BMKG Ungkap Penyebab Tanah Bergerak di Mamuju Tengah: Getaran Ekskavator Jadi Pemicu

- Redaksi

Tuesday, 5 November 2024 - 20:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SwaraWarta.co.id – Disebutkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengungkapkan bahwa peristiwa tanah bergerak atau likuifaksi yang terjadi di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat (Sulbar), bukan disebabkan oleh gempa bumi seperti yang mungkin diperkirakan banyak orang.

Berdasarkan analisis BMKG, getaran dari alat berat, seperti ekskavator yang beroperasi di lokasi tersebut, diduga menjadi pemicu utama terjadinya fenomena ini.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jamroni, Kepala Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, menyatakan bahwa sebelum peristiwa likuifaksi terjadi, tidak terdeteksi adanya aktivitas seismik atau gempa bumi di wilayah itu.

Kondisi ini menguatkan dugaan bahwa fenomena pergerakan tanah tersebut lebih mungkin terjadi karena getaran dari aktivitas alat berat, bukan akibat gempa bumi.

Jamroni menambahkan bahwa karakteristik lokasi turut berperan dalam mempengaruhi terjadinya likuifaksi.

Baca Juga :  Strategi Bank Indonesia untuk Akselerasi UMKM Go Digital

Di lokasi tersebut, diduga air tanah berada pada kedalaman yang cukup dangkal. Ketika ekskavator bekerja dan menciptakan getaran, air tanah yang dangkal itu berpotensi berubah konsistensi menjadi lebih cair.

Akibatnya, lapisan tanah di atasnya kehilangan daya dukung dan menjadi labil, sehingga pergerakan tanah atau likuifaksi kecil terjadi.

Menurut Jamroni, likuifaksi umumnya terjadi sebagai akibat dari getaran yang disebabkan oleh gempa bumi.

Dalam kasus ini, meskipun peristiwa likuifaksi memang terkonfirmasi terjadi di Mamuju Tengah, skalanya dinilai cukup kecil.

Jamroni menjelaskan bahwa perubahan konsistensi tanah yang menyebabkan tanah bergerak disebabkan oleh peningkatan kadar air di dalam tanah.

Ketika kadar air dalam tanah meningkat hingga jenuh, beban tanah menjadi hilang, dan lapisan tanah tersebut kehilangan kekuatan untuk menopang lapisan di atasnya.

“Tanah yang jenuh oleh air dan bergetar, entah karena gempa bumi atau alat berat seperti ekskavator, bisa berubah menjadi seperti lumpur dan kehilangan kekuatan,” ungkap Jamroni.

Baca Juga :  Tak Ada Foto Jokowi di Ruangan Rakor, PDIP Buka Suara

Kendati skalanya kecil, peristiwa ini tetap perlu diwaspadai karena likuifaksi dapat berdampak pada stabilitas tanah dan konstruksi di sekitar lokasi tersebut.

Jamroni juga menyampaikan bahwa tanah yang jenuh oleh air lebih rentan terhadap likuifaksi, terutama bila ada getaran yang cukup kuat, baik dari gempa maupun alat berat yang sedang beroperasi.

Ia mengingatkan pentingnya mempertimbangkan kondisi tanah dalam melakukan kegiatan konstruksi, terutama di daerah dengan air tanah yang dangkal seperti di Mamuju Tengah ini.

Hal ini diperlukan guna mengantisipasi kemungkinan likuifaksi yang dapat mengganggu kestabilan tanah di sekitarnya.

Menurut pengamatan BMKG, peristiwa likuifaksi di Mamuju Tengah tergolong kecil dibandingkan fenomena serupa yang biasanya terjadi akibat gempa bumi dengan intensitas tinggi.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 4,2 di Garut Rusak Tiga Rumah, Tidak Ada Korban Jiwa

Namun, tetap saja fenomena ini perlu diantisipasi untuk meminimalisir dampak yang mungkin timbul pada area yang terdampak.

Kejadian likuifaksi ini menjadi peringatan bagi masyarakat dan pihak terkait untuk lebih berhati-hati dalam melakukan kegiatan yang melibatkan alat berat di wilayah dengan kondisi air tanah yang dangkal.

BMKG mengingatkan bahwa getaran yang ditimbulkan alat berat seperti ekskavator di lokasi tersebut bisa menjadi faktor yang cukup signifikan dalam menyebabkan perubahan struktur tanah, terutama pada lapisan dengan kandungan air tinggi.

Dengan pemahaman ini, BMKG berharap agar pihak-pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi di wilayah tersebut dapat melakukan tindakan pencegahan,

seperti menyesuaikan metode operasional alat berat dan memperhatikan kondisi tanah sebelum melakukan pekerjaan, agar fenomena serupa tidak terjadi lagi.***

Berita Terkait

Jadwal Penukaran Uang Baru 2026: Syarat, Lokasi, dan Cara Pesan via PINTAR BI
BGN Pastikan MBG akan Tetap Beroperasi di Bulan Ramadhan
Pemerintah Siapkan 5.750 Kuota Beasiswa LPDP 2026 untuk Cetak Talenta Unggul
Iran Deklarasi Siap Perang Hadapi Amerika Serikat: Analisis Ketegangan yang Memanas
KESEMPATAN EMAS! PELUANG BESAR CPNS POLHUT Informasi Data Resmi Formasi CPNS Polhut Mulai SMA/SMK, D3, D4 dan S1
JANGAN SAMPAI GUGUR Beberapa Kesalahan Fatal Saat Daftar SSCASN yang Wajib Dihindari Agar tidak Gagal Saat Mendaftar
Butik Emas Makassar: Pilihan Tepat Perhiasan Emas Berkualitas dan Terpercaya
Gerindra Kota Semarang: Peran Aktif dalam Pembangunan dan Aspirasi Masyarakat

Berita Terkait

Monday, 19 January 2026 - 15:31 WIB

Jadwal Penukaran Uang Baru 2026: Syarat, Lokasi, dan Cara Pesan via PINTAR BI

Monday, 19 January 2026 - 10:20 WIB

BGN Pastikan MBG akan Tetap Beroperasi di Bulan Ramadhan

Saturday, 17 January 2026 - 11:05 WIB

Pemerintah Siapkan 5.750 Kuota Beasiswa LPDP 2026 untuk Cetak Talenta Unggul

Saturday, 17 January 2026 - 10:51 WIB

Iran Deklarasi Siap Perang Hadapi Amerika Serikat: Analisis Ketegangan yang Memanas

Friday, 16 January 2026 - 15:47 WIB

KESEMPATAN EMAS! PELUANG BESAR CPNS POLHUT Informasi Data Resmi Formasi CPNS Polhut Mulai SMA/SMK, D3, D4 dan S1

Berita Terbaru

Kapankah Manusia Mulai Mengenal Konsep Uang

Pendidikan

Kapankah Manusia Mulai Mengenal Konsep Uang? Mari Kita Bahas!

Wednesday, 21 Jan 2026 - 07:00 WIB