SwaraWarta.co.id – Berikan informasi terbaru mengenai pembukaan selat Hormuz oleh Iran dan Oman? Iran dan Oman dikabarkan telah mencapai kesepahaman mengenai kerangka awal kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Namun, perlu dicatat bahwa kesepahaman ini bukan berarti pembukaan penuh Selat Hormuz, melainkan pengaturan jalur pelayaran sementara yang bersifat terbatas.
Jalur Pelayaran Baru yang Disepakati
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Iran dan Oman telah menyepakati koordinat geografis rute pelayaran baru di Selat Hormuz. Dalam skema yang dirancang, kapal yang masuk ke Teluk Persia akan menggunakan jalur utara melalui perairan teritorial Iran, sementara kapal yang keluar menuju Laut Arab akan melintasi jalur selatan di perairan Oman.
Jalur tengah selat direncanakan akan dibersihkan dari ranjau laut dalam waktu 30 hari untuk persiapan jangka panjang.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menjelaskan bahwa perundingan intensif telah berlangsung selama lebih dari tiga pekan. Rute baru ini bersifat sementara dan diperkirakan akan berlaku selama dua hingga empat bulan.
Menunggu Persetujuan dan Peran AS
Kesepakatan ini masih memerlukan persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan kemungkinan akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan. Selama masa transisi, tidak akan ada biaya transit atau biaya layanan yang dikenakan kepada kapal yang melintas.
Menariknya, meskipun Iran dan Oman telah mencapai kesepahaman, pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh tetap bergantung pada sikap Amerika Serikat. Juru bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran menegaskan bahwa pembukaan selat memiliki mekanisme tersendiri dan tidak terkait dengan negosiasi Iran-Oman, melainkan bergantung pada penerimaan AS terhadap syarat-syarat yang ditetapkan Tehran.
Latar Belakang dan Dampak
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran kritis yang dilalui sekitar seperlima dari total minyak dan gas alam cair dunia. Iran memperketat kendali atas selat ini pada 28 Februari dengan melarang kapal-kapal milik atau berafiliasi dengan Israel dan AS melintas secara aman, menyusul serangan gabungan kedua negara terhadap wilayah Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran dan Oman “sangat hampir” mencapai persetujuan mengenai laluan perkapalan, namun mengingatkan bahwa pembukaan kembali selat tetap bergantung pada pemenuhan komitmen AS berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad yang ditandatangani pada Juni lalu.
Perkembangan ini menjadi angin segar bagi stabilitas kawasan dan kelancaran pasokan energi global, meskipun masih terdapat sejumlah tantangan teknis dan hukum yang harus diselesaikan sebelum tercapainya mekanisme permanen.

















