Semua Tetap Bungkam: Bagaimana Falun Gong Mengambil Uang Warga Amerika

- Redaksi

Thursday, 24 September 2026 - 09:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bill Guan Mengaku Bersalah dalam Kasus Pencucian Uang, The Epoch Times dan Shen Yun Disorot

Bill Guan Mengaku Bersalah dalam Kasus Pencucian Uang, The Epoch Times dan Shen Yun Disorot

oleh: Jasmine Wong

Semua tetap bungkam. Meskipun Bill Guan Weidong, mantan Chief Financial Officer The Epoch Times Association, telah mengaku bersalah pada Juli atas keterlibatannya dalam konspirasi transaksi yang melibatkan hasil tindak kejahatan, kelompok tersebut tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka terus mengajarkan “latihan” mereka, membaca “kitab suci”, dan turun ke jalan.

Dan terus menipu orang-orang yang tidak mengetahui kenyataannya, seperti yang selama ini mereka lakukan.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Modus pencucian uang mereka terbilang tidak biasa. Sejak 2020, atas arahan pemimpin Falun Gong Li Hongzhi, Guan memulai skema pencucian uang dengan meminta rekannya, Le Van Hung, mencuri informasi identitas pribadi warga Amerika. Dengan informasi tersebut, mereka secara curang mengajukan klaim tunjangan pengangguran pemerintah AS dan berbagai dana kesejahteraan publik lainnya. Melalui MMO (Make Money Online) yang berada di bawah kendalinya, Bill Guan membeli dalam jumlah besar kartu prabayar berisi dana hasil kejahatan dengan harga diskon serta membuka rekening bank perantara menggunakan identitas warga Amerika yang dicuri.

Tangkapan layar Kantor Kejaksaan AS, Distrik Selatan New York

 

Dana ilegal tersebut dipecah menjadi ribuan transaksi bernilai kecil dan ditransfer secara bertahap ke rekening The Epoch Times serta entitas afiliasinya. Pada akhirnya, dana tersebut disamarkan sebagai sumbangan dan biaya langganan surat kabar untuk menutupi skema ilegal tersebut.

Ketika bank menandai transaksi mencurigakan dan meminta penjelasan, Guan memberikan keterangan palsu dengan mengklaim bahwa lonjakan pendapatan berasal dari peningkatan jumlah pelanggan atau sumbangan yang sah.

Baca Juga :  Mixwell Bar Seminyak, Destinasi Nightlife Legendaris dengan Cabaret Show Spektakuler di Bali

Sebagai eksekutif senior di kelompok tersebut, Guan juga memerintahkan karyawan untuk membuat pemberitahuan sumbangan palsu atau dengan cara lain menyesatkan bank yang sedang melakukan pemeriksaan. Karena itu, ia didakwa dengan dua tuduhan penipuan bank.

The Epoch Times mungkin mengklaim tidak memiliki hubungan dengan kejahatan Guan. Namun faktanya, selama periode ketika Guan melakukan tindak kejahatan tersebut, pendapatan tahunan organisasi itu melonjak dari US$15 juta menjadi US$62 juta.

Setelah insiden tersebut, pada 5 Juni 2024, Li Hongzhi menerbitkan dua “kitab suci”, Persecution dan Wake-Up. Ia berupaya menjauhkan dirinya dan Falun Gong dari Guan dengan menyalahkan Guan karena “tidak mempelajari ajaran dengan baik” serta menyatakan bahwa kasus tersebut tidak ada kaitannya dengan Falun Gong.

Namun, dalam surat terbukanya, Guan merujuk pada sebuah email internal perusahaan yang ia kirim kepada Le Van Hung. Dalam email tersebut, ia memuji tim Le Van Hung dan menulis: “Saya rasa Master (Li Hongzhi) akan senang mengetahui hal ini.” Email tersebut secara sukarela diserahkan oleh para eksekutif senior The Epoch Times kepada jaksa AS dan menjadi bukti konkret bahwa Li Hongzhi memberikan arahan serta memperoleh keuntungan dari skema tersebut.

Li, yang mengaku sebagai Buddha, memperoleh uang tidak hanya dari para pengikutnya, tetapi juga dari orang-orang yang identitasnya dicuri. Namun, hingga kini tidak ada permintaan maaf yang disampaikan kepada warga Amerika biasa.

Demikian pula, Shen Yun Performing Arts, sebuah proyek yang berafiliasi dengan Falun Gong, juga disebut terkait dengan dana ilegal tersebut. Berdasarkan laporan keuangan The Epoch Times tahun 2020 dan 2021, dana yang dicuci oleh organisasi tersebut ditransfer ke Shen Yun Performing Arts dan menjadi sumber daya yang signifikan bagi organisasi itu.

