Mengenal Tradis Larungan Kambing Kendhit dan Buceng Alit di Telaga Ngebel

- Redaksi

Saturday, 6 July 2024 - 07:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Larungan Telaga Ngebel

Larungan Telaga Ngebel

 

SwaraWarta.co.id Ponorogo merupakan kabupaten di Jawa Timur yang memiliki beragam budaya. Salah satu budaya yang sangat penting dan hakiki bagi masyarakat Ponorogo adalah tradisi larungan.

Larungan adalah sebuah tradisi yang melibatkan keseluruhan masyarakat setempat, dimana mereka memberikan sesaji kepada leluhur untuk mencari keselamatan bersama-sama.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga:

Sering Ramai Pengunjung, Ini Kisah Mistis di Telaga Ngebel

Biasanya, Larungan dilakukan di Telaga Ngebel, sebuah tempat yang dianggap keramat karena rawan terjadi kecelakaan hingga merenggut korban jiwa.

Legenda Telaga Ngebel Ponorogo

Konon, legenda Telaga Ngebel bermula dari sepasang suami-istri yang memohon kepada dewa agar diberikan keturunan.

Dewa pun mengabulkan permohonan mereka dan memberikan pasangan tersebut keturunan sebuah anak ular naga yang diberi nama Baru Klinting.

Pasangan suami istri tersebut terus berdoa kepada dewa agar anak mereka dapat berubah menjadi manusia seutuhnya. Sampai akhirnya keduanya menemukan petunjuk ketika bertapa di sebuah gua.

Petunjuk itu berbunyi, apabila menginginkan anak mereka berubah menjadi manusia, Baru Klinting harus bertapa dan melingkari tubuhnya di sekeliling Gunung Wilis selama 300 tahun.

Baca Juga :  Diam-Diam Baim Wong Ajukan Cerai: Apa Alasan di Balik Gugatan Talak untuk Paula Verhoeve?

Baca Juga:

Viral! Ini Dia Sosok Shin Tae-youg KW Asal Ponorogo

Setelah hampir 300 tahun berlalu, tubuh Baru Klinting tak kunjung mengalami perubahan. Ia pun menjulurkan lidahnya supaya dapat melingkari Gunung Wilis dengan sempurna.

Namun, usahanya itu berujung sia-sia karena kedua orang tuanya memotong lidahnya dan mengubahnya menjadi tombak.

Baru Klinting tetap melanjutkan pertapaannya, hingga suatu hari masyarakat desa hendak menyelenggarakan hajatan pernikahan untuk anak kepala desa.

Masyarakat desa bergotong royong mencari kayu bakar di hutan. Ketika salah seorang dari mereka memotong kayu, di luar dugaan kayu tersebut mengeluarkan darah. Batangnya juga dipenuhi daging.

Tanpa berpikir panjang, warga desa mengambil daging tersebut dan membagikannya kepada warga desa lainnya.

Setelah dagingnya habis dilahap warga, Baru Klinting berubah menjadi seorang manusia dengan wujud anak kecil.

Baca Juga:

Libur Lebaran, Jumlah Wisatawan di Telaga Ngebel Kian Membludak

Berdasarkan legenda ini, masyarakat di Ponorogo mempercayai bahwa Telaga Ngebel adalah tempat keramat yang harus dijaga dan dihormati.

Oleh karena itu, masyarakat setempat menyelenggarakan tradisi larungan di tempat tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada dewa dan makhluk halus yang berkuasa di sekitar area tersebut.

Baca Juga :  Internasional Theater Platform 2024 Resmi dibuka, Ini Seniman yang Bakal Berkiprah

Tradisi Larungan di Ponorogo

Tradisi larungan sendiri terdiri dari beberapa rangkaian acara, seperti penyembelihan kambing kendhit, tirakatan, kirab, dan puncak perayaan tahun baru Islam atau Suro dengan melarung buceng lanang berupa tumpeng nasi beras merah setinggi dua meter.

Selain itu, juga dimeriahkan dengan pertunjukan tari gambyong, tari bedaya larung, dan jathil (jaranan) pada acara larung siang.

