SwaraWarta.co.id – Bagaimana kecerdikan nu’aim bin mas’ud berperan dalam membantu kemenangan kaum muslimin pada perang khandaq?
Perang Khandaq (Ahzab) menjadi salah satu momen paling krusial dalam sejarah Islam. Pada tahun 5 Hijriah, kota Madina dikepung oleh pasukan koalisi kafir Quraisy, suku Ghatafan, dan pengkhianatan dari dalam oleh suku Yahudi Bani Quraizhah.
Di tengah situasi yang kian terdesak, kecerdikan seorang sahabat bernama Nu’aim bin Mas’ud RA hadir sebagai kunci pembalik keadaan yang sangat menentukan.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Masuk Islam di Tengah Kepungan Musuh
Nu’aim bin Mas’ud berasal dari suku Ghatafan, salah satu komponen utama pasukan sekutu penyerang Madinah. Secara mengejutkan, di tengah kecamuk perang, ia memeluk Islam secara diam-diam dan menemui Rasulullah SAW.
Ketika Nu’aim bertanya bagaimana ia bisa membantu, Rasulullah SAW memberikan arahan strategis: “Engkau hanyalah seorang diri di antara kami. Maka, pecah belahkanlah musuh jika engkau mampu, karena perang adalah tipu daya (taktik).”
Taktik Perang Saraf Memecah Belah Koalisi
Memanfaatkan posisinya yang belum diketahui telah masuk Islam, Nu’aim merancang strategi perang psikologis untuk merusak kepercayaan antar kubu musuh.
- Mendatangi Bani Quraizhah: Nu’aim mengingatkan suku Yahudi ini bahwa jika Quraisy dan Ghatafan kalah lalu mundur, mereka akan ditinggalkan sendirian menghadapi umat Islam. Ia menyarankan agar Bani Quraizhah meminta beberapa tokoh penting Quraisy sebagai jaminan sebelum mulai menyerang.
- Mendatangi Quraisy dan Ghatafan: Selanjutnya, Nu’aim mendatangi pimpinan Quraisy (Abu Sufyan) dan Ghatafan. Ia membocorkan “rahasia” bahwa Bani Quraizhah menyesal telah mengkhianati Nabi Muhammad SAW dan berencana menyerahkan tokoh-tokoh Quraisy untuk dieksekusi sebagai bentuk penebusan dosa.
Runtuhnya Aliansi Musuh dari Dalam
Siasat ini berhasil sepenuhnya. Ketika Bani Quraizhah meminta jaminan sandera sesuai saran Nu’aim, Abu Sufyan dan pimpinan Ghatafan langsung mempercayai peringatan Nu’aim. Rasa saling curiga melingkupi internal musuh, menyebabkan kerja sama koalisi lumpuh total tanpa perlu adanya pertumpahan darah besar di medan tempur.
Ketegangan internal ini semakin diperparah dengan hadirnya angin kencang dan cuaca dingin ekstrem yang dikirimkan Allah SWT. Pasukan gabungan tersebut akhirnya menderita krisis kepercayaan parah dan memilih untuk membubarkan barisan serta membatalkan pengepungan.
Pelajaran Penting dari Perang Khandaq
Kisah Nu’aim bin Mas’ud membuktikan bahwa kemenangan perang tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan senjata, melainkan juga oleh kejelian strategi, intelijen, dan kecerdasan komunikasi. Kecerdikan satu orang yang ditempatkan pada posisi dan momentum yang tepat mampu meruntuhkan aliansi puluhan ribu pasukan musuh.

