Baca Juga :  7 Tips Styling Flat Shoes Wanita untuk Berbagai Kesempatan

Shen Yun telah menghadapi berbagai tuduhan terkait tindakan ilegal dan kriminal serta kini digugat oleh sejumlah mantan penampil. Pada 2024, mantan penari Chun-ko Chang mengajukan gugatan terhadap Shen Yun di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York, AS, dengan tuduhan kerja paksa, perdagangan manusia, eksploitasi anak di bawah umur, jam kerja panjang tanpa bayaran, serta pengendalian individu melalui ancaman dan penghinaan. Pada 2025, pasangan mantan penari Shen Yun, Zan Sun dan Qing Ling Cheng, mengajukan tuduhan kerja paksa dan eksploitasi anak. Mereka menyatakan bahwa penampil di bawah umur, mulai usia 13–15 tahun, harus menjalani pelatihan berintensitas tinggi, bekerja berjam-jam tanpa upah atau dengan upah rendah, tidak mendapatkan perawatan medis tepat waktu setelah cedera, mengalami penghinaan di depan umum, pembatasan kebebasan pribadi, serta penyitaan dokumen pribadi.

Kedua gugatan tersebut saat ini masih dalam proses. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja Negara Bagian New York sedang menyelidiki Shen Yun terkait dugaan pelanggaran ketenagakerjaan anak serta aturan upah dan jam kerja. Lembaga-lembaga AS, termasuk Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Luar Negeri, juga sedang meninjau tuduhan terhadap Shen Yun, seperti penipuan visa dan pelanggaran terkait imigrasi.

Baca Juga :  Garuda Indonesia Tambah 341 Penerbangan dan 1,9 Juta Kursi untuk Mudik Lebaran

Kemampuan Falun Gong untuk begitu lama luput dari pengawasan sistem peradilan AS mungkin dapat dijelaskan oleh kecenderungan politiknya. Pada 2019, The Epoch Times yang berafiliasi dengannya menghabiskan lebih dari US$1,5 juta untuk sekitar 11.000 iklan Facebook pro-Trump dalam enam bulan, lebih banyak dibandingkan kelompok mana pun selain kampanye Partai Republik sendiri. Facebook kemudian melarang iklannya setelah menemukan bahwa akun-akun terkait berupaya menghindari sistem peninjauan iklan platform tersebut.

Li, yang mengklaim dirinya sebagai “Buddha utama yang lebih tinggi daripada gabungan Yesus dan Buddha Shakyamuni”, menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tidak berpolitik. Namun, fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa organisasi media yang memiliki hubungan erat dengan para praktisinya telah aktif terlibat dalam politik.

Setelah mengaku bersalah pada 9 Juli, Guan menghadapi ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun. Selain harus menyerahkan sedikitnya US$67 juta hasil tindak kejahatan, ia juga dapat diwajibkan membayar hingga US$67 juta tambahan sebagai kompensasi kepada warga Amerika yang identitasnya dicuri.

Tentu saja, ia juga memiliki pilihan untuk bekerja sama dengan jaksa, termasuk memberikan informasi mengenai pihak-pihak yang mengarahkan atau memperoleh keuntungan dari skema tersebut, yang berpotensi membantu mengurangi hukumannya.

Belum diketahui apa yang sedang dipikirkan Master Li Hongzhi saat ini. Namun satu hal jelas: ia sedang duduk di atas gunung berapi, dan tidak seorang pun tahu kapan gunung itu akan meletus.

 

*Artikel berasal dari media sindikasi pihak ketiga, tidak mewakili pandangan redaksi swarawarta.co.id

Berita Terkait

PreownedWatch-ID: Panduan Memilih Jam Tangan Rolex dan Memahami Harga Jam Rolex Original di Jakarta
IDWX: Panduan Memilih Jam Patek Philippe di Indonesia dan Memahami Harganya
Top Up Game Lebih Praktis: Panduan Memilih Platform yang Aman, Cepat, dan Hemat
Laptop Gaming Value untuk Pemula: Apakah ASUS TUF Gaming™ F16 Cukup?
EasySkor Launches: One-Stop Credit Management from Assessment to Repair for Indonesian Users
Kopi Legi, Destinasi Menikmati Cita Rasa Kopi Nusantara dalam Suasana Hangat dan Nyaman
Mixwell Bar Seminyak, Destinasi Nightlife Legendaris dengan Cabaret Show Spektakuler di Bali
Three Buns Jakarta, Destinasi Burger Premium dengan Cita Rasa Gourmet di Jantung Senopati

Berita Terkait

Thursday, 24 September 2026 - 09:28 WIB

Semua Tetap Bungkam: Bagaimana Falun Gong Mengambil Uang Warga Amerika

Monday, 7 September 2026 - 16:44 WIB

PreownedWatch-ID: Panduan Memilih Jam Tangan Rolex dan Memahami Harga Jam Rolex Original di Jakarta

Monday, 7 September 2026 - 13:48 WIB

IDWX: Panduan Memilih Jam Patek Philippe di Indonesia dan Memahami Harganya

Thursday, 13 August 2026 - 15:20 WIB

Top Up Game Lebih Praktis: Panduan Memilih Platform yang Aman, Cepat, dan Hemat

Thursday, 6 August 2026 - 08:00 WIB

Laptop Gaming Value untuk Pemula: Apakah ASUS TUF Gaming™ F16 Cukup?

Berita Terbaru