Nama Dyah Laily Fardisa belakangan menjadi perhatian publik setelah kisahnya sebagai pemilik Bolosego ramai diperbincangkan di media sosial. Bisnis kuliner asal Yogyakarta tersebut dikenal dengan berbagai menu bercita rasa pedas, termasuk oseng mercon iga sapi.
Di balik perkembangan Bolosego, terdapat sosok Dyah yang ternyata memiliki latar belakang pendidikan dari bidang politik dan pemerintahan. Ia merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2015.
Menariknya, perjalanan Dyah menjadi pengusaha kuliner tidak dimulai dari bisnis makanan. Bolosego justru lahir ketika pandemi COVID-19 membuat kondisi pekerjaan dan bisnis keluarganya mengalami perubahan.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Siapa Pemilik Bolosego?
Pemilik Bolosego adalah Dyah Laily Fardisa, seorang pengusaha asal Yogyakarta. Sebelum terjun serius ke dunia kuliner, Dyah memiliki pengalaman di bidang digital marketing dan pembuatan konten.
Latar belakang tersebut kemudian menjadi salah satu bekal penting ketika ia mulai membangun Bolosego. Berbeda dengan bisnis kuliner konvensional yang mengandalkan pelanggan datang langsung, sejak awal Bolosego memanfaatkan kanal digital untuk memperkenalkan dan menjual produknya.
Dyah juga membangun bisnis tersebut bersama keluarga dan sejumlah mitra yang memiliki pengalaman dalam produksi makanan.
Menurut berbagai pemberitaan, Bolosego mulai dirintis pada April 2020. Saat itu pandemi membuat banyak aktivitas ekonomi terganggu, termasuk pekerjaan Dyah dan bisnis yang dijalankan suaminya.
Dyah Laily Fardisa Lulusan UGM
Salah satu hal yang menarik perhatian dari profil Dyah adalah latar belakang pendidikannya.
Dyah tercatat sebagai alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM). Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2015.
Bidang studinya juga tidak secara langsung berkaitan dengan kuliner. Dyah tercatat menempuh pendidikan di Departemen Politik dan Pemerintahan.
Sebelum menjadi pengusaha kuliner, ia juga memiliki pengalaman profesional selama beberapa tahun di bidang digital marketing. Pengalaman tersebut kemudian dimanfaatkan dalam mengembangkan pemasaran Bolosego melalui platform digital.
Bagaimana Awal Mula Bolosego?
Bolosego bermula pada masa pandemi tahun 2020. Kondisi saat itu membuat aktivitas ekonomi masyarakat berubah secara drastis.
Dalam pemberitaan sebelumnya, Dyah menjelaskan bahwa salah satu alasan awal menjalankan usaha adalah mencari aktivitas produktif untuk suaminya. Bisnis undangan pernikahan yang dijalankan sang suami ikut terdampak pandemi.
Dari situ, Dyah kemudian mulai mencari peluang usaha yang dapat dijalankan dalam kondisi pandemi.
Pilihan akhirnya mengarah pada kuliner, khususnya makanan pedas khas Yogyakarta.
Pada tahap awal, usaha tersebut masih dijalankan dalam skala kecil. Dyah bersama keluarga melakukan berbagai pekerjaan sendiri, mulai dari pemasaran hingga pembuatan konten.
Perkembangan bisnis kemudian membuat Bolosego tidak lagi sekadar menjadi usaha rumahan.
Mengapa Memilih Kuliner Oseng Mercon?
Salah satu produk yang membuat Bolosego dikenal adalah oseng mercon iga sapi.
Kuliner bercita rasa pedas tersebut memiliki karakter yang cukup kuat dan mudah dikenali. Bagi bisnis yang mengandalkan pemasaran melalui media sosial, produk dengan tampilan dan karakter rasa yang khas juga memiliki potensi untuk menarik perhatian konsumen.
Pada awal perjalanan bisnis, Dyah juga menggandeng orang-orang yang memiliki pengalaman dalam membuat makanan. Dengan demikian, ia dapat lebih fokus pada sisi pemasaran dan pengembangan bisnis.
Kombinasi antara kemampuan produksi dan strategi pemasaran digital kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan Bolosego.
Bolosego Berkembang dan Membuka Lapangan Kerja
Dari usaha kecil yang bermula saat pandemi, Bolosego kemudian berkembang menjadi bisnis dengan jumlah pekerja yang jauh lebih besar.
Pada 2025, Dyah menyebut Bolosego telah memiliki sekitar 150 pekerja. Sebagian besar tenaga kerja tersebut berasal dari masyarakat sekitar, termasuk perempuan.
