Saran Pengamat: Pemerintah Perlu Perinci Program Makan Siang dan Susu Gratis untuk Hindari Dampak Buruk

- Redaksi

Saturday, 17 August 2024 - 18:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SwaraWarta.co.id – Dari kelanjutan program makan siang gratis, pemerintah diimbau untuk merinci teknis pelaksanaan program tersebut dan pemberian susu gratis di bawah pemerintahan presiden terpilih Prabowo Subianto guna menghindari potensi dampak buruk di dalam negeri.

Hal ini disampaikan oleh pengamat sosial dan kebijakan publik, Muhammad Gumarang, melalui keterangan tertulis di Jakarta pada hari Sabtu.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gumarang menekankan pentingnya perincian anggaran untuk program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran tersebut.

Menurutnya, perincian anggaran perlu dilakukan dengan sangat cermat agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menambahkan bahwa pemerintah harus mempertimbangkan anggaran dengan baik dan menetapkan skala prioritas yang jelas agar program dapat berjalan efektif tanpa menimbulkan masalah keuangan.

Gumarang juga menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pendistribusian makanan dan susu, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau.

Baca Juga :  Nike Tanjun: Sepatu Keren untuk Anak-Anak

Dalam pandangannya, pemerintah harus memikirkan secara matang strategi distribusi yang baik dan efektif, khususnya dalam hal pendistribusian bahan pangan.

Ia mengingatkan bahwa kesalahan dalam distribusi bisa menimbulkan masalah serius, terutama jika distribusi tidak merata atau tidak tepat waktu.

Selain itu, Gumarang juga menyoroti rencana pemerintah untuk mengimpor susu, karena produksi dalam negeri dinilai tidak cukup untuk memenuhi permintaan.

Dalam pandangannya, pemerintah perlu berhati-hati dan selektif dalam melakukan impor. Ia mengingatkan bahwa kualitas susu impor, terutama dari negara-negara tertentu, harus diperhatikan dengan seksama.

Gumarang juga menekankan perlunya kehati-hatian dalam memilih negara asal impor, khususnya dari China.

Ia mengingatkan bahwa China memiliki sejarah skandal susu yang terkontaminasi zat kimia melamin.

Baca Juga :  Lolos Verifikasi BSU Tapi Belum Cair, Kemnaker Ungkap Kendalanya Pencairan!

Skandal tersebut mengakibatkan sekitar 300.000 korban terkena berbagai penyakit berbahaya, dengan 54.000 di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit, dan enam bayi meninggal dunia akibat gagal ginjal.

Menurut Gumarang, pemerintah harus lebih selektif terhadap susu impor dari China, baik dari segi kualitas maupun kehalalannya.

Ia juga menyoroti bahwa kualitas pangan dari China saat ini menjadi perhatian serius, terutama setelah ditemukannya produk camilan ilegal asal China yang menyebabkan enam siswa SD di Cidadap I, Kecamatan Sukaraja, mengalami pusing, mual, dan muntah pada Mei lalu.

Gumarang menyatakan bahwa kejadian tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap barang impor di Indonesia.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp71 triliun untuk program makan bergizi gratis, yang merupakan salah satu program prioritas presiden terpilih Prabowo Subianto.

Baca Juga :  Bansos Rp500 Ribu Cair Besok! Pemerintah Pastikan Penyaluran untuk Wilayah dan Kategori Tertentu, Ini Daftarnya

Anggaran ini setara dengan dua persen dari total rencana belanja negara yang mencapai Rp3.613,1 triliun.

Alokasi anggaran yang besar ini menunjukkan betapa pentingnya program tersebut bagi pemerintah,

namun Gumarang mengingatkan bahwa perincian teknis dan pengawasan yang ketat tetap menjadi kunci agar program ini dapat berjalan sukses tanpa menimbulkan masalah baru di masa mendatang.

Dengan berbagai tantangan yang ada, Gumarang berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pelaksanaan program, tetapi juga pada pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan.

Hanya dengan demikian, program makan siang dan susu gratis dapat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi anak-anak yang menjadi sasaran utama program tersebut.***

Berita Terkait

Nikah Siri dan Poligami dalam KUHP Baru: Antara Hukum Pidana dan Kritik MUI
Dokter Richard Lee Jadi Tersangka Kasus Apa? Simak Fakta yang Sebenarnya!
Cara Buat SKCK Secara Online 2026: Panduan Lengkap dan Mudah
Pusat Ikatan Bidan Indonesia: Pilar Penguatan Profesi dan Pelayanan Kebidanan Nasional
Status BLT Kesra 2026: Lanjut atau Berhenti? Ini Penjelasan Resmi
Panduan Lengkap! Cara Daftar PPPK Kemenkumham 2026: Syarat, Formasi, dan Cara Pendaftaran
Pasukan Elite Kolombia Siagakan Diri di Perbatasan Usai Serangan AS ke Venezuela
Info PKH Hari Ini Apakah Sudah Cair 2026? Begini Cara Mengecek Status Penerima!

Berita Terkait

Thursday, 8 January 2026 - 14:31 WIB

Nikah Siri dan Poligami dalam KUHP Baru: Antara Hukum Pidana dan Kritik MUI

Thursday, 8 January 2026 - 10:57 WIB

Dokter Richard Lee Jadi Tersangka Kasus Apa? Simak Fakta yang Sebenarnya!

Wednesday, 7 January 2026 - 14:07 WIB

Cara Buat SKCK Secara Online 2026: Panduan Lengkap dan Mudah

Tuesday, 6 January 2026 - 19:08 WIB

Pusat Ikatan Bidan Indonesia: Pilar Penguatan Profesi dan Pelayanan Kebidanan Nasional

Tuesday, 6 January 2026 - 17:19 WIB

Status BLT Kesra 2026: Lanjut atau Berhenti? Ini Penjelasan Resmi

Berita Terbaru

Langkah-Langkah Cara Tebus Right Issue INET

Ekonomi

Cara Tebus Right Issue INET: Langkah Mudah bagi Investor!

Thursday, 8 Jan 2026 - 14:21 WIB

Doraemon Resmi Berhenti Tayang di RCTI Setelah 35 Tahun

Film

Doraemon Resmi Berhenti Tayang di RCTI Setelah 35 Tahun

Thursday, 8 Jan 2026 - 10:42 WIB