Penyembelihan kambing kendhit dilakukan di pintu masuk Telaga Ngebel. Keempat kaki kambing tersebut nantinya akan dikubur di empat tempat yang telah ditentukan, di mana biasanya tempat tersebut dipercaya sebagai tempat keramat.

Sedangkan bagian lainnya akan dimakan warga. Tersisa darahnya akan ditampung di kuali yang dilapisi kain putih, kemudian dihanyutkan ke muara telaga. Hal ini dipercaya sebagai simbol penguapan hawa nafsu.

Larungan malam biasanya dilaksanakan pada malam satu Suro dengan melarung buceng alit pada malam hari, dan larung pagi yang diadakan tepat tanggal satu Suro.

Sebelum pelaksanaan larung malam, kegiatan diawali dengan menyembelih kambing kendhit ketika hari memasuki siang sebelum malam Suro.

Baca Juga :  Jelaskan Minimal 2 Peran Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar dalam Mengantisipasi Tantangan Globalisasi di Indonesia

Acara dimulai dengan tirakatan yang dilanjutkan dengan dian sewu atau seribu pemuda berjalan kaki mengelilingi telaga dengan membawa obor.

Kegiatan ini dibuka dengan serah terima sesaji, kirab, dan diakhiri dengan kegiatan melarung buceng lanang berupa tumpeng nasi beras merah setinggi dua meter di Telaga Ngebel, sebagai puncak perayaan tahun baru Islam atau Suro.

Baca Juga:

Belum diresmikan, Tribun Telaga Ngebel diserbu Wisatawan

Sedangkan buceng wadon yang terdiri atas buah-buahan dan sayur-sayuran yang didapatkan dari hasil panen warga dipersiapkan untuk warga yang menyaksikan.

Larung siang sendiri dimeriahkan pertunjukan tari gambyong, tari bedaya larung, dan jathil (jaranan).

Acara ini dilakukan sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang dilimpahkan Tuhan dan sebagai upaya untuk terhindar dari bencana di sekitar Telaga Ngebel.

Dalam keseluruhan rangkaian acara tradisi larungan, masyarakat Ponorogo tetap memegang teguh tradisi mereka sebagai sebuah warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Tradisi ini juga menjadi salah satu daya tarik untuk wisatawan yang ingin mengunjungi dan belajar budaya setempat di Ponorogo.

Berita Terkait

Mengapa WhatsApp Menghentikan Dukungan untuk Android Lawas Mulai September 2026? Berikut Ini Alasannya!
Syarat Daftar KAI Lulusan SMA 2026: Panduan Lengkap
Berapa Jumlah Fakultas dan Prodi di UBP Karawang? Simak Selengkapnya!
Beli BBM Subsidi Wajib Tunjukkan STNK? Ini Fakta dan Aturan Terbarunya
Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus dan Keluarkan Lava Panas
Keracunan MBG Lasem Rembang: Kronologi 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Diare Massal
JCO Buka Jam Berapa? Ini Jadwal Lengkap dan Tips Berburu Donat Warm & Fresh!
Cara Cek PIP di Kemdikbud go.id Terbaru September 2026

Berita Terkait

Sunday, 6 September 2026 - 12:07 WIB

Mengapa WhatsApp Menghentikan Dukungan untuk Android Lawas Mulai September 2026? Berikut Ini Alasannya!

Sunday, 6 September 2026 - 11:42 WIB

Syarat Daftar KAI Lulusan SMA 2026: Panduan Lengkap

Saturday, 5 September 2026 - 10:14 WIB

Beli BBM Subsidi Wajib Tunjukkan STNK? Ini Fakta dan Aturan Terbarunya

Saturday, 5 September 2026 - 09:53 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus dan Keluarkan Lava Panas

Friday, 4 September 2026 - 14:56 WIB

Keracunan MBG Lasem Rembang: Kronologi 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Diare Massal

Berita Terbaru

Syarat Daftar KAI Lulusan SMA 2026

Berita

Syarat Daftar KAI Lulusan SMA 2026: Panduan Lengkap

Sunday, 6 Sep 2026 - 11:42 WIB

Kapan PUBG Light Rilis

Teknologi

Kapan PUBG Light Rilis? Semua yang Perlu Kamu Tahu

Sunday, 6 Sep 2026 - 11:25 WIB