkan dengan paksa jika diperlukan.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Trump beralasan bahwa kepemilikan atas pulau terbesar di dunia itu sangat vital bagi keamanan nasional AS, terutama untuk mendukung sistem pertahanan rudal “Golden Dome” dan mencegah pengaruh Rusia serta China di Arktik.

Baca Juga :  Iran Siapkan Ribuan Rudal Hipersonik Fattah, Ancam Pangkalan Militer AS dan Israel

Pernyataannya bahwa “NATO menjadi jauh lebih tangguh dengan Greenland di tangan AS” justru memicu krisis di dalam aliansi itu sendiri.

Pengerahan Pasukan NATO sebagai Sinyal Politik

Menanggapi tekanan tersebut, Denmark, yang bertanggung jawab atas pertahanan Greenland, mengumumkan peningkatan signifikan kehadiran militernya di wilayah Arktik tersebut.

Langkah ini segera diikuti oleh sejumlah negara anggota NATO Eropa yang mengirimkan personel dalam sebuah misi bernama “Operation Arctic Endurance”.

Jerman mengirim tim pengintai 13 personel, sementara Prancis mengerahkan sekitar 15 prajurit infanteri gunung Swedia, Norwegia, Belanda, dan Finlandia juga turut serta dengan mengirimkan perwira penghubung dan personel dalam jumlah kecil.

Meski jumlahnya tak besar, pengerahan ini penuh makna simbolis. Seperti dilaporkan, misi ini juga mencakup pengibaran bendera Uni Eropa di Greenland sebagai pernyataan solidaritas.

Baca Juga :  TikTok di Ambang Penutupan di AS, Jutaan Pengguna Terancam Kehilangan Akses

Para pejabat Eropa menegaskan bahwa latihan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa keamanan Greenland dapat dijaga melalui kerja sama NATO yang ada, tanpa perlu perubahan kedaulatan paksa.

Penolakan Tegas dari Greenland dan Dampak pada NATO

Pemerintah dan masyarakat Greenland secara tegas menolak ambisi AS. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menyatakan bahwa jika harus memilih, rakyatnya memilih tetap bersama Denmark, NATO, dan Uni Eropa.

Pernyataan serupa datang dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, yang memperingatkan bahwa penggunaan militer AS untuk merebut Greenland akan menandai “akhir dari NATO”.

Ancaman ini nyata karena Pakta Pertahanan Atlantik Utara dibangun di atas prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua, membuat ancaman dari anggota terkuatnya sendiri menjadi paradoks yang berbahaya.

Jalan ke Depan: Diplomasi di Tengah Kebuntuan

Pertemuan tingkat tinggi antara pejabat AS, Denmark, dan Greenland di Washington berakhir dengan “perbedaan mendasar” yang belum terselesaikan.

Baca Juga :  Doa Memohon Berkah dalam Pernikahan: Menghadirkan Kebahagiaan dan Kesucian

Meski kedua pihak setuju membentuk kelompok kerja untuk terus membahas isu teknis, interpretasi mereka berbeda: AS melihatnya sebagai pembicaraan untuk “akuisisi,” sementara Denmark melihatnya sebagai forum untuk mengatasi keprihatinan keamanan AS dengan tetap menghormati kedaulatannya.

Pengerahan pasukan NATO ke Greenland adalah pengingat dramatis bahwa stabilitas aliansi terkuat di dunia sekalipun bisa terguncang.

Krisis ini bukan hanya tentang kepemilikan sebuah pulau Arktik, tetapi ujian nyata terhadap prinsip kedaulatan, solidaritas transatlantik, dan masa depan tatanan keamanan internasional yang telah dibangun selama beberapa dekade.

Dunia kini menunggu, apakah diplomasi dapat mengatasi ambisi unilateral, ataukah ketegangan ini akan semakin mengubah peta aliansi global.

 

Berita Terkait

Gus Kikin Itu Siapa? Simak Rekam Jejak Karier dan Profil Singkatnya!
Berapa Digit Nomor yang Harus Diinput Saat Transaksi PLN Postpaid di Etrans?
Kenapa Gritte Agatha Tidak Boleh Tampil di TV? Begini Kronologi dan Fakta Sebenarnya!
VIRAL ! Surat Pengunduran Diri Wapres Gibran Beredar di Sosmed, Fakta atau Hoaks?
Wagub Kalbar Tegaskan Tidak Ada Tempat bagi Ormas GRIB di Bumi Khatulistiwa
MR DIY Buka Jam Berapa? Ini Jadwal Operasional Terbarunya
Apakah GTA 6 Sudah Rilis? Ini Jawaban dan Tanggal Resminya
Kenapa MBZ Ditutup Hari Ini? Ternyata Ini Penyebab dan Dampaknya bagi Lalu Lintas

Berita Terkait

Monday, 31 August 2026 - 10:04 WIB

Gus Kikin Itu Siapa? Simak Rekam Jejak Karier dan Profil Singkatnya!

Monday, 31 August 2026 - 09:50 WIB

Berapa Digit Nomor yang Harus Diinput Saat Transaksi PLN Postpaid di Etrans?

Monday, 31 August 2026 - 09:30 WIB

Kenapa Gritte Agatha Tidak Boleh Tampil di TV? Begini Kronologi dan Fakta Sebenarnya!

Sunday, 30 August 2026 - 08:44 WIB

VIRAL ! Surat Pengunduran Diri Wapres Gibran Beredar di Sosmed, Fakta atau Hoaks?

Sunday, 30 August 2026 - 08:33 WIB

Wagub Kalbar Tegaskan Tidak Ada Tempat bagi Ormas GRIB di Bumi Khatulistiwa

Berita Terbaru