Sementara pemberitaan lain pada September 2026 menyebut Bolosego telah menciptakan lebih dari 140 lapangan kerja dan mampu menjual lebih dari seribu porsi makanan per hari. Angka tersebut merupakan data yang diberitakan media dan dapat berubah seiring perkembangan bisnis.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa Bolosego tidak lagi hanya beroperasi sebagai bisnis kuliner rumahan, tetapi telah berkembang menjadi usaha dengan jaringan operasional yang lebih luas.
Mengandalkan Penjualan Digital
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Bolosego adalah strategi pemasaran digital.
Latar belakang Dyah di bidang digital marketing membuat media sosial dan platform perdagangan digital menjadi bagian penting dari perkembangan bisnis.
Dalam salah satu pemberitaan, penjualan melalui kanal digital disebut menjadi salah satu sumber utama pendapatan Bolosego. Bahkan kegiatan live shopping menjadi bagian dari strategi pemasaran produk.
Strategi seperti ini menunjukkan bagaimana bisnis kuliner dapat memanfaatkan media digital bukan hanya sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai kanal penjualan langsung.
Bolosego dan Food Truck di Alun-Alun Kidul Yogyakarta
Nama Dyah Laily Fardisa kembali ramai dibicarakan pada September 2026 setelah ia menceritakan pengalaman Bolosego ketika mencoba berjualan menggunakan food truck di kawasan Alun-Alun Kidul atau Alkid Yogyakarta.
Menurut keterangan Dyah, Bolosego telah memperoleh izin untuk berjualan di lokasi tersebut. Namun, ia kemudian mengaku mendapat sejumlah permintaan pembayaran ketika mulai menjalankan kegiatan usaha.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah permintaan biaya parkir. Pemberitaan mengenai kejadian tersebut menyebut nominal yang awalnya diminta mencapai Rp2,5 juta per hari dan kemudian disebut turun setelah negosiasi.
Karena persoalan tersebut, operasional food truck yang direncanakan selama beberapa hari akhirnya hanya berlangsung satu hari.
Penting dicatat bahwa istilah dugaan pungutan liar dalam pemberitaan tersebut merujuk pada laporan dan keterangan yang masih menjadi bagian dari proses penanganan. Keraton Yogyakarta disebut telah menegaskan bahwa pungutan tersebut bukan bagian dari izin resmi yang diberikan, sementara pihak lain yang terkait dengan pengelolaan parkir juga memberikan keterangan berbeda.
Pada 21 September 2026, media lokal juga memberitakan bahwa Dyah telah dimintai keterangan oleh kepolisian terkait persoalan tersebut.
Dari Lulusan UGM hingga Pengusaha Kuliner
Perjalanan Dyah Laily Fardisa bersama Bolosego memperlihatkan bahwa latar belakang pendidikan tidak selalu harus sama dengan bidang bisnis yang kemudian dijalankan.
Dyah memiliki latar belakang akademik di bidang politik dan pemerintahan. Ia kemudian memperoleh pengalaman profesional di dunia digital marketing sebelum akhirnya membangun usaha kuliner.
Bolosego sendiri lahir dari situasi yang penuh tantangan pada masa pandemi. Dari bisnis kecil yang awalnya dijalankan untuk tetap produktif, usaha tersebut berkembang menjadi bisnis kuliner dengan banyak pekerja dan jaringan penjualan yang lebih luas.
Kisah tersebut juga menunjukkan pentingnya kemampuan beradaptasi dalam menjalankan bisnis. Pemanfaatan pemasaran digital, pengembangan produk, serta keterlibatan masyarakat sekitar menjadi beberapa bagian yang muncul dalam perjalanan Bolosego.
Kesimpulan
Dyah Laily Fardisa merupakan pemilik Bolosego, bisnis kuliner asal Yogyakarta yang mulai dirintis pada 2020. Dyah merupakan alumnus UGM dari bidang Politik dan Pemerintahan dan sebelumnya memiliki pengalaman di dunia digital marketing.
Bolosego yang awalnya dibangun dalam skala kecil saat pandemi kemudian berkembang menjadi bisnis kuliner dengan ratusan pekerja dan jaringan distribusi yang lebih luas.
Namanya kembali menjadi perhatian publik pada September 2026 setelah persoalan food truck Bolosego di Alun-Alun Kidul Yogyakarta ramai di media sosial. Peristiwa tersebut kemudian mendapat perhatian dari sejumlah pihak dan masih menjadi bagian dari proses penanganan yang diberitakan media.
Bagi pembaca yang ingin mengenal sosok di balik Bolosego, perjalanan Dyah menjadi salah satu contoh bagaimana pengalaman digital marketing, kemampuan membaca peluang, dan pengembangan bisnis dapat diterapkan pada industri kuliner.

















