SwaraWarta.co.id – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah video berdurasi 21 detik yang menampilkan dugaan tindakan tidak pantas antara seorang kepala sekolah (kepsek) dan seorang guru di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Video ini pun langsung menjadi perbincangan hangat dan memicu kemarahan warganet.
Kronologi Terbongkarnya Kasus
Peristiwa ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Menurut keterangan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pekalongan, Kholid, dugaan hubungan khusus antara keduanya sudah menjadi pembicaraan di lingkungan sekolah selama kurang lebih enam bulan. Karena kecurigaan yang terus berlanjut, pihak sekolah berinisiatif memasang kamera CCTV tersembunyi untuk membuktikan kebenaran isu tersebut.
Rekaman CCTV berdurasi 21 detik itulah yang kemudian menjadi bukti kuat. Video tersebut akhirnya beredar luas di media sosial seperti Facebook, X, dan TikTok, memicu pencarian tautan oleh warganet yang penasaran. Dindikbud sendiri mengaku telah menerima informasi dan rekaman tersebut sejak awal Agustus 2026 sebelum akhirnya mengambil tindakan tegas.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Sanksi Tegas dari Dinas Pendidikan
Menindaklanjuti beredarnya video tersebut, Dindikbud Kabupaten Pekalongan bergerak cepat. Kholid menegaskan bahwa pihaknya telah menangani kasus ini secara kedinasan dan kepegawaian. Oknum kepala sekolah langsung dicopot dari jabatannya dan ditempatkan dalam status nonjob di lingkungan Dinas Pendidikan.
Sementara itu, oknum guru perempuan yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) telah dipindahkan ke sekolah lain yang lokasinya cukup jauh dari sekolah sebelumnya.
Meski begitu, sanksi lanjutan masih menunggu keputusan dari Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, apakah akan diturunkan jabatannya satu tingkat atau sanksi lainnya.
Reaksi Netizen dan Peringatan Phishing
Viralnya video ini menuai beragam reaksi dari netizen. Banyak yang mempertanyakan moral para pendidik yang seharusnya menjadi teladan. Komentar seperti “Seorang pendidik tidak bermoral mengajarkan moral” hingga desakan agar keduanya diberhentikan pun membanjiri kolom komentar.
Di sisi lain, ramainya pencarian video ini juga dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Warganet diimbau untuk waspada terhadap tautan palsu atau phishing yang mengklaim menyediakan video lengkap. Tautan semacam itu berpotensi mencuri data pribadi atau mengarahkan pengguna ke situs berbahaya.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa integritas dan moralitas adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap tenaga pendidik. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan layak bagi anak-anak, bukan lokasi untuk perilaku yang melanggar etika.

















