SwaraWarta.co.id – Pemandangan mengerikan menyelimuti ibu kota Iran, Teheran, di mana kilang minyak Iran terbakar hebat setelah menjadi target serangan militer.
Kobaran api dan gumpalan asap hitam pekat membubung tinggi, mengakibatkan langit kota berubah gelap gulita bagaikan malam hari di tengah waktu siang.
Insiden dramatis ini dipicu oleh serangan udara yang dilancarkan pada Sabtu (7/3/2026). Sejumlah fasilitas vital menjadi sasaran, termasuk depot minyak di daerah Kohak, Shahran, dan Karaj. Saksi mata melaporkan bagaimana minyak dari depot Shahran bocor dan mengalir hingga ke jalan-jalan umum, memperparah situasi di lokasi kejadian.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya itu, fasilitas penyimpanan lainnya seperti gudang minyak Aghdasieh di timur laut Teheran juga ikut terbakar, memaksa otoritas setempat mengerahkan tim pemadam untuk menjinakkan si jago merah.
Dampak dari kebakaran ini tidak berhenti pada kerusakan fisik. Ledakan di kilang melepaskan polutan berbahaya dalam jumlah masif ke atmosfer, termasuk hidrokarbon beracun, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida. Bulan Sabit Merah Iran segera mengeluarkan peringatan darurat kepada penduduk mengenai bahaya “hujan asam tingkat tinggi” yang melanda.
Zat beracun di udara bercampur dengan uap air dan jatuh kembali sebagai presipitasi korosif, atau yang disebut warga sebagai “hujan hitam”.
Warga diimbau untuk tetap di dalam rumah, menutup rapat jendela, dan tidak menggunakan pendingin ruangan guna menghindari risiko kesehatan seperti kerusakan paru-paru dan iritasi pernapasan.
Serangan yang memicu kilang minyak Iran terbakar ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Menariknya, langkah militer ini dikabarkan memicu ketegangan diplomatik. Presiden AS dilaporkan marah karena serangan tersebut dinilai melampaui kesepakatan awal. Kekhawatiran utama AS adalah dampak ekonomi global, di mana kehancuran infrastruktur minyak Iran dapat memicu kepanikan pasar dan melonjakkan harga minyak dunia hingga lebih dari US$200 per barel.
Di tengah krisis, otoritas Iran berusaha meyakinkan publik bahwa meskipun terjadi kebakaran hebat, stok bahan bakar nasional masih aman dan distribusi akan dinormalisasi secara bertahap.
Peristiwa ini menjadi pengingat nyata bagaimana konflik bersenjata tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memicu bencana lingkungan akut yang mengancam kesehatan jutaan warga sipil untuk waktu yang lama.















